Mohon tunggu...
Inin Nastain
Inin Nastain Mohon Tunggu... lainnya -

Nikotin, Kafein, http://atsarku.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

[Dibaliksecangkirkopi] Asia dan Eropa Memang Beda

12 Mei 2015   13:03 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:07 233 2 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

[caption id="attachment_383231" align="alignnone" width="600" caption="sumber: http://blog.kompasiana.com/2015/05/08/blog-competition-ceritamu-bersama-secangkir-kopi-743655.html"][/caption]

Satu nama, sejuta cerita, sepertinya layak disandingkan untuk sebuah kosa kata bernama kopi ini. Cerita inspiratif, lucu, menggelora, unik bisa muncul dari secangkir minuman yang berasal dari biji-bijian ini. Dari beberapa jenis cerita itu, beberapa bulan lalu saya dapet cerita unik tentang fenomena kopi. Saat itu, Saya gaya-gayaan nyeruput kopi luwak di daerah Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Sambil asyik nyeruput kopi, saya coba ngobrol ngalor-ngidul sama salah satu karyawan di sana. Nah dari obrolan itu, ada hal unik yang saya dapet perihal kebiasaan orang-orang dalam menyeruput kopi. Kata si Akang karyawan, kita bisa mengenali asal negara seseorang hanya dilihat dari gaya mereka menikmati kopi. ‘Kok bisa?’ tanya saya ke si Akang.

Usut punya usut, selama bergelut di kedai Kopi Luwak, si Akang tadi rupanya diam-diam memerhatikan gaya pengunjung yang datang, khususnya pengunjung dari manca negara. Setelah diam-diam memerhatikan, sampai lah si Akang pada suatu kesimpulan yang unik, bahwa ada perbedaan yang cukup mencolok antara orang Asia dengan orang Eropa dalam hal menyeruput kopi.

Perbedaan pertama terletak pada racikan kopi yang mereka nikmati. Seperti pada umumnya kedai kopi kebanyakan, di sana tamu hanya akan disuguhi air kopi item saja, kopi panas, tanpa ada gula. Bener-bener kopi murni. Nah, untuk gulanya sendiri, itu sudah disediakan di masing-masing meja, atau dikasih bareng sama kopi, tapi dalam bentuk kemasan. Itu karena tiap-tiap tamu mungkin memiliki selera yang berbeda dalam menikmati kopi, ada yang senang kopi manis (seperti kolak), ada yang suka tidak terlalu manis dan ada juga yang seleranya itu kopi pahit, tanpa dicampur dengan gula atau krimer sedikit pun.

Nah, dari cara penyajian itu, maka ketahuan lah bahwa orang Asia dan Eropa ini ada perbedaan dalam menikmati kopi. Orang Asia, selalu pake gula dan atau krimmer untuk setiap secangkir kopi yang akan dinikmatinya. Adapun orang Eropa, ke dua ‘benda’ itu benar-benar dijauhi. Bagi mereka, kopi itu ya pahit. Kalau bikin kopi dicampur dengan gula dan krimmer, itu namanya bukan kopi. Malahan akan mendzolimi kopi (begitu meren anggapan bule-bule dari Eropa ini). Fenomena unik yang baru saya tahu tentang selera peminum kopi dua benua.

Perbedaan antara golongan pecinta kopi dari dua benua itu masih berlanjut. Penikmat kopi sejati sepertinya memang pantas dialamatkan kepada orang-orang dari Eropa ini. Mereka tidak hanya menikmati kopi dengan cara menyeruput (saat masih ada airnya) saja, melainkan juga dengan mencecap. ‘Hwalah-hwalahhh, benar-benar pecinta kopi yang utuh’ pikirku. Ketika air di cangkir sudah habis, mereka melanjutkannya dengan mencecap ampas kopi yang tersisa. Mereka menjadikannya seperti hal nya camilan.. Macam kaya dodol mereun… Kebayang bagaimana pahitnya pan?

