Mohon tunggu...
Sabri Leurima
Sabri Leurima Mohon Tunggu... Ciputat, Indonesia

Sering Dugem di Kemang Jakarta Selatan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Dalam Tungku Kehidupan

11 Desember 2019   20:47 Diperbarui: 11 Desember 2019   21:06 22 0 0 Mohon Tunggu...
Dalam Tungku Kehidupan
IndoPROGRESS

Bencana alam masih berlanjut dalam bayangan ketakutan. Anak-anak kecil semakin terbiasa walau goyangan datang menghadang. Faktanya seperti demikian namun di media sosial, masih banyak warganet mengeluh akan bantuan dan solidaritas birokrasi pusat dan daerah.

Di meja makan tak ada papeda, ikan cakalang, dan sayur tabu-tabu. Semua masih berpuasa ke dapur untuk mengumpul api di dalam tungku. Banyangmu terus menusuk dalam malam rindu, aku memaknainya sebagai narasi kalbu yang tak tidur di atas kasur.

Lalu, seburuk pejabat desa yang berencana jahat untuk menyembunyikan pasokan beras di dalam kandang kambing. Warga turut aktif terlibat dalam aksi demonstrasi. Tidak berlanjut, penegakan hukum selesai. Tapi aku tidak puas dengan keadaan pejabat seperti demikian. Peraturan Daerah Maluku Tengah, tidak terlalu menyentuh akar persoalan antar  marga yang merebut kekuasaan jabatan raja.

Dalam kesempatan yang sama, paras wajahmu menusuk dinding jiwa yang tak bertulang. Aku merasakannya di setiap langkahkan kaki anak-anak, pergi hingga pulang sekolah. Bel sekolah berbarengan bunyi dengan rasa yang aku alami pada surutnya air laut. Dimanakah keterbukaan? Apakah tersembunyi oleh corak baju pejabat yang korupsi? Saya optimis kalau semuanya tidak terkendali.

Jahanam, tidakah semua bisa berfikir apa itu esensi kehidupan? Apa itu saling cinta? Apakah kita semua harus belajar mengenal Tuhan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan terakhir keadilan sosial lagi. Tidak mungkin. Itu pelajaran masa sekolah yang telah kita tanami sejak hari Senin saat upacara bendera.

Faktanya, banyak yang belum paham terkait pelajaran itu. Imbas dari ketidakpahaman, kita gampang di adu domba oleh orang tertentu yang lebih buruk pemahamannya dari kita. Bayangkan di satu daerah kerukunannya sangat harmonis, tiba-tiba rumah terbakar, saling ancam dan berdarah-darah. Siapa biang keroknya.

Cinta semestinya subur pada sanubari senja, agar malam dilalui dengan mimpi kebahagiaan. Tungku api harus tetap menyala untuk menumbuhkan protein bagi kelangsungan hidup umat manusia. Tiuplah, jangan sampai api cinta padam dibawah panci air. Atau, batu penonggak tungku jangan sampai bergeser ke narasi perpecahan. Itu berbahaya bagi anak-anak ketika melihatnya.

Estetis dan logika jungkir balik bukanlah pintu persaudaraan. Seringkali logika demikian dimotori oleh kelompok elitis. Menghancurkan rumah tangga orang, membuat konflik horizontal dan rasa perduli hanya diawal kampanye. Selepas itu masing-masing mengurusi tungku apinya.

Bejat. Aku makin tidak percaya pada sendi-sendi kebaikan yang sesaat. Ironi mengalir dalam setiap ucapan bernada palsu, dibaluti dengan duit tutup mulut dan serangan fajar. Aku tidak pernah ingin menyalahkan masyarakat. Mereka tidak paham soal apa itu politik. Apalagi minimnya edukasi politik probono. Sama saja dengan menghacurkan semua yang telah tertata rapih sejak dahulu.

Bagaimana menurutmu dengan sosial kemasyarakatan kita yang muda terbakar oleh narasi perpecahan? Tanya seorang kawan.

Jawabku simpel. Cukup cinta melebihi kapasitas kuasa. Itu akan lebih baik bila disadari dari seberapa besar donatur mengalirkan uang untuk provokasi masyarakat. Cerita jaman dahulu soal perang dan kematian, tidakah kita semua sadari bahayannya bagi keadaban. Manusia punya akal yang rasional. Bisa menetralisir mana yang baik dan tidaknya. Jangan bersikap seperti setan yang menghasut. Kita itu istimewah dimata sang pencipta. Sadarilah wahai cucunya Adam.

Batu karang diujung tangjung bersinar tajam menghasut pintu hati. Saat itu air laut sedang surut. Ramai sekali perempuan dan anak kecil menancapkan kaki di bibir pantai dengan tombak dan besi panjang 1 meter. Berburu untuk keperluan saja. Jangan berlebih, masih banyak orang disekitar kita. Jangan serakah dan egois.

Ah...ini indah sekali. Aku ingin menetap saja di disini. Membakar kasbi dan colo-colo belimbing. Aduhh, ikan bakar enak sekali. Kangen yang berlebihan. Nostalgia kadang-kadang. Tidak perlu memikirkan harga tiket pesawat yang sedang melonjaknya. Pemerintah itu sedang menghantam rakyatnya. Namun masih banyak yang tidak sadar akan kejadian sebenarnya.

Sudahlah, lupakan kebijakan. Disini kita serba ada. Bukan di kota besar yang banyak kaum miskin kota tapi tidak diperhatikan.

Selama tungku masih menyala kita tidak perlu membabat hutang dan menggali gunung. Toh, ada kayu bakar yang bisa diakses di belakang rumah. Tinggal ambil tanpa embel-embel kontrak kerja, kehidupan akan terus berlanjut. Sungguh luar biasa, mestinya pola ini terbungkus dalam sistem kenegaraan kita. Sejak Kapitalisme menyebar tanpa ampun, dogmatisasi merajalela, manusia di kota sudah seperti robot. Super sibuk milik mereka, takan ada yang tertandingi.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x