Mohon tunggu...
Abul Muamar
Abul Muamar Mohon Tunggu... Editor dan penulis serabutan.

Editor dan penulis serabutan. Suka menyimak gerak-gerik hewan.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Andai Kahiyang Bukan Anak Presiden dan Bobby Tidak Tajir

8 November 2017   11:22 Diperbarui: 8 November 2017   16:28 1239 0 0 Mohon Tunggu...

Saya sebetulnya malas ngikutin kabar pernikahan anak perempuan Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu dengan pemuda bermarga Nasution bernama Bobby itu. Sampai saya menulis artikel ini pun, malas itu belum hilang. Cuman, gara-gara televisi di ruang tunggu kampus saya menayangkan berita tentang ritual-ritual adat pernikahan mereka selama kira-kira setengah jam selagi saya duduk di situ, kuping saya lama-lama terpaksa menyimak juga.

Itupun nyimaknya gak fokus, ya! Enggak sama sekali! Saya cuma menangkap, bahwa si Nasution itu orang tajir. Si pembawa acara tayangan itu sampai bilang "tajir melintir". Ya, kaya raya, bok! Mendiang bapaknya, Erwin Nasution, dulu pernah menjabat Dirut PTPN IV. Dan ia sendiri, sekarang, adalah seorang direktur perusahaan properti. Dalam hati saya bergumam, "hmm... pantas saja si Kahiyang mau."

Setelah mendengar fakta itu saya penasaran, seperti apa wajah Kahiyang (sumpah, sebelum menulis ini saya belum pernah sekalipun melihat wajahnya!). Rupanya tak cantik (tentu ini penilaian subjektif saya). Biasa-biasa saja. Tapi dia anak presiden. "Simbiosis mutualisme rupanya," batin saya lagi.

Nyinyir saya? Silakan menilai saya begitu. Saya justru mau tanya, andai Kahiyang Ayu bukan anak presiden dan Bobby bukan orang tajir, akankah mereka (mereka berarti termasuk orangtua mereka) saling mau? Saya tak akan menjawab pertanyaan itu. Semoga saja pertanyaan usil ini bisa dipertanyakan oleh salah seorang wartawan yang meliput pernikahan mereka, entah kepada presiden Jokowi atau orangtuanya si Nasution, atau langsung kepada si mempelai. Hitung-hitung biar berita pernikahan mereka tidak monoton sebagaimana pemberitaan pernikahan anak orang-orang penting pada umumnya, yang cuma menampilkan sisi upacara adatnya, kemewahannya, atau kehadiran para tamunya yang didominasi orang-orang penting pula.

Dari menyimak sekilas berita pernikahan Kahiyang-Bobby itu, saya terpantik untuk bertanya, (masih) adakah pernikahan yang pure? Saya pernah beberapa kali menyimak jalan cerita pernikahan beberapa kawan. Tak jarang saya temui yang dasar pernikahannya mengandung "bisnis", entah itu sekadar tuntutan keberimbangan status sosial-ekonomi antara kedua belah pihak, hingga yang memang yang berintikan "proyek" yang akan digarap di masa pascapernikahan. Sebaliknya, saya juga pernah menyaksikan kandasnya hubungan percintaan seorang teman di detik-detik akhir saat ia hendak melamar pacarnya, lantaran orangtua si calon istrinya tidak menyetujui karena tahu ia cuma seorang wartawan dengan gaji murahan.

Terus terang, tanpa bermaksud curcol, saya sendiri juga pernah terhalang oleh hal demikian. Saya, waktu itu saya sudah sarjana, pernah jatuh cinta pada seorang perempuan yang tak sekolahan. Sekadar SMP pun dia tak tamat. Dan lagi, sudahlah tak sekolahan, orangtuanya tak jelas pula keberadaannya. Hampir bisa dibilang gelandangan lah. Bedanya ia bisa bekerja sebagai SPG dan tinggal bersama uwaknya. Lantas saya nekat memperkenalkannya ke orangtua saya.

Bagaimana reaksi orangtua saya? Remuk redamnya hati saya waktu itu, lantaran di hadapan perempuan itu langsung, orangtua saya meminta agar dia keluar dari rumah saya saat itu juga. Saya memang berhasil membunuh kebencian terhadap orangtua saya, tapi sejak saat itu, saya semakin sulit menyukai perempuan tajir atau perempuan berpendidikan tinggi. Saya tahu ini tidak masuk akal, tapi demikianlah adanya. Boleh jadi ini adalah bentuk perlawanan konyol saya terhadap "sistem yang mengharuskan hubungan yang berimbang atau yang menguntungkan", yang telah merenggut orangtua saya sebagai salah satu korbannya. Sekalipun saya tahu, bahwa mungkin orangtua saya hanya bermaksud agar kelak ketika sudah membangun bahtera rumah tangga, saya tidak bakal dihadapkan pada masalah-masalah ekonomi dan sosial. Ya, sekalipun saya sangat tahu itu.

Lalu, kembali pernikahan Kahiyang Ayu-Bobby Nasution. Ketika saya menanyakan pertanyaan di atas tadi, saya sama sekali tidak bermaksud untuk sinis. Saya tidak benci Jokowi. Sama sekali tidak. Saya juga tidak membenci atau anti terhadap hubungan antara orang kaya dengan orang kaya. Lagipula, mungkin saja mereka berdua memang saling mencintai sejak lama. Apalagi mereka sudah berkenalan sejak tahun 2014 semasa kuliah di IPB.

Yang ingin saya tanyakan cuma; adakah pernikahan yang murni itu? Atau, apakah pernikahan yang murni memang tidak pernah ada? Bila kisanak yang membaca ocehan saya ini punya jawaban bijaksana, saya akan simak dengan sebaik-baiknya...

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x