Mohon tunggu...
Sabri Leurima
Sabri Leurima Mohon Tunggu... Ciputat, Indonesia

Sering Nongkron Lebelnya Anti Kekerasan

Selanjutnya

Tutup

Novel

Dalam Baileo [Part 4]

13 Agustus 2019   00:15 Diperbarui: 13 Agustus 2019   00:25 0 0 0 Mohon Tunggu...
Dalam Baileo [Part 4]
Sumber: Ig Hadisiuw, Rumah Baileo

Forum bacarita diserahkan kepada kepala pemuda. Anis memberikan kesempatan kepala pemuda untuk menyampaikan unek-uneknya.

Apa yang disampaikan kepala pemuda ternyata sama dengan isi pikiran Anis beserta teman-teman belakangan ini. Bukan bacarita soal gagalnya Pemda Maluku Selatan yang membatasi waktunya demi urusan Jakarta.

"Penting untuk membangun sebuah organisasi pelajar di negeri Mowae. Bapa pikir, bacarita ini arahnya kesana. Anis serta teman-teman saya rasa bisa lakukan itu," ucap Kepala Pemuda dalam forum bacarita itu.

Tersenyum nan bahagia, Anis mendengar dorongan itu. Akhirnya  mimpi mereka menuju maksimal. Tidak terlalu serius dan santai, seduhan kopi dalam ceret plastik dibagikan.

"Ngopi dulu biar otak bisa encer untuk berfikir," canda Mido sambil mengunyah permen karet.

Tak lama kemudian, Mido mencoba melempar isu. "Kalau begitu Ketua organisasi Pelajar Negeri Mowae, Beta saja," kata Mido sambil bercanda.

Tabiat seorang Mido adalah tidak pernah serius dalam forum. Candaan selalu timbul dari dia. bisa dibilang 75% bercanda. 25% seriua, itulah Mido dengan sifatnya.

Kebiasaan yang Mido lakukan dengan tidak sadar membuat Anis, tertarik padanya. Semacam timbul bibit rasa cinta begitu.

"Fokus, fokus, fokus kamong e," Anis menyapa forum yang lagi penuh candaan.

Candaan Mido untuk menjadi ketua ternyata terbukti. Forum sepakat untuk memilihnya. Dengan alasan agar Mido bisa serius. Bapa Kepala Pemuda menyepakati itu juga.

Haaa, "kamong serius ini pilih beta," tanya Mido.

"Iyo, supaya ose punya tanggunjawab to," suara forum secara serentak.

Mido menunduk kepala sejenak sambil menggaruk rambut keritingnya. Ehh bagimana e, beta sebenarnya..

"Tenang, katong samua pilih ose kok Mido," Anis menjawab dengan lajunya.

Organisasi yang dibentuk bernama IPM (Ikatan Pelajar Mowae). Mido secara musyawarah dipilih menjadi ketuanya. Ucapan selamat dan mendarat di tangan Mido.

Rencana bacarita lanjut soal program belum dibahas. Palingan empat hari kedepan. Malam sudah terasan semakin dingin. Jalanan raya sudah sepi dari tongkrongan.

Bacarita next program di skor sementara. Di dalam Baileo telah memutuskan Mido sebagai Ketua IPM. Anis, Nana dan Kepala Pemuda sangat senang, sembari meninggalkan malam yang semakin larut.

Sesampai dirumah Anis tengan ditunggu Ibu/bapaknya. Rojali dan Basir sedang menonton TV. Dari depan pagar lampu depan terlihat padam. Anis tidak sadar kalau besok adalah ulan tahunnya ke 23.

"Tok, tok, tok, ketuk pintu rumah oleh Anis".

"Ibu, ibu, ibu, buka pintu dulun," teriak Anis. Saat itu pukul 23.34 wit.

"Ibu, ibu, teriak Anis dua kali pintu itu akhirnya terbuka. Bapa Anis yang membukannya.

"Ehh bapa sudah pulang," tanya Anis sambil mencium tanganya.

Sudah sayangku," jawab Basir. Itu bapa lagi bawa Ikan Cakalan segar banya. Barusan ibu sudah goreng juga," ungkap Basir lagi.

Mendengar penjelasan bapanya soal ikan segar dan yang sudah digoreng ibunya, Anis cepat-cepat berlari menuju dapur. Anis sangat gemari ikan goreng, apalagi ikannya Cakalan.

Dia kemudian menyeduh nasi hangat yang tergeletak di meja makan. Sambil makan, suprise dilakukan oleh bapa/ibu Anis. Lampu lalu dimatikan sejenak.

"Happy britdday Anis, happy brithday Anis, Happy Brithday, Happy britday, happy brithday Anis," nyanyi Rojali dan Basir. 

"Selamat ulan tahun anakku. Panjang umur selalu. Tetap menjadi anak yang terbaik bagi bapa sama mama," ucap syukur dan selamat kepada Anis.

Anis, sejenak menundukan kepalanya. Keluar air mata kecil dari bola mata indah itu. Lalu berdiri memeluk Ibunya.

Danke banya bu/bapa, menangis lagi. Rojali kemudian memegan kedua Anis. Sambil berkata," kenapa nangis Nis?," tanya Rojali. Kan ini ulan tahun ose to?

Anis memeluk lagi ibunya. Serayak bola mata indah itu terus meneteskan air mata. Malam selarut itu terasa bahagia terbungkus suasana keterharuan.

Dalam hati Anis, kemudian berdoa. "Ya Allah, panjangkanlah umur ibu/bapa beta. Sehatkanlah mereka berdua dan tetaplah membuat khazanah keluarga ini terlihat damai sentosa".

Tak lama kemudian pesan SMS masuk berbunyi di hp Anis. Pesan itu dari Mido yang memberikan selamat ulan tahun juga kepada Anis.

"Selamat ulan tahun Nis, selamat bertambah tua usianya..hehehe.

Anis tersenyum bahagia membaca pesan itu. Ia kemudian membalas pesan mido.

"Danke ee orang paling lucu," balas Anis.

Kemungkinan Mido sudah tidur, balasan pesan dari Anis tidak di respon lagi.  

Tidurlah Anis dengan usianya ke 23. Bantal pangjang ia peluk erat-erat sambil tersenyum tipis.

Hari demi hari dilalu Anis dengam penuh semangat. Orang tuanya selalu merespon apa yang Anis lakukan, asalkan bernada positif.

Sudah seminggu tak ada kabar dari Bapak Hasan. Anis merasa gelisah. Masyarakat Mowae tidak henti-hentinya menanyakan itu kepada Anis bila bertemu dengannya.

Rapat kepanitian segera dilaksanakan kembali. Surat undangan rapat telah ia bagikan ke setiap panitia acara. Sembari terus mengirim SMS kepada bapak Hasan. Namun belum direspon sedikitpun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x