Mohon tunggu...
Abdul Azis
Abdul Azis Mohon Tunggu... Seniman - Belajar menulis

Mencoba belajar dengan hati-hati, seorang yang berkecimpung di beberapa seni, Tari (kuda lumping), tetaer, sastra.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Dalam Diam, Sunyiku Berbisik

14 Juni 2021   17:54 Diperbarui: 14 Juni 2021   17:54 193 12 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

1//

Indah dipandang hati gelisah duhai engkau si rupawan
Telah aku gadaikan rindu itu
Tanpa sadar menyemai bibit-bibit resah yang kemungkinan akan hadir di saat-saat butuh itu datang
Lalu hanya sebuah bayang kenang yang kau tinggalkan dari rumitnya mengajak engkau bercerita tentang angan dan mimpi di pusara laku yang kian menjelma arti
Dikau terpatri segala ucap diksi yang kadang terbelenggu hirarki egoistik duka luka lama
Mengencang dengan kuat
Menanti engkau dalam dilema arti dari cinta atau nafsu belaka

2//
Dan ketika hati masih begitu bencinya dengan raut wajah sang khianat mengelabui hati
Terjerembab daku dalam lamun hitam berlumpur dikau menelaah khayal diri
Katamu 

"Indah bila saling bercinta dengan landasan kasih dan sayang"


Menuai malam purnama ditemani kekasih yang sejati
Bersama mengilhami senja dengan sejuta arti
Tiada ruang untuk setan-setan menggoda bisik pesona semata
Dan hadir merpati-merpati putih dari arah barat
Sedang di timur segerombolan burung beo mampu di sepetak sawah
Kicau burung bercuit merdu hiasi senyum dengan aroma kopi buatan tanganmu, seorang pemasak muda dari kota kelahiranmu
Di beranda rumah kita habiskan waktu berlalu tanpa disadari

3//
Dalam diam sunyi 'ku berbisik
Pada siang hatiku berpuisi lentik
Pada senja yang dinanti adalah engkau dan titik
Jika kelak bersama duhai kekasih hanya cinta yang terindah identik
Hitung langkah pada detik
Buah-buah habis dipetik
Hujan turun rintik
Engkau makin cantik

(puisi yang sengaja kau buat untukku, katamu "kau akan tersipu malu pada sajak yang ia buat, dan percayalah cinta bukan hanya dari kata)


Pada riak kegembiraan selalu terpacu oleh kepasrahan Illahi
Dekati hati penuh empati
Engkau memeluknya dengan kasih hayati
Fanatisme berguguran dan mati
Pun eksistensialisme berupa fana pada mimpi
Lembut dan lelaplah duhai yang dinanti

Senin,

Kediri, 14 Juni 2021

Melda Agustina

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan