Humaniora Pilihan

Ketika Kalimat "Jangan Salahkan Hijabnya" Hanya Sebagai Tameng

10 Agustus 2018   23:57 Diperbarui: 11 Agustus 2018   06:57 312 1 1
Ketika Kalimat "Jangan Salahkan Hijabnya" Hanya Sebagai Tameng
Wanita Berhijab

Belakangan ini fenomena 'hijrah' sangat marak. Terlebih lagi, banyaknya artis yang 'hijrah' seakan membuat kata tersebut yang tadinya tabu, tiba-tiba mendadak hits di kalangan netizen Indonesia.

Fenomena hijrah tersebut juga mempengaruhi kaum wanita dengan hijabnya. Ya, berhijab itu merupakan kewajiban bagi seorang wanita, karena seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan. 

Nah, berkembangnya fenomena hijrah yang berkaitan dengan hijaber pada dewasa ini, secara tidak langsung membentuk persepsi baru bagi netizen di Indonesia. Dulu, wanita yang berhijab mungkin akan merasa hina jika mereka berkelakuan buruk. Namun kini, persepsinya adalah "jika seorang wanita berhijab berkelakuan buruk, maka jangan salahkan hijabnya. Karena hijab adalah kewajiban".

Hukum Hijab sama seperti hukum Sholat, yaitu wajib. Jika ada orang yang rajin sholat dan berkelakuan buruk, maka jangan salahkan sholatnya. Sama halnya dengan hijab. Jika ada wanita berhijab yang berkelakuan buruk, maka jangan salahkan hijabnya.

Di satu sisi, persepsi tersebut merupakan sebuah nilai yang sangat positif . Karena dengan adanya persepsi tersebut, 1)Menandakan bahwa umat islam sudah mulai peka terhadap agamanya sendiri, khususnya tentang fiqih. 2)Membuat banyak wanita lebih berani berhijab. 3)Sebagai bentuk perlawanan terhadap persepsi "aku belum pantas memakai hijab".

Tapi, ada hal yang keliru menurut gue disini. Ketika kalimat "jangan salahkan hijabnya" semakin populer akibat berkembangnya fenomena hijrah, maka pada saat yang sama, kalimat tersebut juga berpotensi hanya menjadi tameng bagi wanita berengsek yang kebetulan berhijab.

Maksud hanya menjadi tameng disini adalah wanita tersebut tidak berusaha memperdalam ilmu agamanya lagi. Ia sudah merasa cukup dengan kewajiban hijabnya. Terlepas apapun perbuatanya, yang terpenting dia sudah menjalankan kewajibanya dengan berhijab. 

Prinsip seperti itulah yang menurut gue agak keliru. Bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan, persepsinya akan bergeser menjadi lebih radikal "yang penting berhijab". Padahal, logika yang bijaknya adalah berhijab itu penting, bukan yang penting berhijab

Islam merupakan sebuah proses, dan tidak mungkin instan. Mengkaji dan memperdalam ilmu agama secara konsisten/istiqomah adalah sebuah proses dalam islam. Menjalani proses tersebut bukanlah hal yang mudah. Konsistensi umat muslim sendiri diuji disitu. Banyak orang islam sendiri yang berhenti menjalani proses itu lantaran sudah merasa cukup dengan ilmu agamanya, atau sudah merasa cukup dengan ibadahnya, atau sudah merasa cukup dengan hijabnya.

Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dalil tersebut tak akan mungkin diterjemahkan dengan menggunakan logika. Namun, pertanyaan seperti :

"kok bisa sholat mencegah perbuatan keji dan munkar?"

"apa relevansinya shalat dan perbuatan manusia sehingga shalat dapat mempengaruhinya?"

lambat laun pasti akan terjawab seiring perjalanan dari sebuah proses (jika menjalaninya).

Begitu pula dengan persoalan hijab. Jika kita menjalani prosesnya atau mengkaji ilmu agama, maka pertanyaan filosofis seperti "mengapa wanita dianjurkan berhijab?" Lambat laun akan terjawab seiring sebuah proses yang dijalani.

Poinya adalah kalimat "jangan salahkan hijabnya" memang sangat baik. Tapi, ketika si wanita merasa cukup dengan hijabnya, dan tidak berusaha menjalani proses untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, itu yang salah kaprah. Bahkan berpotensi hanya menjadi tameng bagi perbuatan bejatnya.