Mohon tunggu...
Acep Purqon
Acep Purqon Mohon Tunggu... Dosen ITB

Director of International Office , ITERA (Institut teknologi Sumatera) Chief of Data Science, ITERA (Institut teknologi Sumatera) Collaborative Professor, Kanazawa University, Japan Earth Physics and Complex Systems, Institute of Technology Bandung (ITB)

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Kenapa Startup di Korea Berkembang Sangat Pesat?

8 Juli 2020   08:59 Diperbarui: 8 Juli 2020   09:20 328 2 0 Mohon Tunggu...

Negeri ginseng yang saat ini digandrungi kawula mudanya terutama karena drakor (drama korea) dan K-Pop ini, juga sangat mengesankan pada perkembangan teknologinya. Perusahaan-perusahaan berkembang sangat pesat. Tidak terkecuali perusahaan rintisan (Startup).

Tentu semuanya tidak ujug-ujug terjadi begitu saja. Salah satu yang menarik adalah regulasinya yang ramah terhadap para startup dan inovatornya. Banyak hal yang bisa dibahas dari negeri ini. Salah satunya adalah berjalannya sistem dan regulasi penjaminan atau modal ventura (venture capital) untuk para startup ini. Bagaimana tidak ramah, karena bermodal ide saja, mereka bisa mendapat suntikan dana awal yang cukup besar dan bervariasi sesuai kebutuhan misal ada yang 2 milyar rupiah dll. Tentunya dengan beberapa catatan proses feedback dan improvement lainnya. Di lain kesempatan saya ingin cerita tentang KAIST, kampus yang digelari ranking no 6 di dunia untuk kategori The World's Most Innovative Universities versi Reuters.

Salah satu contohnya sistem pendukungnya adalah KODIT (Korea Credit Guarantee Fund) dan saya berkesempatan berkunjung ke kantor pusat KODIT ini untuk mencoba belajar memahami business model dan business process-nya. Karena ada kaitannya sebagai salah satu pendukung Global Innovator di Korea.

Tentu kita belajar ke seseorang kalau orang tersebut punya success story-nya. Dari sini saya bisa mendapatkan informasi berbagai startup company yang bermula dari nol menuju global.  Salah satu kisah suksesnya adalah film animasi terkenal untuk anak-anak yaitu Pororo.

Saya juga mendapat kesempatan berkunjung ke perusahaan-perusahaan yang boleh dikatakan From Zero to Hero. Misalnya kisah sukses lain yang saya kunjungi salah satunya adalah Hanjung (Part mobil listrik). Saya bertemu dengan CEO-nya dan beliau cerita bahwa di tahun  2012, dia mendapat fasilitas KODIT untuk mendirikan startup. Dengan usaha keras, maka dalam kurun 7 tahun dia menghasilkan 70 patent (artinya per tahun 10 patent). Dengan 30 peneliti (researcher). Sekarang berkembang pesat dan bisa dibayangkan dengan strategi investasi R&D 50 Milyar rupiah dapat revenue 1,3 Trilyun rupiah.

Bagaimana urutan supply chain dalam teknologi di Korea berjalan sangat baik. Dimulai dari penelitian, lalu penelitian tersebut mencoba menjawab tantangan problem apa yang berkembang saat ini. Lalu dari hasil penelitian tersebut menghasilkan invensi dalam bentuk puluhan patent

Proses patent di Korea Selatan juga berkembang sangat baik dengan adanya TTO (Transfer Technology Office) yang dikelola dengan sangat profesional. Saya coba cerita ini di lain kesempatan dan bagaimana business model-nya. Lalu dengan patent itulah tercipta berbagai produk kompetitif dan bisa masuk ke pasar global.

Bisa dibayangkan, startup dengan sekitar 30-an peneliti ini mampu mendapat revenue sekitar 1,3 trilyun rupiah dalam jangka waktu 7 tahun dengan 70 patent. Tentu dalam prosesnya tidak sesederhana itu dan saya pun tidak bermaksud menyederhanakan masalah. Misal tidak selamanya inovasi dan invensi ini dapat dikomersialkan. Namun ada tips dari CEO ini bahwa dia mempunyai rumus setiap inovasi 10 produk dapat 2 produk masuk pasar dan komersial (rumus 20%, sepertinya rumus menarik dan ajaib juga yang saya dapatkan dari para kolega saya di Stanford University).

Sistem ini memungkinkan kolaborasi yang menguntungkan semua pihak. Bank tidak perlu terlalu banyak survey dan assesment apalagi tanya-tanya punya jaminan apa, dan juga tidak selalu punya kualifikasi melihat visi yang ada di kepala para startup ini. Sebagian pekerjaan ini dipercayakan ke KODIT yang bekerjasama dengan para ahli, praktisi dan juga kampus. Jadi yang diuntungkan 3 pihak ini, yaitu startup, KODIT, dan tentunya Bank juga. 

Dampak lain juga tentunya konsumen bisa mendapatkan produk bagus dengan harga semakin terjangkau. Oiya, KODIT juga memungkinkan untuk mendanai overseas joint-company. Saya lagi ingin mencoba kerjasama antar mahasiswa saya dan partner di Korea yang punya para mahasiswa Korea berbakat lainnya. Selama ini yang saya lakukan adalah inbound dan outbond lebih ke akademik dan ingin menyentuh kerjasama industri. Ini juga saya simpan cerita di kesempatan berikutnya.

Saya kira sistem penjaminan ini sangat menarik jika diadopsi oleh Indonesia untuk mendukung sektor riil terutama juga untuk kasus di Indonesia adalah industri kreatif. Ketakutan likuiditas yang berdampak inflasi atau tidak terkontrol semacam krisis moneter sebenarnya korea juga merasakan ketakutan itu. Tapi mereka ambil resiko itu dengan perhitungan cermat supaya mengurangi resiko gagal. Karena walau bagaimana pun untuk long term, sektor ril jauh lebih penting apalagi percepatan inovasi. SDM kita tidak kalah dengan berbagai negara lain. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN