Abi Permana
Abi Permana

Bertamasya dengan Menulis

Selanjutnya

Tutup

Politik

Yang Muda yang Berpolitik

14 Januari 2018   12:26 Diperbarui: 14 Januari 2018   12:32 292 1 1
Yang Muda yang Berpolitik
foto: Beritagar


Kerap beredar selentingan di ruang publik bahwa politik dan anak muda adalah dua sisi yang saling bersebarangan. Ini disebabkan tak banyak kaum muda yang kemudian mengabdikan dirinya untuk kepentingan yang nyatanya lebih luas dan bermanfaat bagi orang banyak.

Dunia politik yang penuh drama, intrik, dan lobby telah merasuki pikiran anak muda sehingga menjadi malas dan tidak tertarik untuk terjun ke kubangan perpolitikan. Kaum muda yang tengah bergejolak secara psikologis dan mempunyai pemahaman sendiri, membuat mayoritasnya memilih menutup mata dan telinga, serta membuang jauh-jauh niatan untuk berpolitik.

Namun, nyatanya paham itu tidak berlaku pada beberapa nama yang malah memilih banting stir. Terdapat beberapa nama kaum muda yang nyatanya benar-benar terjun ke kebungan dan menikmati lika-liku kehidupan perpolitikan Indonesia.

Jika kita mencoba untuk belajar dari sejarah, para founding fahters Indonesia masih seumur jagung kala memulai menjabat. Soekarno, presiden pertama RI menjabat saat usia 44 tahun. Wakilnya, Moh. Hatta di usia 43 tahun. Presiden kedua Soeharto, menjabat presiden ketika usianya 46 tahun.

Selain itu, jika berkaca pada negara lain, terdapat pula beberapa nama tenar yang ternyata memulai karir ketika usia masih seumur jagung. Tercatat ada Barack Obama yang menjadi Presiden Amerika Serikat pada usia 44 tahun. Lalu, ada Perdana Menteri Estonia, Juri Ratas. Kala itu ia masih berusia 38 tahun. Kemudia ada PM Ukraina, Volodymyr Groysman yang berusia sama dengan Juri. Terkahir, yang paling fenomenal belakangan ini adalah PM Kanada, Justin Trudeau yang menjabat ketika usianya 44 tahun.

Jika ditelaah secara psikologis, usia 40-59 tahun memiliki keterampilan/minat yang memadai di bidangnya, kemampuan/tenaga yang masih kuat dan kemauan kerja yang kuat, sehingga pada masa ini banyak ahli psikologi yang menyebut sebagai "generasi pemimpin". Sedangkan, usia 60 tahun ke atas biasanya akan menuju penyesuaian yang kurang baik dan motivasi mulai rendah.

Nah, setelah ditelaah secara psikologis tentu membuat kita mengerti bahwa dalam usia muda selayaknya seorang harus terjun ke politik. Pada usia tersebut, seseorang bisa lebih produktif dan tentu saja mampu memuluskan jalan ketika menjadi pemimpin.

Jika melihat perkembangan belakangan ini, terdapat beberapa nama politisi muda yang cukup akrab di telinga kita. Di antaranya, ada Karolin Margret Natasa yang berusia 35 tahun, Dedi Mulyadi 46 tahun, Ridwan kamil 46 tahun, Agus Yudhoyono 39 tahun, Anies Baswedan 48 tahun, Emil Dardak 33 tahun, Zumi Zola 37 tahun, dan lain-lain.

Kemudian saya mengurucutkan pada satu nama, yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Mengapa demikian? Menurut saya AHY mempunyai usia yang sangat potensial dengan segenap bekal yang telah ia miliki, sehingga kita patut mengedepankan AHY jika hendak berbicara soal pemimpin muda.

Pasca-kekalahan di Pilkada DKI Jakarta lalu, AHY lantas tak meratap di balik bilik kekalahan. AHY juga mengakui dengan mengikuti Pilkada tersebut menjadi pengalaman berharga dalam hidupnya. Setelah bergelirya di 44 kecamatan di Jakarta dan Kep. Seribu selama tiga bulan, ia mengaku mendapat energi baru dari setiap pertemuannya dengan masyarakat. Energi baru itu yang kemudian membuatnya mantap memilih jalan menjadi politisi.

Sebagai yang pernah mengabdikan diri di militer, AHY juga ditempa menjadi seorang pemimpin. Di militer, setiap anggota ditempa dengan seleksi yang ketat. Pendidikannya pun bukan main-main, haruslah yang terbaik. Sepanjang karir penugasan, anggota militer juga mengikuti aneka pendidikan, yang menempa mental, pikiran, dan jasmani mereka.

AHY juga tak berhenti di situ. Ia didapuk menjadi Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute. Lembaga think thank independen yang bergerak dalam mengkaji isu-isu internasional dan nasional. Melalui lembaga ini, AHY bisa mengimplementasikan keahliannya sebagai ahli strategi. Dari situ pula, ia juga responsif terhadap isu-isu yang berkembang. Bukan tak salah kemudian jika ia sudah punya modal untuk menjadi pemimpin masa depan di negeri ini.

Melalui payung ini pula, AHY melakukan kunjungan ke daerah-dearah di setiap penjuru Indonesia demi menyerap aspirasi dari masyarakat. Ke mana saja ia berkunjung selalu disambut dengan  antusias yang tinggi. Membawa pesan positif bagi generasi muda dan gagasan Indonesia Emas 2045 adalah bukti bahwa AHY membawa sebuah harapan besar. Ia bukan semata-mata bermodalkan paras menawan dan badan tegap. Itu adalah nilai bonus. Yang terpenting adalah isi kepala yang ia bawa, sehingga membuat kehadirannya selalu dinanti di setiap daerah.

AHY juga tak berhenti belajar. Ia menemui sejumlah tokoh penting negeri ini untuk menyerap ilmu dari mereka. Tak hanya belajar, AHY pun menjalin tali silaturahmi dengan para pesaingnya di Pilkada DKI lalu. Menghadiri pelantikan Anies Baswedan dan menjenguk Basuki Tjahaja Purnama di Mako Brimob kala itu. Dari ia kita belajar bahwa persaingan hanya sebatas Pilkada, setelah itu kita bersatu lagi saling mendukung satu sama lain.

AHY selayaknya menjadi panutan bagi setiap anak muda di negeri ini. Ia berani dengan mengambil langkah yang beresiko. Namun, ia tetap komitmen dan sungguh-sungguh menjalani pilihan tersebut demi tujuan yang lebih besar. Nah, dengan modal ia miliki, menurut saya tinggal menunggu waktu saja melihat AHY bisa dikatakan sebagai The Leader.