Mohon tunggu...
Abdul Wahid
Abdul Wahid Mohon Tunggu... Dosen - Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang

Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang dan Penulis sejumlah buku

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pahlawan dan Pelajaran dari Pemenang Nobel

10 November 2021   07:09 Diperbarui: 13 November 2021   07:15 553 10 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
ilustrasi guyub dengan orang-orang. (sumber: pixabay.com/skitterphoto)

Kita barangkali tidak sulit membaca realitas yang sedang atau sekian lama bergulat, bahwa ada ragam problem yang terjadi di tengah masyarakat. 

Dan problem yang sedang menghimpit masyarakat Indonesia ini layak atau sngat tepat digolongkan sebagai "wilayah" juang yang bisa melahirkan banyak pahlawan. 

Masyarakat negeri ini yang seringkali dibuai dan sedang terbuai oleh janji-janji pemimpin (pemerintah), yang dikondisikan bisa jalani hidup di sebuah negeri dongeng.

Membayangkan potret negeri Pinokio, masih terperosok menghayalkan dan menikmatinya, tanpa ada hasrat besar untuk merubahnya, khususnya dari komunitas elitnya. 

Akhirnya banyak elemen social yang tergiring sebatas jadi pemimpi, dan kurang ada semangat melakukan banyak perubahan baik yang bermanfaat untuk diri, keluarga, dan apalagi bangsanya.

Di wajah lain, kita dihadapkan realitas yang terkadang menyesakkan dada. Yakni tidak sedikit elite pemimpin negeri ini yang lebih pintar "mendongeng" pada masyarakat tentang arti kepahlawanan.

Makna pembelaan terhadap tanah air (menjadi nasionalis), dan pentingnya pengabdian dan keiikhlasan berkorban, tetapi mereka tidak cerdas dalam memberikan keteladanan jadi pemimpin dan penegak hukum bernafaskan keadilan dan kemanusiaan.

Mereka itu dominan lebih bisa membius dan membuai rakyat dengan kata-kata manis norma yuridis dan bukan pembumian perbuatan yang bercorak perubahan, pembaruan, dan pencerahan kehidupan rakyat yang sedang hidup dalam pekatnya penderitaan, atau "pekatnya" jagad peradilan.

Komunitas elite pemimpin suka sekali membikin rakyat menikmati kebingungan wacana, pertarungan di level pucuk kekuatan politik, atau dongeng dari kahyangan kaum borjuis yang bisa melancong dari nirwana ke nirwana dengan menggunakan uang negara sesuka hati, tanpa mempertimbangkan kondisi riil rakyat yang sedang dalam kondisi darurat kemiskinan atau ketidakberdayaannya.

Hasrat untuk berubah atau menggelar aksi-aksi pembaruan tampak temaram. Bagi elit politik, yang paling mengedepan barulah emosi dan egoisme kelompok.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan