Abdullah Umar
Abdullah Umar

Mahasiswa Jurusan Hukum di Cairo University, Mesir

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Menghirup Aroma Kemenangan Jokowi di Pilpres 2019 Berkaca dari Hasil Pilkada 2018

28 Juni 2018   19:56 Diperbarui: 28 Juni 2018   19:59 635 0 0
Menghirup Aroma Kemenangan Jokowi di Pilpres 2019 Berkaca dari Hasil Pilkada 2018
Sumber : baranews.com

Hajatan pesta demokrasi 171 daerah di Indonesia resmi berakhir. Kemarin, Rabu (27/6/2018) dengan penuh kegembiraan masyarakat berbondong-bondong datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memilih pemimpin daerahnya masing-masing. 

Hasil hitung cepat (quick count) pun sudah diketahui seluruh rakyat Indonesia. Dari hasil quick count, (yang sepanjang sejarah tidak pernah berbeda dengan hasil perhitungan resmi KPU) kita setidaknya dapat mencium aroma kemenangan Jokowi di Pilpres 2019, setidaknya dilihat dari 2 (dua) hal, pertama, partai pengusung para pemenang pilkada dan kedua, perolehan suara dari partai oposisi PKS dan Gerindra.

Dari 17 provinsi yang menyelenggarakan Pilgub, 15 pasangan pemenang di antaranya diusung oleh partai pendukung Jokowi. Untuk diketahui, Golkar, PDI-P, PPP, Nasdem, dan Hanura telah resmi mendeklrasikan akan mengusung kembali Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019.

Di tiga provinsi  berpenduduk terbesar di Indonesia (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur) dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) terbanyak se-Indonesia, yaitu sekitar 90 juta pemilih (hampir 50 persen dari total DPT Indonesia, yaitu sekitar 180 juta pemilih) semua calon yang didukung partai pemerintah Jokowi menang. Tidak hanya partainya, bahkan ketiga gubernur tegas mengaku akan mendukung Jokowi di 2019.

Di Jabar, pemenang Pilkada Ridwan Kamil yang didukung oleh Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura saat ditanya oleh wartawan menyampaikan, akan mengikuti keputusan partai pengusungnya mendukung Jokowi di Pilpres 2019. 

Sementara di Pilgub Jatim, Khofifah (mantan Mensos Jokowi) yang diusung Golkar, PPP, Nasdem, Hanura, Demokrat, dan PAN bahkan mengatakan siap menjadi Juru Bicara tim pemenangan Jokowi di Pilpres 2019. Adapun pemenang di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sesama kader PDI-P tidak perlu diragukan lagi keberpihakannya kepada Presiden Jokowi.

Yang menarik, calon yang didukung oleh PKS dan Gerindra di Jabar, Jateng, dan Jatim semuanya kalah. Wacana atau pesan bahwa jika calon yang diusung keduanya menang maka di Pilpres 2019 akan mendukung penuh perlawanan terhadap Jokowi dengan #2019gantipresiden terlihat tidak laku. Bahkan, di Jabar yang merupakan lumbung suara PKS (kader PKS Aher menjadi gubernur 2008-2018) dan Prabowo di Pilpres 2014, berhasil direbut oleh Partai Politik pendukung Jokowi. Jumlah suara gabungan dari partai PKS dan Gerindra hanya mencapai 30% sehingga calon yang diusung mereka (Sudrajat-Syaikhu) takluk oleh Ridwan Kamil. 

Di Jatim, beberapa pengamat justru ada yang menilai, kekalahan Gus Ipul di Jatim disebabkan rakyat Jatim enggan memilih paslon yang didukung Gerindra dan PKS, dua partai yang sangat anti Jokowi. 

Sementara itu, di Jawa Tengah sendiri hampir tidak ada ruang bagi PKS, karena lumbung suara pasangan Sudirman Said -- Ida Fauziah datang dari kantong-kantong PKB yang telah menyatakan dukungannya kepada Presiden Jokowi.

Di Provinsi luar Jawa, kemenangan Jokowi makin terasa ketika melihat hampir semua pemenang pilkada didukung oleh partai pendukung Jokowi. Di Sumut ada Eddy Rahmayadi (Golkar, Hanura, Nasdem). Pilkada Sumsel ada Herman (Hanura, Nasdem), Lampung dimenangkan Arinal (Golkar), Riau ada Syamsuar (Nasdem), Bali ada Wayan Koster (PDIP, Hanura), Kalimantan Barat ada Sutarmidji (Golkar, PPP, Nasdem), NTT ada Victor Laiskodat (Golkar, Hanura, Nasdem), Sulawesi Selatan ada Prof Nurdin (PDIP), Sulawesi Tenggara ada Ali Mazi (Golkar, Nasdem), Maluku ada Murad Ismail (PDIP, PPP, Hanura, Nasdem), Maluku Utara ada Ahmad Mus (Golkar, PPP) dan Papua dimenangkan Lukas Enembe (Golkar, Hanura, PPP, Nasdem).

Pilkada serentak tahun 2018 telah usai dengan sangat damai, tidak terdengar keributan di antara masyarakat karena berbeda pilihan. Aroma kemenangan Presiden Jokowi semakin nyata di depan mata. 

Meskipun demikian, proses Pilpres masih lama dan akan berlangsung pada April 2019, sehingga konsolidasi perlu dilakukan secara terus menerus oleh partai pendukung Jokowi agar dapat memenangkan Pilpres 2019. (*).