Mohon tunggu...
Abuya IrfanRahman
Abuya IrfanRahman Mohon Tunggu... Owner Sekolah Alam Dharmasraya

Nama : Irfan Rahman, Lc TTL : Tj. Barulak, 05 Februari 1986 Pendidikan : - TK Aisyiah Bustanul Anfal - SDN 26 Balai Baru - MTsN Tanjung Barulak - MAPK Koto Baru Padang Panjang - Universitas Al-Azhar Cairo Mesir Alamat : Jorong Lambau Nagari Sungai Kambut Kec. Pulau Punjung - Kabupaten Dharmasraya - Provinsi Sumatera Barat Share !

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Cerita Rakyat Dharmasraya - Legenda Terbaliknya Batu Penjemuran Emas

21 Mei 2019   09:45 Diperbarui: 21 Mei 2019   10:02 0 1 0 Mohon Tunggu...

 Oleh : Abuya Irfan Rahman

Owner Sekolah Alam Dharmasraya

Ditepian sungai Batang Hari dikawasan Nagari Sungai Kambuik hiduplah seorang perempuan tua yang sangat sakti. Namanya Inyiak Kalombai. Kesaktian Inyiak Kalombai tersohor hingga pelosok negeri. 

Konon kabarnya apabila Inyiak Kalombai ingin bercocok tanam di sawah, maka cangkul yang digunakannya bisa bekerja sendiri. Dan apabila ia ingin membuka lahan untuk ladang pertanian, maka parang dan kapaknya bisa menebang pohon sendiri. Serta semua hewan yang ada di hutan kala itu tunduk dibawah perintahnya. Tak heran jika semua orang di Nagari Sungai Kambuik hormat dan segan kepada Inyiak Kalombai karena kesaktian yang dimilikinya.

Selain bertani, Inyiak Kalombai lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari emas di sungai. Ia mencari emas didasar sungai disekitar rumahnya. Disana terkenal dengan kawasan yang banyak terdapat emas. Awalnya pasir yang ada didasar sungai diambil, lalu dipisahkan dengan menggunakan Jae . 

Alat yang berbentuk seperti nampan bulat yang terbuat dari kayu. Apabila emas dan pasir sudah terpisah, maka emas mentah itu dimasukan kedalam tempat yang benama Baladi Biawak. 

Sebelum emas mentah itu dijual ke pasar Pulau Punjung, terlebih dahulu Inyiak Kalombai menjemur emas miliknya diatas batu lebar yang terletak dipinggir sungai dekat rumahnya. Untuk mencapai pasar Pulau Punjung Inyiak Kalombai harus menggunakan sampan hingga ke Pelayangan. 

Namun tidak seperti orang kebanyakan, Inyiak Kolombai tak perlu capek-capek menggayuh sampan miliknya. Sebab aliran air sungai Batang Hari seolah-olah patuh padanya.

 Ketika Inyiak Kalombai ingin berlayar ke hilir kearah Pelayangan, maka air yang mengalir ke hilir akan deras dan Inyiak Kalombai akan cepat sampai ditujuan. Dan apabila ia ingin kembali lagi ke Sungai Kambuik yang terletak dihulu sungai, maka air yang harusnya mengalir dari hulu ke hilir kini berubah arah dari hilir ke hulu. Itulah Inyiak Kalombai dengan segala kesaktiannya.

Suatu ketika, Inyiak Kalombai ingin mencari emas disekitar rumahnya. Seperti biasa setelah memberi makan kucing dan kuda kesayangannya, ia turuni sungai dengan membawa peralatan lengkap. Tangan kanannya memegang Jae dan tangan kirinya membawa Baladi Biawak, tempat menyimpan emas. Air sungai yang sejuk membuat tubuhnya kedinginan jika berlama-lama didalam sungai. 

Untuk mencari satu cangkir emas, Inyiak Kalombai menghabiskan waktu dari pagi hingga matahari tepat berada diatas kepala sebelum waktu makan siang tiba. Hari itu Inyiak Kalombai sangat beruntung. Ia mendapatkan emas lebih banyak daripada biasanya. 

Sebelum beranjak pulang, emas itu harus dijemur diatas batu dibawah terik matahari selama tiga jam hingga kering. Setelah itu barulah emas itu dijual ke pandai emas di pasar Pulau Punjung.

Inyiak kalombai sibuk menggelar emas basah di atas batu berukuran empat kali tiga meter. Diatas batu itu sudah ada tikar dari daun nipah yang dianyamnya sendiri untuk alas penjemur emas. Sementara matahari kian mengganas diatas kepalanya. 

