Mohon tunggu...
Lukmanul Hakim
Lukmanul Hakim Mohon Tunggu... Jurnalis Warga (JW) cbmnews.net, Divisi OSDM Panwascam Larangan, Koord. JW Belik Kab. Pemalang -
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Menulis untuk Perubahan - Jangan Pernah Berhenti untuk Belajar - Selalu Semangat dan Berkarya melalui ide dan gagasan yang dituangkan dalam tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Ramadanku Masa Kecil, "Berburu" Tanda Tangan

22 Mei 2018   15:22 Diperbarui: 22 Mei 2018   17:44 1289
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Masa kecil adalah masa bahagia, bersama teman-teman bermain dan bercanda tawa. Saat itu, belum memikirkan bagaimana mencari uang, kalau mau jajan tinggal meminta saja sama orang tua. Kebahagiaan terpancar saat menjelang dan didalam bulan Ramadhan, alasannya yang penulis pikirkan saat itu karena banyak makanan yang tersaji di bulan Ramadhan. Di Masjid maupun di rumah pun tersedia berbagai jajanan.

Saat itu, sudah dilatih berpuasa meskipun jam 12 siang berbuka dan dilanjutkan puasa lalu berbuka bersama keluaga saat adzan maghrib. Penulis pun mendapat tugas dari Sekolah untuk mengisi buku kegiatan bulan Ramadhan. Yang menarik saat itu dan sudah tidak berulang lagi saat ini adalah meminta tanda tangan kepada mubaligh.

Mengantri tanda tangan

dokpri
dokpri
Masih teringat jelas di benak penulis, pagi-pagi buta usai Sahur menjelang Adzan Subuh berjalan menyusuri jalan kereta api menuju Masjid. Hal ini disebabkan, rumah penulis terletak sekitar jalan kereta api.

Maklum, di tempat tinggal penulis tidak ada Masjid, sehingga bersama kawan-kawan agar dapat tanda tangan kuliah Subuh harus menuju ke Masjid yang ditempuh sekitar 1 KM. Suasana senyap dan udara segar menyapa perjalanan menuju masjid untuk menunaikan Shalat Subuh.

Sampai di Masjid, tepat dikumandangkan  adzan Subuh, dilanjut Iqomat dan melaksanakan Shalat Subuh 2 rokaat. Usai Shalat Subuh tidak langsung pulang, karena justru itulah perburuan kami yang harus mendengarkan ceramah kuliah subuh dengan merangkum materinya.

Uniknya, usai Sholat Subuh tidak bisa langsung meminta tanda tangan, namun harus dikumpulkan dan menuju rumah Kyai yang memberikan ceramah kuliah Subuh. sesampai di rumah sudah banyak yang mengantri untuk mengumpulkan buku kegiatan bulan Ramadhan.

" Wah...Lukman cepet nih dapat tanda tangannya, kan pacarnya anak Kyai", ucap teman penulis berseloroh. Padahal masa itu kelas 4 MI tidak kenal yang namanya pacaran, hanya becandaan saja. Biasa kalau zaman kecil seringkali dipasang-pasangkan oleh teman-teman untuk bahan guyonan saja. Sehingga biasa saja.

Ketahuan Kakinya ada tulisan nama anak Kyai

Hal yang paling lucu sekaligus membuat malu penulis saat itu, saat mengantri meminta tanda tangan di rumah Kyai Penceramah. Candaan teman-teman ternyata juga membuat penulis merasa ada deg deg ser saat bertemu dengan lawan jenis yang dipasang-pasangkan sebagai bahan guyon oleh teman Sekolah. Malamnya, entah ada fikiran apa, telapak kaki penulis ditulis nama perempuan anak Kyai tersebut dengan spidol warna merah. 

Karena lupa, besoknya seperti biasa mengantri di rumah Kyai untuk mendapatkan tanda tangan yang menggunakan stempel, petugas tanda tangan adalah anak kyai tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun