Mohon tunggu...
Abdul Rahim
Abdul Rahim Mohon Tunggu...

Sehari-hari menikmati hawa segar udara Palangisang, sebuah desa di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Memiliki hobi membudidayakan lebah madu, untuk itu sangat tertarik menerapkan filosofi kebaikan lebah madu dalam kehidupan sehari-hari – termasuk kehidupan berdemokrasi. Tertantang untuk berbagi pengalaman tentang sistem dan perubahan pola perilaku. Selalu berupaya menerapkan pola pikir global namun bertindak lokal.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dongeng si Otan yang Berorientasi Reproduksi Budaya

12 Maret 2017   10:33 Diperbarui: 13 Maret 2017   07:42 508 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dongeng si Otan yang Berorientasi Reproduksi Budaya
Saya (kanan) berfoto bersama pak Bugi (Pencerita)|Dokumentasi Bugi Sumirat

Tanggal 4 Maret lalu, Komite Sekolah SDN 18 Palangisang, Kabupaten Bulukumba mengundang seorang pendongeng/pencerita yang berdomisili di Makassar, yaitu Pak Bugi (Bugi Kabul Sumirat) untuk bercerita atau mendongeng di hadapan para siswa. Proses bercerita dibagi kedalam dua sesi yang masing-masing sesi berdurasi sekitar 45 menit. Sesi pertama untuk kelas 1 sampai kelas 3 sedangkan sesi kedua bagi kelas 4 dan kelas 5.

Topik bercerita yang dipilih oleh pak Bugi adalah tentang Peduli Lingkungan Sekitar. Dalam bercerita, pak Bugi ‘didampingi’ oleh seekor Orang Utan (boneka tangan) yang berukuran cukup besar yang menggunakan lengan kirinya untuk menggerakkan mulut si Otan. Dengan cara demikian, si Otan menjadi seekor Orang Utan yang dapat berbicara, dapat bercerita secara interaktif, dapat menyanyi dan menari/bergoyang bersama anak-anak audiensnya itu. Sehingga anak-anak menjadi sangat aktif berpartisipasi, sangat tertarik dan terkesan dengan ‘ulah’ si Otan ini. Hingga di akhir acara, si Otan lebih dikenal dibandingkan dengan pembawanya, yaitu pak Bugi.

Saya sendiri, yang adalah seorang pensiunan PNS, baru kali pertama itu melihat seorang pendongeng/pencerita beraksi. Tidak seperti dugaan awal saya yang mungkin bercerita atau mendongeng adalah ‘perbuatan’ yang monoton dan membosankan, nyatanya tidak. Sangat ‘hidup’ dan para siswa – termasuk saya dan para guru yang menonton, sebetulnya menginginkan agar mendongeng pak Bugi masih bisa diteruskan, karena asyik, menarik, dan banyak hal yang menjadi ‘pesan si Otan’ yang baik dan bermanfaat bagi para siswa tersebut.  

Bukan hanya saat mendongeng berlangsung, keesokan harinya, yang kebetulan adalah hari pasar (di tempat kami, pasar tidak buka setiap hari, tetapi seminggu dua kali), istri dan keluarga yang ke pasarpun mendapat banyak pertanyaan dari para orang tua murid yang kebetulan bertemu di pasar. Mereka mendengar dari anak-anaknya yang pulang dari sekolah yang langsung bercerita bahwa sekolahnya kedatangan seorang pendongeng. Tanggapan yang diberikan oleh para orang tua murid itu sangat positif. Sekolah kami memang belum pernah kedatangan sekalipun seorang pendongeng dan belum pernah melihat bagaimana seorag pendongeng bercerita/beraksi. Sebagai bagian dari Komite Sekolah, tentu kami sangat berbangga mendengar upaya kami mendatangkan seorang pendongeng mendapat apresiasi dari para orang tua murid dan pihak-pihak lain (termasuk reaksi dari para teman-teman facebook keluarga saya yang melihat foto-foto kegiatan mendongeng tersebut). 

Sebelum mendongeng, saya sempat berdiskusi dengan pak Bugi, yang dalam kesehariannya adalah seorang peneliti di Balai Litbang LHK Makassar itu, tentang topik yang akan disampaikan. Rupanya topiknya sudah selaras dengan program yang sedang digadang-gadang oleh SDN 18 Palangisang ini, yaitu 18 karakter yang diharapkan dapat selaras dengan gagasan ‘Revolusi Mental’-nya pak Joko Widodo, Presiden RI.

Wah, kok sepertinya jauh sekali, hingga ke Revolusi Mental? Sebetulnya tidak juga karena banyak cara mendukung keniscayaan tentang pentingnya Revolusi Mental itu, salah satunya adalah melalui dongeng atau cerita yang diharapkan dapat membentuk pola pikir yang lebih baik bagi anak-anak/peserta kegiatan mendongeng tersebut.

Sayapun meyakini bahwa Revolusi Mental perlu didukung dengan Revolusi Intelektual (yang logis) plus terintegrasinya dua jenis revolusi lain, yaitu Revolusi Fisikal dan Spritual, sehingga terbentuklah tiga dimensi ‘ilahiah’ yang sebetulnya sejak semula sudah tidak terpisahkan – yaitu rasio, mental-spiritual dan fisikal.  

Ketiga gabungan dimensi Ilahiah itu akan bekerja secara terintegrasi. Bekerja dimensi inilah yang menghasilkan daya cipta yang disebut dengan kreativitas yang akan melahirkan budaya-budaya, kebudayaan dan produk-produk turunannya. Dimana diharapkan akan terjadi perubahan yang kontinyu, progresif dan positif yang kelak dapat berperanan sebagai dasar dari proses berkebudayaan itu sendiri.

Pemahaman di atas, oleh Komite Sekolah SDN 18 Palangisang, mencoba diejawantahkan kedalam Rencana Pengelolaan Pendidikan (RPP) sekolah dimana sebagai visinya adalah:

“Terwujudnya peserta didik yang beradab, dengan berpegang pada nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Pancasila, melalui system pendidikan Nasional menuju tahun 2025”.

Sementara keseluruhan dari 18 program yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut: Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x