Mohon tunggu...
Abdul Wahid
Abdul Wahid Mohon Tunggu... Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang

Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang dan Penulis sejumlah buku

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Masifikasi "Surga" untuk Negeri

15 Februari 2020   10:22 Diperbarui: 15 Februari 2020   10:18 31 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Masifikasi "Surga" untuk Negeri
idntimes.com

Mufassir kenamaan M. Quraish Shihab dalam buku masterpiece-nya berjudul "Membumikan Al-Qur'an" menyebutkan bahwa pelaku utama perubahan di muka bumi ini adalah manusia. Melalui perab-peran yang dilakukan oleh manusia, terjadilah kreasi kesejarahan. Terserah manusia, apakah peran-peran perubahan yang dilakukan menghasilkan hal positip ataukah  menimbulkan kemafsadahan (kerusakan) di muka bumi.

Penempatan manusia oleh ahli tafsir tersebut memang sejatinya sesuai dengan isyarat Allah SWT yang sudah menempatkan manusia sebagai khalifah fil-ardl  dengan misi menabur  atau membumikan rahmatan lil-alamin. 

Manusia dibei amanat olehNya untuk menciptakan atau menkonstruksi kehidupan di bumi ini supaya menjadi "surga" yang menghadirkan rahmat bukan hanya pada dirinya, tetapi juga sesama dan alam semesta.

Mengonstruksi "surga"  atau atmosfir kehidupan yang bisa mendatangkan ragam kebahagiaan, kedamaian, keselamatan, dan kemakmuran bagi manusia atau makhluk lain di muka bumi ini membutuhkan enerji istimewa dari setiap subyek bangsa, yang enerji ini bisa berupa segala kapasitasnya dan mengendalikan berbagai kecenderungan yang berpola mendehumanisasi. 

Kalau manusia  sadar dengan garis teologis kemausiannya tersebut, tentulah di dalam dirinya punya semangat besar atau obsesi tinggi yang disenyawakan dan "diragakan" lewat kreasi-kreasi kesejarahan  supaya hidupnya bermakna baik secara individual maupun social, baik kultural maupun structural. Dalam ranah inilah, masifikasi "surge" untuk negeri bisa terwujud.

Dalam tataran itu, menjadi suatu keharusan jika manusia, apalagi pemimpin  wilayah, punya keberanian untuk bereksperimen dengan "nilai" dan akselereasi  sikap, pengorganisasian diri, pematangan sistem, dan pemberdayaan moral yang mengerucut pada implementasi amanat, bahwa kinerja yang akan dan sedang dilakukan merupakan wujud kemaslahatan publik.

Jika sudah demikian sistematis arah kinerja yang dibangun oleh seseorang atau pemimpin wilayah, maka itu menjadi isyarat kalau yang diperbutanya memang bertujuan menghadirkan perubahan yang mencerahkan kehidupan masyarakat. Kreasi kekhalifahannya mendatangkan prestasi publik, yang tentu saja layak ditempatkan sebagai model kepemimpiuan yang akseptabel dan kapabel.

Hiroshima dan Nagasaki yang pernah menjadi zona geografis yang mati atau kehilangan kesuburunnya sampai puluhan tahun akibat "dinodai" oleh bom atom yang dijatuhkan Sekutu misalnya, ternyata bisa diharapna menjadi zona pertanian yang prospektif dan diidealismekan bisa menyokong kebutuhan pangan futuristic masyarakat Jepang.  

Prospek negara "Matahari Terbit"  ini berkat etos kerja  atau kreasi-kreasi yang ditunjukkan dan dikulturkan oleh sumberdaya manusianya. Inilah model "jihad" yang bisa dijadikan inspirasi dan "literasi" beraksi konstruktif untuk negeri.

Belajar dari kasus tersebut, layak dijadikan sebagai bahan pencerahan diri, bahwa  perubahan itu identik dengan keberanian untuk memulai. Keberanian ini mahal "harganya", pasalnya mesti menuntut beragam tantangan atau pengorbanan.

Keberanian itu juga tak lepas pula dengan tahapan penguatan jati diri untuk membuka kran-kran nalar cerdas dan hati bening dari sekat-sekat yang menumpulkan lewat jargon: pembangunan menuntut kesungguhan dan tanggungjawab.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x