Panasnya yang terik membuat kulit Inyiak kalombai terasa perih. Perutnya mulai keroncongan. Sambil mejemur emas ia istirahat sejenak dan mengganti baju yang sudah basah. Lalu ia duduk di pelataran didepan rumahnya. 

Matanya memandang kearah sungai. Emas yang masih basah terlihat mengkilat dan bercahaya diterpa sinar matahari. Inyiak Kalombai tersenyum. Ia merasa sangat puas untuk hari ini. Terbayang olehnya, bahwa emas yang sudah diapatkannya minggu ini sangat banyak. Hari ini hari sabtu, esok ia akan menjualnya ke Pulau Punjung.

Sambil menunggu emas benar-benar kering, Inyiak Kalombai memasak nasi untuk bekal makan malam. Matahari mulai beranjak keperaduan maghrib. Awan yang tadinya berwarna putih kini memikul beban hitam. 

Tak lama lagi hujan akan turun. Emas yang dijemur tadi sudah kering dan siap untuk diambil. Inyiak Kalombai tak mau menyia-nyiakan waktu. Ia berjalan menuju bibir sungai dengan hati yang riang. 

Tangannya memegang kain berwarna hitam untuk membungkus emas. Ketika kakinya melangkah ke dalam sungai, tiba tiba angin kencang menghadang. Petir mulai berteriak di sela-sela awan. Kilat menyambar membelah gelap. Awan pun tak kuasa menawan beban. Akhirnya hujan mulai menetes menuruni tangga langit.

Hati Inyiak Kalombai berkecamuk menyaksikan alam yang tak bersahabat. Ia percepat langkahnya menuju batu yang berjarak satu meter dari pinggir sungai. Tangan kanannya merengkuh sisi tikar yang digunakan untuk menjemur emas. 

Tiba-tiba air bergelombang dan angin semakin kencang. Hujan makin lebat. Badaipun tak terbendung. Tikar yang terletak diatas batu tersibak oleh angin yang sedang mengamuk. Emas milik Inyiak Kalombai berserakan kedalam sungai. Hatinya marah bercampur sedih. 

Amarahnya menyala dari dalam dada. Ia tatap langit mencari keadilan. Jantungnya semakin berdegup kencang. Nafasnya tak beraturan. Tangannya kuat mengepal jari-jarinya. Urat aliran darahnya semakin kelihatan dari kulitnya yang sudah mulai keriput. Ia sangat marah dan tak menerima kenyataan ini.

Inyiak Kalombai mengamuk. Batu tempat menjemur emas ia tendang dengan sekuat tenaga. Dengan kesaktiannya batu yang lebar itu melayang di udara hingga jatuh ketengah sungai dalam keadaan terbalik. 

Bagian bawah batu sekarang menjadi diatas, namun sisinya tak selebar sisi yang digunakan Inyiak Kalombai untuk menjemur emas. Kemarahannya tak berhenti disitu saja, nasi yang sedang ia masak ditumpahkan. Air nasi yang sedang mendidih meleleh hingga ke pinggir sungai dan menjadi anak sungai. 

Periuk nasi ia lempar ketengah sungai dan dikutuknya menjadi batu. Kucing dan kuda kesayangannyapun menjadi korban kutukan. Peralatan untuk mencari emas ia tendang hingga terjungkal kepinggir sungai dan menjadi batu.

Sore itu juga Inyiak Kalombai pergi meninggalkan rumahnya menuju tanah seberang. Ia berlayar hingga ke muara sungai. Sebelum berangkat ia mengajak semua hewan untuk ikut dengannya. 

Namun entah mengapa, hewan yang awal mulanya tunduk kepadanya kini menjadi pembangkang dan hengkang meninggalkan Inyiak Kalombai. Hanya tiga ekor hewan yang tersisa yaitu singa, sapi dan kerbau. 

Sang singa ikut berangkat dengan Inyiak Kalombai. Sapi dan kerbau yang waktu itu masih liar enggan untuk pergi. Sehingga Inyiak Kalombai menyumpahi keduanya dengan mengatakan akan diperbudak dan hidungnya akan dipasang tali oleh manusia. Iapun bertolak ke Tanah Seberang ditemani Sang Singa meninggalkan kawasan lumbung emas Nagari Sungai Kambuik.

Kawasan yang ditinggalkan Inyiak Kalombai itu hingga saat ini diakui semua orang banyak terdapat emas. Namun tak seorangpun yang berani mencari emas disana. Karena diyakini ada penunggu dan penjaganya dari golongan jin yang menyerupai ikan besar seperti predator. Bagi yang berani mencari emas disana pasti akan berjumpa dengan ikan predator itu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2