Mohon tunggu...
Abdu Rozaqi
Abdu Rozaqi Mohon Tunggu... - -

Stay Foolish, Stay Hungry

Selanjutnya

Tutup

Politik

FBI; Antifa adalah Organisasi Teroris Terlarang

6 Oktober 2017   20:50 Diperbarui: 6 Oktober 2017   21:04 5051
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Departemen Homeland Security, beserta lembaga-lembaga yang berada dibawah payung otoritas mereka yakni Badan Keamanan Khusus FBI dan Kepolisian AS, pada 3 September 2017 lalu menetapkan Antifa sebagai organisasi terlarang dengan status "Domestik Teroris". Penetapan status tersebut diputuskan otoritas Badan Keamanan FBI dan Kepolisian setelah mengkaji dan mencermati berbagai peristiwa kekerasan dan aksi anarkisme yang selama ini dilakukan kelompok Antifa di Amerika Serikat.    

Antifa adalah singkatan yang artinya Anti-Fasis, yakni suatu organisasi masyarakat berpaham komunis-sosialis garis keras yang sering menentang rezim pemerintahan dan aparat kepolisian di AS. Berbicara tentang fasis, fasis adalah paham tentang fanatik nasionalisme baik itu berasal dari kelompok sipil maupun militer. Fasis adalah ideologi kanan yang cenderung memuja-muja nasionalisme dan militer secara berlebihan. Antifa seringkali menggunakan kata Fasis yang disandingkan dengan Neo-Nazi. Antifa menganggap bahwa kelompok fasis di AS sebagai kelompok Neo-Nazi (kelompok Nazi gaya baru) yang harus dibasmi.

Musuh terbesar Antifa yakni Donald Trump dan para pendukung loyalnya. Aparat kepolisian juga merupakan sasaran anarkisme kelompok garis keras ini. Antifa menganggap bahwa Donald Trump beserta pengikutnya terlalu ekstrem dalam meluapkan rasa nasionalisme nya sehingga harus disingkirkan. Untuk mencapai cara tersebut, Antifa mendapat dukungan penuh dari Partai Demokrat AS, yang merupakan partai oposisi Donald Trump. 

Mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa mayoritas calon kandidat serta pengikut loyal Partai Demokrat AS, Partai yang memperjuangkan Hillary Clinton, merupakan para pegiat liberal dan aktivis feminisme. Mereka memperjuangkan paham liberalisme serta sering menghujat kaum lelaki kulit putih AS dengan pergerakan feminisme mereka. Dari analisa saya, feminisme yang diperjuangkan oleh kelompok simpatisan Partai Demokrat AS itu sudah disusupi oleh nuansa liberalisme. Bisa dikatakan perjuangan feminis-liberal.

Mereka tidak hanya menuntut hak-hak kesetaraan gender, tetapi juga sering menyindir, menghujat, serta menyalahkan kaum lelaki. Sedangkan kita semua tahu bahwa Hillary Clinton merupakan seorang politisi liberal sejati yang memperjuangkan perjuangan feminis radikal seolah-olah ia benar-benar memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Yang jelas, feminisme yang diperjuangkan kelompok liberal pengikut Hillary sarat akan kepentingan liberal dan berbau politik, yang dipakai sebagai alat untuk memukul kelompok oposisi dari Partai Republik AS.

Di dalam jaringan bawah tanah, Partai Demokrat AS memiliki hubungan erat dengan kelompok ekstremis Antifa. Sedangkan di permukaan dan di hadapan publik, kelompok pengikut Partai Demokrat AS yang liberal secara terang-terangan mendukung BLM (Black Lives Matter), sebuah kelompok yang dibuat untuk melawan penindasan dan kekerasan yang dilakukan polisi AS terhadap kaum kulit hitam Amerika.

Ironisnya, kedua kelompok baik BLM maupun kaum perempuan yang memperjuangkan feminis, sama-sama membenci kaum kulit putih Amerika. BLM tidak hanya mengutuk keras tindakan kekerasan polisi terhadap kaumnya, melainkan BLM juga mengecam dominasi kaum kulit putih Amerika. Tampaknya berjalan seiringan ketiga kelompok ini demi mengalahkan lawan-lawan politik mereka. Baik Antifa, BLM, maupun kelompok Feminis-Liberal, sama-sama didukung penuh oleh Partai Demokrat AS dan Hillary Clinton.

Senjata Hillary Clinton tidak hanya itu saja. Hillary memiliki senjata lainnya yang disebut media mainstream. Perlu anda ketahui bahwa media-media mainstream di AS sudah sepenuhnya dikuasai kelompok elite liberal. Mereka menguasai media massa untuk menyebarkan propaganda liberal dan feminisme mereka.

Media-media liberal seperti CNN, ABC, NBC, juga sering sekali mengabarkan berita bohong tentang konflik bersenjata di Timur Tengah, mereka juga menyebarkan berita rekayasa mengenai Senjata Pemusnah Massal di Irak, menyebarkan kebencian terhadap Saddam Hussein dan Ghadaffi di Libya, serta melakukan propaganda politik-militer lainnya, yang biasanya sering dibantu CIA. Dibalik layar CIA juga bekerjasama dengan ISIS, yang ironisnya, dibantu oleh media-media mainstream liberal untuk memuluskan propaganda mereka. Jika ISIS dan CIA membuat propaganda dan kebencian, maka tugas media mainstream adalah menayangkannya, terutama kepada masyarakat Amerika. Jika anda jeli, anda akan dapat mencermati dan mempelajari pola-pola propaganda semacam ini.

Pertanyaannya, Apakah kelompok Demokrat tetap akan mendukung Hillary setelah FBI dan Kepolisian AS menetapkan bahwa Antifa adalah organisasi terorisme terlarang? Tampaknya Hillary dan kelompoknya tetap tidak bersuara dan memilih bungkam. Dukungan moral tetap didapatkan Antifa oleh kelompok liberal di Amerika Serikat.

Yang jelas, Antifa penuh dengan kekerasan dan bahkan pembunuhan. Ideologi utama Antifa adalah anarkisme, terutama dalam melawan pemerintahan, kelompok Partai Republik, pengikut setia Trump, serta Kepolisian. Dalam setiap aksi turun ke jalan mereka, kelompok Antifa berpaham komunis-sosialis ini tidak akan segan-segan melukai, mencederai, dan bahkan merencanakan pembunuhan dan membuat kekacauan dan kerusakan. Itulah sebabnya FBI mengambil langkah antisipatif untuk menetapkan Antifa sebagai organisasi teroris.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun