Mohon tunggu...
abdul jamil
abdul jamil Mohon Tunggu... Mahasiswa - selalu belajar

Tukang Ketik

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Tolak Penyebaran Pandemi Covid-19 dengan Mengelola Budaya Risiko

17 September 2021   16:50 Diperbarui: 17 September 2021   16:52 43 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Tolak Penyebaran Pandemi Covid-19 dengan Mengelola Budaya Risiko
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Terdapat tiga jenis kejadian, yang selalu dihadapi oleh manusia, yaitu kepastiaan, kemungkinan dan mustahil. bahwa orang setelah makan akan erasa kenyang atau setelah minum akan hilang rasa haus, adalah sebuah kepastian.  begitu juga kemustahilan bahwa dapat dicontohkan bahwa matahari mustahil terbit dari barat. 

maka, diketahui bahwa kepastian dan kemustahilan dapa diketahui sekalipun belum diperbuat perbuatan makan dan inu atau matahari yang akan terbit, adapun kemungkinan adalah kejadian perbuatan yang meberikan hasil dari dua hal, berhasil atau tidak berhasil. seorang yang memiliki hoby mancing, maka akan dihadapkan pada kejadian kemungkinan, yaitu: bisa mendapatkan ikan atau tidak mendapatkan ikan.

Ketidakpastian yang terjadi di dunia ini membuat manusia terus berusaha mengenali dan beradaptasi dengan keadaan tersebut. Setiap masalah yang timbul saat ini seringkali berhubungan dengan kekeliruan dalam pengambilan keputusan terkait ketidakpastian dimasa lalu. Hal ini lumrah terjadi mengingat kita tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Hal tersebut bisa disebabkan karena kondisi saat pelaksanaan tidak sama dengan apa yang diprediksikan sebelumnya.

Saat ketidaksesuaian itu terjadi, kemungkinan kita akan mengalami risiko kerugian, baik yang bersifat material maupun non material. Oleh karena itu, faktor ketidakpastian perlu dipertimbangkan dalam memprediksi risiko yang terjadi, sehingga dapat diantisipasi dengan mitigasi apabila hal yang tidak diharapkan terjadi. 

Risiko merupakan dampak dari ketidakpastian dalam mencapai suatu tujuan. Salah satu kunci utama dalam menghadapi risiko adalah menanamkan budaya risiko dalam setiap diri manusia. Budaya risiko merupakan sistem nilai, keyakinan, pemahaman dan perilaku manusia dalam bentuk pengambilan keputusan terkait dengan risiko. Konteks mengenai budaya risiko ini pun luas, tidak hanya sebatas pada risiko kerugian materi, melainkan juga risiko keselamatan, kesehatan, reputasi, kinerja, dan lain sebagainya. Lalu, apa yang terjadi jika kita apatis terhadap budaya risiko, jika dikaitkan dengan abainya kita pada Covid-19?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dilihat melalui beberapa peristiwa, sebagai berikut:

Adanya kabar bahwa terjadi beberapa ulama atau orang-orang alim, yang meninggal akibat pandemi Covid-19. Di Indonesia, kesadaran masyarakat di beberapa daerah dalam menerapkan protokol kesehatan masih sangat rendah. Salah satunya di daerah Depok, Jawa Barat.

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC) Kota Depok, per 31 Desember 2020, angka positif telah mencapai 17.294, sembuh 13.517, dan kematian telah mencapai 419 orang. Penyebaran virus Corona (Covid-19) masih berlangsung cukup tinggi di Kota Depok, bahkan cenderung tak terkendali. Penyebabnya karena sebagian besar warga Kota Depok abai protokol kesehatan (Prokes).

"Ada beberapa faktor yang menyebabkan kasus positif terus molonjak signifikan yakni pergerakan orang yang cukup tinggi, aktifitas sosial ekonomi tinggi dan yang utama abai prokes," ujar Juru Bicara GTPPC Kota Depok, Dadang Wihana di Balai Kota Depok, Jumat (1/1/2021).

Fakta-fakta tersebut sangat memprihatinkan, mengingat ancaman bahaya dari sikap apatis warga terhadap protokol kesehatan adalah nyawanya sendiri. Padahal, berita dan informasi mengenai dampak Covid-19 sudah sangat meluas dan rasanya tidak mungkin apabila warga tidak mengetahui bahayanya. Namun begitu, mereka tetap mengabaikan risiko yang terlihat jelas di sekitar kita. Alhasil, nyawa yang menjadi taruhannya. Jika budaya apatis risiko ini masih terus berlanjut, maka tak heran jika setiap harinya terjadi penambahan kasus Covid-19 dengan jumlah yang cukup signifikan.

Virus Covid-19 memang sangat mudah menular, tak terkecuali bagi mereka yang sudah menjaga dengan baik kebersihan dan ketat protokol kesehatan. Namun, bagaimana pun tetap dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menerapkan protokol kesehatan sebagai tindakan preventif terhadap peningkatan jumlah kasus Covid-19.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...
Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan