ahmad baiquni
ahmad baiquni pelajar/mahasiswa

S2 UIN Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pemilu 2019 dan Politik Dinasti

14 Maret 2018   12:05 Diperbarui: 14 Maret 2018   12:11 341 0 0

Rakyat Indonesia akan menggelar perhelatan akbar 5 tahunan yaitu Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden serentak. Ada perbedaan antara perhelatan tahun 2019 dan 2014, pada 5 tahun yang lalu antara pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dalam waktu yang berbeda bahkan partai politik yang boleh mengusung calon presiden dan wakil presiden harus memenuhi ambang batas yang telah ditentukan, berbeda dengan 2019, pemilihan dilakukan serentak dan ambang batas tidak berlaku lagi. Namun, sayangnya calon-calon yang akan maju di pemilihan legislatif dan pemilihan presiden orangnya masih wajah lama bahkan ada yang justru mempopulerkan anaknya untuk dijadikan calon pemimpin bangsa ini sehingga belum kelihatan pemain baru yang mampu bersaing dalam kontestasi tersebut.

Pemilihan secara langsung dengan menggunakan sistem demokrasi dan semboyang "dari rakyat untuk rakyat" pada hakikatnya biar negeri ini tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang saja, namun pada kenyataanya pemimpin partai politik 70% masih mengunakan politik dinasti ada partai yang menguanakan sistem tersebut yang sudah kelihatan yaitu PDIP dan Partai Demokrat, dulu pernah mau dicoba oleh PAN, namun tidak berhasil. 

Begitu pula dengan partai-partai yang lain PKB, Partai Garindra, Partai Nasdem ini sangat berpotensi menggunakan politik dinasti dalam kepemimpinannya, bukti kongkrit sampai hari ini Ketua umumnya belum pernah ada ceritanya regenerasi pada yang lain, mereka hanya menokohkan seseorang saja, satu sisi ini cukup menguntungkan kepada partai tersebut meminimalisir adanya konflik, namun disisi lain ketika tokoh tersebut tumbang, maka bersiap-siaplah partai tersebut akan mati.

Demokrasi di Indonesia memang masih terus berbenah diri sehingga wajar kalau semisalnya masih berlaku politik dinasti sehingga yang mempunyai modal yang besar bisa memenangkan kontestasi pemilihan di tengah-tengah masyarakat kita yang pragmatis, alasan utama keperagmatisan mereka, karena ketika anggota legislatif terpilih dalam pemilu, mereka lupa terhadap janji-janjinya ketika kampanya diwaktu mereka mencalon sebagai calon legislatif (Caleg) sehingga dari sini bisa disimpulkan bahwa Calon Legislatif dan Calon Presiden-pun akan diisi oleh pemain lama yang mereka mempunyai modal yang cukup besar dan jangan berharap calon-calon yang baru bisa memenangkan kontestasi pemilihan kecuali mempunyai modal yang kuat atapun masa yang banyak.

Kita berharap demokrasi Indonesia semakin baik yang awalnya orang-orang memilih karena uang dan berharap pada akhirnya wakil rayat yang ada di DPR serta Capres  dipilih tanpa mengeluarkan modal  yang banyak sehingga mereka akan betul merealisasikan janjinya dan membenahi Negara kita menjadi Negara yang sejahtera dan ekonominya terkuat di dunia.

Ciputat, 14 Maret 2018