Mohon tunggu...
Abd. Ghofar Al Amin
Abd. Ghofar Al Amin Mohon Tunggu... wiraswasta -

|abd.ghofaralamin@yahoo.co.id|

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Aku dan Stroke (Part 3)

16 Juli 2016   10:57 Diperbarui: 16 Agustus 2016   22:52 272
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Sekitar enam tahun yang lalu penulis divonis mengidap darah tinggi (hipertensi). Tensi harian selalu di atas 180/100 hingga 210/120. Selengkapnya : Aku Dan Stroke (Part-1) Sudah berusaha berobat tapi belum ada perkembangan yang berarti, bahkan apa yang penulis khawatirkan terjadi, serangan stroke awal menghinggapi penulis. Tapi kala itu penulis masih memaksa, jika sesungguhnya tidakterjadi apa-apa.

Namun perasaan makin campur aduk tidak karuan, terlebih istri memvonis kalau bentuk wajah menjadi tidak simetris, dan mata sipit sebelah. Istri langsung mengajak penulis untuk periksa kesehatan ke rumah sakit, tapi penulis menolak, masih dengan alasan yang sama, "Tidak apa-apa, gampang kalau besok tidak ada perubahan baru kita ke rumah sakit". Selengkapnya : Aku Dan Stroke (Part-2)

Dan malam itu penulis tidur dengan lelap tanpa keluhan tambahan seperti yang telah dikisahkan sebelumnya, hingga Minggu (30/8) pagi terbangun. Namun harapan penulis setelah bangun akan ada perubahan (membaik), ternyata tidak ada. Masih sulit berbicara, tangan masih gapai, ujung kepala hingga bawah leher masih sakit dan kaku kalau memaksa bicara. Akhirnya siang itu sekitar pukul 10.30 WIB, istri berhasil “memaksa” penulis untuk periksa ke rumahh sakit terdekat.

Dengan ditemani istri, penulis mengendarai sepeda motor menuju Rumah Sakit Medika Lestari Buntu Banyumas Jawa Tengah yang hanya berjarak kurang lebih 3 kilometer dari rumah penulis. Masih jelas dalam ingatan penulis, waktu itu di rumah sakit diterima oleh dokter (umum) Prima Astica. Pertama ditensi, 200/110. “Tinggi banget ini” kata sang dokter. Dengan sedikit terpatah-patah dan berat, penulis menjawab, “Itu sudah biasa, tiap hari memang seperti itu”, “loh tapi ini tidak bagus” kata dokter. 

Setelah itu dokter menanyakan keluhan penulis, dijawab sakit tenggorokan, susah bicara. Dokter mengira-ira, mungkin radang tenggorokan katanya seraya meminta penulis untuk membuka mulut lebar-lebar dan menyorotnya dengan lampu senter. Penulis lalu menjelaskan keluhan lain, mulai dari leher kaku, tangan gapai dan lainnya. Lalu dokter meminta penulis untuk tersenyum sambil mengamati dengan seksama wajah penulis. Setelah itu tiba-tiba dokter mengambil kesimpulan, “Anda kena stroke! Stroke ringan, bibir (mulutnya) sudah tidak lurus lagi” katanya. Ah, benar perasaan tidak enak dari awal gejala sama dengan simpulan dokter, penulis terkana serangan stroke.

Dokter kemudian memberikan resep dan menyarankan penulis untuk beristirahat. Ada beberapa makanan yang sempat dipesankan oleh dokter untuk tidak dikonsumsi antara lain 1). Bebek, 2). Daging segar terutama kambing, 3). Ikan yang tidak bersisik dan 4). Berhenti merokok. Tiga item yang pertama karena kandungan kolesterolnya sangat tinggi sehingga tidak baik dikonsumsi oleh penderita hipertensi apalagi penderita stroke. Penulis dianjurkan banyak makan sayur dan buah-buahan serta menghindari makan-makanan yang asin. Seberapa asinnya memang tidak dijelaskan dan penulis lupa menanyakan hal tersebut.

Kebetulan dokter hanya menyarankan untuk istirahat, tidak menganjurkan untuk opname, sehingga penulis pun memutuskan untuk pulang (rawat jalan). Melihat kenyataan yang terjadi di rumah sakit, istri terlihat sangat panik, bahkan setelah mendapatkan obat dari apotek, istri memutuskan untuk membawa motornya, sementara penulis disuruh untuk membonceng. Aneh? Jelas, karena istri penulis belum mahir naik sepeda motor dan selalu membonceng kemana-mana. Lah ini nekad mau memboncengkan penulis lewat jalan raya yang sangat besar (Jalur Selatan Pulau Jawa).

“Sini aku yang bawa motornya” kata istri penulis. “Kamu yakin? Mau bisa naik motor kok nunggu suami kena stroke dulu”, penulis masih mencoba bercanda untuk menghilangkan ketegangan setelah mendengar vonis dokter. Karena memaksa, dengan perasaan was-was akhirnya penulis merelakan sang istri mendendarai sepeda motor hingga sampai di rumah.

Sesampai di rumah, usai makan siang penulis langsung mengkonsumsi obat yang didapat dari rumah sakit antara lain 1). Catopril 3x1, 2). Vitamin Otak 2x1, 3). Vitamin Biasa 2x1, dan 4). Lupaaa... Jadilah hari Minggu itu penulis mengkonsumsi obat 2x, siang dan malam. Senin pagi (31/8) minum obat satu kali dan siang satu kali. Setalah minum obat siang itu sudah ada sedikit perubahan, tangan yang awalnya gapai sudah mulai lancar memencet tombol HP dan Laptop. Menulis dan tanda tangan pun sudah bisa, meskipun belum sebagus ketika stroke itu belum datang dan menyerang. Tapi sayang, mulut ini begitu masih sulit untuk mengeluarkan kata-kata dengan lancar tanpa harus mengeluarkan tenaga yang super ekstra. Ya Tunan.. tolonglah hamba-Mu ini...

Senin malam Selasa usai turun shalat Isya, adik ipar penulis yang kebetulan berprofesi sebagai bidan datang menjenguk. Ia membawa sejumlah peralatan untuk cek kesehatan, jadilah malam itu penulis dicek antara lain 1).Tensi, hasilnya 210/120, tak ada perubahan bahkan naik, yang semula 200/110 masing-masing naik 10 digit. 2). Cek kolesterol hasilnya 325, padahal angka tertinggi (katanya) 200, berarti koleterolnya cukup tinggi, dan satu lagi 3).Cek asam urat, hasilnya 12, padahal maksimal (katanya) kalau tidak salah 7. Tiga jenis cek yang dilakukan oleh adik ipar penulis menghasilkan nilai yang“cumlaude”.

Karena tidak ada perubahan yang berarti setelah minum obat (rawat jalan) dari rumah sakit, malam itu juga penulis diajak untuk opname. Penulis awalnya sempat menolak dengan alasan baru minum obat 2 hari, wajar kalau belum ada perubahan yang signifikan. Tapi penulis langsung “dipaksa” untuk diopname di rumah sakit, dan yang dituju adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. “Apa tidak kasihan lihat anak-anak yang  masih kecil, ayo mas tek antar ke rumah sakit sekarang” ajak adik ipar sambil menunjuk ke arah dua anak penulis yang memang masih kecil-kecil, dan penulis pun pasrah. (Banyumas; 16 Juli 2016)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun