Abi Hasantoso
Abi Hasantoso

Lahir di Jakarta pada 26 Februari 1967. Berkecimpung di dunia jurnalistik sebagai wartawan Majalah HAI pada 1988 - 1994. Selama bekerja di majalah remaja itu ia sempat meliput konser musik New Kids On The Block di Selandia Baru dan Australia serta Toto dan Kriss Kross di Jepang. Juga menjadi wartawan Indonesia pertama yang meliput NBA All Star Game di Minnesota, AS. Menjadi copywriter di tiga perusahaan periklanan dan menerbitkan buku Namaku Joshua, biografi penyanyi cilik Joshua Suherman, pada 1999. Kini, sembari tetap menulis lepas dan coba jadi blogger juga, Abi bekerja di sebuah perusahaan komunikasi pemasaran.

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Orang Jepang Malah Senang Diserbu Orang Cina

8 September 2018   18:08 Diperbarui: 8 September 2018   22:09 2767 8 5
Orang Jepang Malah Senang Diserbu Orang Cina
Ilustrasi (KOMPAS/WINDORO ADI)

"Jepang terbuka bagi siapa saja. Termasuk wisatawan mancanegara. Turis dari Cina paling royal belanja, bahkan bawa kopor besar ke mana-mana buat menampung barang-barang belanjaan."

Orang-orang Cina menyerbu Jepang hampir tiap hari pada musim liburan atau akhir pekan. Anehnya orang-orang Jepang malah senang.

Bagaimana tidak senang? Sebab orang-orang Cina yang datang ke Jepang membawa banyak uang yang dihabiskan dengan memborong belanjaan di berbagai pusat perbelanjaan di Jepang.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Datang lah ke kawasan wisata bisnis Dotonbori, Osaka. Di sana kita bisa menyaksikan orang-orang Cina lalu-lalang membawa koper-koper besar yang berisi barang-barang belanjaan.

Bayangkan, koper-koper besar! Koper-koper besar berisi pakaian seperti orang mau berangkat ke luar kota naik pesawat, kereta api, atau bus.

Menurut cerita dari beberapa kenalan di Osaka banyak orang Cina yang datang ke Jepang pakai koper lama dan biasanya koper berukuran kecil yang bisa masuk kabin pesawat.

Sesampainya di Jepang, di pusat perbelanjaan, mereka "membuang" koper-koper buluk itu dengan koper baru yang baru saja dibeli di toko-toko tas di Jepang. Koper-koper lama itu biasanya mereka tinggalkan di WC Umum. Kopor-kopor bekas ini sudah menggunung di tempat pembuangan.

Para pemilik toko di Jepang menyambut dengan tangan terbuka serbuan orang-orang Cina. Mereka menganut prinsip pembeli adalah raja.

Turis-turis dari Cina, juga dari negara-negara lainnya, diperlakukan dengan baik. Beberapa petugas di toko bisa berbicara dalam bahasa Cina. Bahkan, ada beberapa orang Cina asli yang dipekerjakan di toko-toko milik orang Jepang, terutama di toko-toko elektronik, jam tangan, dan sepatu.

Jepang menganggap kehadiran orang-orang Cina sebagai berkah dan keberuntungan. Denyut ekonomi Jepang dari sektor wisata dan pusat-pusat perbelanjaan bergerak dan berputar terus dengan kehadiran orang-orang Cina yang menghabiskan banyak uang mereka di sana.

Sementara di Indonesia kehadiran orang-orang Cina dicurigai macam-macam. Ini yang membedakan kita dengan orang-orang Jepang. Kita berpikiran cupet, orang-orang Jepang berpikiran terbuka. Kita masih mengurusi hal remeh-temeh, orang-orang Jepang sudah bikin mesin pembayaran tanpa seorang kasir. Gomen! (*)