Mohon tunggu...
Emir Yunus
Emir Yunus Mohon Tunggu... Muslim; seorang anak, suami, sekaligus ayah.

Hanya seorang murid yang belajar di sekolah kehidupan; berharap lulus dengan nilai bagus.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tentang Takdir

10 Maret 2020   16:20 Diperbarui: 10 Maret 2020   16:59 97 0 0 Mohon Tunggu...

Barangkali hal yang paling banyak menyesatkan orang adalah "takdir". Takdir banyak disalahpahami oleh kebanyakan orang, ke kanan salah, ke kiri pun salah. Harus pas di tengah. Dan dalam hal ini, kita tidak akan bisa di pertengahan, kecuali dengan belajar.

Kelompok pertama yang kebablasan dalam masalah takdir adalah qadariyah. Mereka berkeyakinan bahwa Allah tidak "ikut campur" dalam perbuatan hamba. Jadi apa yang akan kita lakukan, itu 100% kehendak kita. Allah tidak bisa memaksa kita melakukan A atau B. Allah juga tidak tahu apa yang akan kita lakukan. Allah hanya Maha Tahu setelah kita melakukan sesuatu.

Parah ga? Parah banget! Padahal, Allah Maha Tahu segala sesuatu. Allah Tahu apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, bahkan Allah tahu yang mustahil terjadi. Bahkan jika yang mustahil itu terjadi, apa yang akan terjadi, Allah pun Tahu. Segalanya Allah Tahu. Dan segalanya Allah "kehendaki" dan telah Allah tulis di Lauhul Mahfudz, 50.000 tahun sebelum dunia diciptakan.

Kelompok kedua, yang juga kebablasan dalam masalah takdir adalah Jabariyah. Sebaliknya, Jabariyah meyakini bahwa Allah memaksa seluruh makhluknya untuk berbuat ini dan itu. Jadi kita tinggal "duduk manis" aja, semua yang akan kita lakukan, yang menimpa kita sudah diatur oleh Allah, pasti akan kejadian. Jadi kita terpaksa banget. Gabisa ngapa-ngapain lagi. Nantinya mau gimana, udah terserah aja. Pasrah bongkokan pokoknya. Udah. Gitu aja.

Lah kalau gitu ngapain kita makan, kalau ditakdirkan kenyang, ntar juga kenyang sendiri, dong ?"

Ini juga parah. Menuduh Allah memaksa hamba-hambaNya dengan tanpa sama sekali memberi kesempatan dan pilihan-pilihan. Padahal, jelas nyata, fakta, bahwa kita punya pilihan. Kita mau baca tulisan ini atau tidak itu terserah kita. Ga ada yang paksa kan ? Ga ada mata kita tiba-tiba melek sendiri, baca kalimat demi kalimat padahal kita ga mau, tapi mata kita terus melotot gabisa kita kendalikan ?? Kan enggak. Jadi kelompok kedua ini pun jelas ngaco.

Terus yang bener gimana .. ?

Yang bener adalah Ahlus Sunnah. Mereka meyakini bahwa Allah Maha Tahu & Allah Maha Berkehendak, takdir telah tertulis dari A sampai Z sejak dahulu kala. Te.ta.pi, kan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ! Jadi, lakukan saja yang terbaik !

Dan faktanya kita "bebas berkehendak" mau ke kanan atau ke kiri. Mau lurus apa belok. Mau yang baik apa yang buruk. Mau yang bener apa yang salah. Semua "terserah kita".

Karena kita pun tidak tahu, apa yang akan terjadi (walaupun sudah ditulis), kalau kita memang pengen ke depannya baik, ya kita harus berbuat baik. Kalau mau masuk Surga, ya harus beramal penduduk Surga.

Ada yang aneh ? Kan Allah sudah tulis A sampai Z, termasuk apa yg akan kita lakukan kan ? Tapi faktanya kita juga bebas berkehendak mau ngapain aja ? Kok kayak bertentangan, gitu ??

Tidak bertentangan! Kita bebas melakukan apapun, tetapi apa yang akhirnya kita lakukan itu, itulah yang telah tertulis di catatan takdir. Itulah "hebatnya" Allah. Allah Maha mampu melakukan segala sesuatu, termasuk menggabungkan dua hal yang seolah bertentangan di mata manusia. Mudah bagi Allah.

Dan Allah Maha Adil. Barangsiapa berbuat baik, Allah pasti akan balas dengan kebaikan.

***

Konsekuensi dari keimanan yg benar atas takdir ini adalah :

1) Jika kita mendapatkan nikmat, maka kita tidak boleh sombong bahwa itu adalah hasil usaha kita semata, seperti Qarun & Qadariyah (kelompok pertama).

Tetapi kita meyakini bahwa nikmat itu adalah atas takdir Alllah, karunia dari Allah.

2) Jika kita telah melakukan dosa maksiat di masa lalu, maka kita tidak bisa menyalahkan takdir, seperti pemikiran / keyakinan kelompok kedua (Jabariyah).

Tetapi itu adalah karena kesalahan kita. Karena kita melakukannya secara sadar atas kehendak kita. Maka, kita bertaubat dan memperbaiki diri.

***

Seorang pencuri mendebat 'Umar (yg saat itu menjadi Khalifah)..

"Bukankah aku mencuri karena takdir Allah ?!"

'Umar pun menjawab,

"Iya, dan aku pun memotong tanganmu atas takdir Allah.

'Umar mengajarkan kepada kita tentang takdir, sekaligus mengajarkan bahwa kita tidak bisa menyalahkan takdir.

**

Fudhail bin Iyadh berkata, "Perbaikilah sisa umurmu, maka Allah akan memperbaiki umurmu yang telah berlalu (mengampuni kesalahan-kesalahanmu)."[]

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x