Mohon tunggu...
ABDURROFI ABDULLAH AZZAM
ABDURROFI ABDULLAH AZZAM Mohon Tunggu... Intelektual Muda, Cendikiawan Pandai, Dan Cinta Indonesia
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Jangan pernah lelah mencintai Indonesia dan mendukung Indonesia bersama Abdurrofi menjadikan indonesia negara superior di dunia. Email Admin : axelmanajemen@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

PSI Mendukung Politik Dinasti Jokowi

19 Juli 2020   01:19 Diperbarui: 21 Juli 2020   08:06 95 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
PSI Mendukung Politik Dinasti Jokowi
Foto: Gibran meniru gaya memasuki saluran air ala jokowi | Dokumen Politik.com

Partai Solidaritas Indonesia (disingkat PSI) adalah partai politik berhaluan sekali karena tidak mendukung politik dinasti karena politik dinasti telah membunuh sendi-sendi demokrasi. Saatnya rakyat bersama parpol yang masih punya nurani bergerak menolak politik dinasti.

"Justru sebenarnya kan inti dari demokrasi itu kan memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat dari latar belakang apa pun, apakah dia dari kalangan elite atau rakyat biasa supaya bisa berpartisipasi baik sebagai pemilih maupun orang yang dipilih. Dengan lahirnya politik dinasti itu justru mengingkari makna demokrasi itu sendiri," kata Sekjen Partai Solidaritas Indonesia Raja Juli Antoni, Selasa (23/6/2015).[1]

Awal pendirian PSI dengan lantang menentang berbagai bentuk politik dinasti. Namun, belakangan partai ini pula yang ikut lantang menyuarakan dukungan terhadap Putra Jokowi.

PSI telah menjilat ludah sendiri tidak sedikit yang menyorot dukungan terhadap Gibran. Sebab sikap PSI ini dinilai tak sejalan dengan semboyan yang mulanya diusung partai tersebut.

 “Misalnya pura-pura lugu padahal licik, pura-pura peduli padahal bodo amat, atau sifat-sifat yang berbeda 100 derajat di depan maupun di belakang. Bagai Bunglon yang pindah tempat beda sifat. Di sekitar kita kini banyak berseleweran para politisi munafik dengan gaya politik muka dua dan kemunafikan,”kata Hamdani, pada sabtu (6/7/2019).[2]

Foto: PSI menggunakan Politik Bermuka Dua | detik.com
Foto: PSI menggunakan Politik Bermuka Dua | detik.com

Jejak digital sebagai gejala itu mulai terindikasi sebelum masa pencoblosan dilakukan pilwalkot solo. Ciri utama politik kemunafikan adalah mereka bermuka dua, tidak konsisten pada pilihan awal pendirian partai, hanya mementingkan diri sendiri dan golongan mereka. Media online mencatat setiap pernyataan PSI secara teliti dan menyeluruh. Ini berbahaya bagi demokrasi di era jokowi. Politik bermuka dua sangat dibenci masyarakat Indonesia.

“Terlebih lagi, secara etika dan teori politik, kemunafikan politik sangatlah dibenci. Ilmuwan politik dari University of Cambridge, David Runciman, dalam bukunya Political Hypocricy: The Mask of Power, from Hobbes to Orwell and Beyond (2010) menjelaskan, politik muka dua merupakan cermin kemunafikan politisi. Di atas panggung politik, para politisi berpura-pura memainkan peran yang sama sekali bukan dirinya,” kata Moh Ilham A Hamudy, Peneliti di BPP Kementerian Dalam Negeri pada kamis (2/10/2014).[3]

Politik bermuka dua tumbuh dalam sandiwara Indonesia.  Menurut Mahfud MD bahwa orang munafik sesuai sabda Nabi Muhamda bahwa  ada tiga ciri-ciri.  Tiga ciri ini  merupakan sikap orang  tercela dan hina. Sejarah akan mencatat reformasi dalam masalah serius. Politik telah diisi oleh orang tidak baik dalam demokrasi Indonesia.

“Bisa sih. Kata Nabi ciri2 munafik ada 3: 1) Kalau omong, dusta; 2) Kalau berjanji, ingkar; 3) Kalau dipercaya , khianat. ” kata Mahfud MD pada sabtu (5/8/2017). [4]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x