Mohon tunggu...
A.R Moes
A.R Moes Mohon Tunggu...

Cogito Ergo Sum

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Anarkisme adalah Kekerasan?

5 Mei 2019   10:10 Diperbarui: 5 Mei 2019   10:38 543 0 0 Mohon Tunggu...

Tanyalah kepada diri kita sendiri apakah dalam kehidupan kita sehari-hari ada pemerintah yang membantu di dalamnya? Apakah pemerintah yang memberi kita makan? Ataukah pemerintah yang merawat kita ketika kita sakit? Jika kita tidak punya pekerjaan apakah pemerintah yang akan mencarikan pekerjaan untuk kita ataukah kita sendiri yang berusaha mencarinya? Tentu saja semua itu harus kita lakukan sendiri atau kita bisa meminta bantuan kepada orang lain. 

Meminta bantuan kepada pemerintah? Belum tentu mereka berkenan menolong, adapun bila mereka memberikan bantuan, bantuan tersebut tidaklah menyelesaikan akar permasalahan yang ada. Justru ketidakadilan dan kemiskinan harus tetap dipertahankan supaya rakyat kecil yang jumlahnya banyak akan selalu bergantung pada bantuan pemerintah, dengan begitu pemerintah akan selalu memiliki alasan rasional untuk tetap eksis yaitu dengan alasan untuk mensejahterakan rakyat.

Kemisikinan dan ketidakadilan akan dipandang sebagai sebuah keniscayaan bagi mereka yang malas dan tidak beruntung itulah propaganda kapitalisme yang menginginkan supaya setiap orang saling berkompetisi menjadi yang terkaya diantara yang lain. 

Sehingga mereka akan menghabiskan sepanjang hidup mereka hanya dengan bekerja mencari uang tanpa ada waktu untuk berpikir kritis mencari jawaban atas persoalan yang sedang dialaminya, orang lain, dan rakyat kebanyakan.

Untuk tidak dikatakan apolitis dan apatis usaha paling mentok adalah ikut pemilu, atau sekurang-kurangnya pada waktu senggang jika diperlukan mereka cukup membaca berita di layar gadgetnya dan menelannya mentah-mentah tanpa harus mengkritisinya. Mereka percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh media. 

Seperti contoh yang selalu media katakan bahwa "Anarkisme adalah Kekerasan." bahwa orang-orang berbaju hitam yang merusak fasilitas umum adalah anrko, dan berhenti hanya sampai disitu. Tak mungkin jurnalis media adalah orang yang kurang membaca. 

Jika mereka tak punya waktu untuk membaca buku-buku anarkis setidak-tidaknya mereka pasti bisa melakukan mini riset melalui google apa itu anarkisme. Ataukah mereka memang tidak ingin atau tidak diperbolehkan untuk membahas lebih lanjut apa itu Anarkisme. 

Padahal jika mau menganggap bahwa Anarkisme adalah penyebab kekerasan dan kerusuhan, dengan logika yang sama bisa saja diandaikan bahwa Islam adalah penyebab terorisme. Jika logika seperti ini yang digunakan, sangat sia-sia sekali anda sekolah.

Mengenai kekerasan, sadar atau tidak semua orang pernah menggunakan kekerasan. Memaksa, mengancam, merampas, itulah sedikit contoh kekerasan. Bahkan negara pun melakukan itu. Contoh yang paling segar diingatan kita. polisi yang memukul, menendang, menelanjangi, dan menggunduli demonstran.

 Apakah itu bukan tindakan kekerasan? Coba pikirkan apakah kalian membenci kekerasan, ataukah sebenarnya kalian memebenci kekerasan yang dilakukan secara ilegal? Kata legal dalam benak kita selalu kita sematkan pada tindakan yang dilakuakn oleh negara dan aparatusnya, dan tentu saja kata ilegal disematkan pada mereka yang dicap sebagai musuh negara. 

Mengapa? Jika polisi dan tni melakukan kekreasan atas nama negara walaupun harus membayar nyawa. Apakah diri kita masih bisa mengatakan bahwa tindakan tersebut adalah benar? Banyak kasus kekerasan yang dilakukan oleh aparat, banyak yang hanya menjadi sejarah ada juga yang diangkat tapi hanya angin lalu semata. Lantas adakah yang bertanya apa ideologi aparat, lalu kemudian menyalahkan ideologinya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x