Mohon tunggu...
Sabri Leurima
Sabri Leurima Mohon Tunggu... Ciputat, Indonesia

Sering Dugem di Kemang Jakarta Selatan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Stigma Ganda bagi Perempuan Perokok

8 Juni 2019   19:42 Diperbarui: 8 Juni 2019   19:47 223 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Stigma Ganda bagi Perempuan Perokok
olah pribadi

Perempuan perokok sering disudutkan pada stigma negatif, nakal, tidak punya harga diri dan sebagainya. Lingkaran stigma semacam ini tak jauh dari lingkungan sosial masyarakat sekitar. Apalagi perokoknya adalah perempuan berjilbab, sudah pasti stigma ganda akan berkembang. Perokok yang sering identik dengan laki-laki menjadi tabu diucapkan bila hal semacam itu dilakukan oleh perempuan. Kadang kecelakaan berfikir membuat manusia mengikuti putusan moral sosial.

Ya, saya memang adalah orang yang pada awalnya merasa tabu dan kaget melihat perempuan perokok. Karena dikampung asal saya besar dan tumbuh, tidak pernah memandangi realitas seperti itu. Hidup dalam ruang konservatif adalah haram bagi perempuan yang melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan laki-laki. semisal; merokok, keluar malam, tak boleh sekolah tinggi-tinggi, dan berpolitik.

kasus-kasus diatas menjelaskan betapa hancurnya degradasi kebebasan dalam tatanan konservatif. Memang itu agak sulit dipersatukan, butuh proses yang panjang untuk mempertemukan dua paham, "konservatif dan liberal". Pada perkembangannya, jauh setelah arus global berkembang begitu cepat. Anehnya, konservatif masih mengekang perempuan bila keluar dari koridor norma adat atau agama yang dipercayakan.

Spiral stigma terkadang berganda bila temuan kasusnya adalah perempuan. Walau memang tak banyak perokok perempuan, sehingga kecenderungan penjustfikasian dan diskriminasi ganda merapat melebih ucapan moral. Nilai agama adalah jawaban atas pembelaan perempuan terhadap stigma yang diterima. sementara kebebasan seseorang adalah hak individu, namun sering dogma dan stigma mencampuri urusan individu tersebut.

Lalu apa problemnya? Perempuan perokok bermasalah? ataukah kita yang bermasalah? ketiga pertanyaan ini lahir dari banyak argumentasi dan diskusi terkait perokok perempuan. Pada prinsipnya saya tidak mau jauh dalam membahas individu-individu, karena selama dia tidak melanggar hak individu dan kebebasan yang lain. Ya, sah-sah saja. Teman-teman perempuan saya banyak yang perokok dan baik-baik semua orangnya.

Apakah ada literasi sejarah bahwa rokok hanya diciptakan oleh laki-laki, dan perempuan tidak? ataukah ada Undang-Undang  yang baku mengatur soal pelarangan rokok bagi perempuan secara umum dan bukan anak kecil dan perempuan hamil? cepat-cepat kita telusuri ternyata tidak ada satupun. Akan bermasalah bila masyarakat memukul rata, hanya menilai dari satu subjektif. Padahal rokok bukanlah indikator perempuan itu buruk atau tidak. Takutnya bila dibiarkan polanya berkembang menjadi wacana perilaku asusila di masyarakat.

Lalu bila polanya terus seperti ini, bagaimana dengan nasib petani tembakau yang notabennya adalah perempuan, atau para pekerja perempuan di pabrik rokok? semetinya argumentasi yang dibangun harus bermuatan sehingga stigma tidak tersudut pada bagian saja. Dari rokok negara menjadi makmur, walau stigma terhadap perempuan terus tak ada habisnya.

Untuk menjadi manusia yang merdeka itu ternyata begitu sulit. Bahkan laki-laki sendiri harus berbanting tenaga dan banyak meditasinya. Bagaimana dengan perempuan ya? jawabnya: saya rasa cukup untuk kita tidak memberikan stigma buruk terhadap perempuan dengan kebebasan yang dilakukan. apakah karena tergolong kelompok yang lemah kemudian menjadi saran stigmatisasi, bagian ini tidak sama sekali menghargai peradaban, tak menghargai perempuan sebagai ibu bumi.

VIDEO PILIHAN