[caption id="attachment_383233" align="aligncenter" width="512" caption="Ampas kopi yang masih basah (dok. pribadi)"]

14314104141164044213
14314104141164044213
[/caption]

Itu berbeda dengan orang dari Asia. Selain air kopi mereka taburi dengan gula dan krimmer, mereka pun benar-benar hanya menikmati air kopi (cikopi, kata orang sunda mah) saja. Adapun ampasnya, mereka biarkan tetap menempel cantik di cangkir… Suka ‘oplosan’ yang berair, kayaknya orang Asia mah…

Akhirnya saya manggut-manggut, sambil bilang ‘ooohhhh’ mendengar cerita si Akang tadi.

Obrolan tentang keunikan orang-orang menyeruput kopi itu, untungnya berlangsung sebelum kopi saya diapa-apain, belum dioplos, masih murni kopi hitam. Nah, karena penasaran, saya coba untuk menjadi orang Eropa, menikmati kopi tanpa dioplos dengan apapun. Dan rasanyaaaaa? Mantabbbbbbbbbbbbbb pisannnnn…. Pahit nyaaaaaaaaa… (padahal setiap bikin kopi, saya selalu minimalisir takaran gula).

Tapi apa boleh buat, rasa penasaran saya mengalahkan rasa pahit di cangkirkopi saya. Saya lanjutkan saja dan lama-lama, karena mungkin akhirnya lidah bisa beradaptasi, ya berjalan lancar. Bahkan, di sela-sela pahit, ada rasa asam yang samar (ciri khas kopi luwak, ada rasa sedikit masam sebagai dampak dari proses terciptanya serbuk kopi luwak). Kopi pahit pun habis (sambil diselingi dengan camilan juga, nggak hanya ngopi saja). Lulus ujian pertama syarat menjadi Eropa.. Alhamdulillah…

Lepas dari ujian pertama, ujian ke dua yang merupakan ujian terakhir sudah siap untuk direngkuh, ngunyah ampas kopi non oplosannnnnnnnnn….

Karena merasa PeDe (malahan, tidak sekadar PeDe, tapi ada tambahan ‘pisan’nya. Jadi, ‘PeDe pisan) sudah lulus di ujian tahap awal, saya pun senyum oftimis bakal bisa melewati rintangan ke dua, yang menjadi rintangan terakhir untuk menjadi orang Eropa. Siapa takutttt… Kecillllllll itu mahhhh…

Dan tiba lah waktunya untuk menghadapi ujian itu, ujian yang cukup meningkatkan detak jantung… ‘Happppppppppp’ seperempat sendok ampas kopi meluncur mulus ke dalam mulut ku… Diam sejenak di lidah, tanpa berani menyesap, ada rasa yang benar-benar… benar-benar… ah, benar-benarrrrrrrrrrr…..

Seketika tangan kananku memberikan pertolongan, menggapai botol minuman air bening dan ‘glek, glek, glekk’ Brotowali (di kalangan orang Sunda, ada yang namanya Brotowali, yang punya rasa pahit minta ampun) pun menghilang, meskipun masih ada sisa-sisa terasa di hamparan lidahku…Tangan ku dadah tanda menyerah, dan si Akang Karyawan pun ngikik ketawa….

Tidak apalah… Di balik secangkir kopi, saya menjadi setengah Eropa…. Dan setengahnya lagi, akan saya coba kapan-kapan.. (entah kapan).

[caption id="attachment_383235" align="aligncenter" width="576" caption="begini lah ampas kopi di atas ketika sudah mengering (dok. pribadi)"]

14314104911878792110
14314104911878792110
[/caption]

Begitu lah kopi, selalu banyak cerita yang tersimpan di balik sensasinya…. Asia atau Eropa kah cara Kompasianer menyeruput kopi?

Salam ngopi, salam kopi Indonesia

Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan