Mohon tunggu...
Muhamad Habib Koesnady
Muhamad Habib Koesnady Mohon Tunggu... Guru - Pengajar Teater

Mempelajari Seni

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Tidak Ada Teater di Sekolah

5 Mei 2020   04:06 Diperbarui: 5 Mei 2020   04:15 835
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Setelah itu, ia harus mampu berempati pada peran tersebut. Karena di atas panggung, aktor tidak boleh berpura-pura, ia harus benar-benar tulus, jujur, merasakan apa yang peran tersebut rasakan (afektif). 

Secara fisik, aktor harus melatih perangkat fisik keaktorannya (baca: olah tubuh) dan mengaplikasikan apa yang telah ia ketahui (kognitif) dan ia rasakan (afektif) ke dalam laku-aksi tubuhnya (psikomotor).

Saya jadi teringat, Rukman Rosadi, aktor film & teater, dosen keaktoran ISI Yogyakarta, pernah menulis bahwa untuk menjadi aktor, seseorang harus melatih tiga aspek utama dalam dirinya, yakni pikiran, perasaan dan tubuh. Bahkan, Constantin Stanislavsky dalam buku Building a Character menyebutkan physical characterization, psychological characterization & psychophysical characterization. Banyak memiliki kesamaan bukan?  

biography.com 
biography.com 

Tapi mungkin, ilustrasi di atas agak rumit jika diterapkan di tingkat sekolah dasar. Untuk soal ini, saya jadi ingat Ki Hadjar Dewantara mendirikan sebuah lembaga pendidikan dengan nama Taman Siswa, bukan tanpa alasan. 

Dengan kata "taman" ia ingin sekolah itu menjadi tempat yang membahagiakan & menyenangkan. Ajaibnya, saya menemukan ini juga di teater. Iman Soleh, dosen keaktoran saya di ISBI Bandung selalu menggunakan metode bermain ketika mengajar. 

Saya selalu merasa bahagia tiap kali bermain permainan-permainan yang dapat melatih perangkat keaktoran. Saat mondok di rumahnya, saya pernah bertanya tentang metode tersebut. Lalu, ia menunjukan sebuah buku Games for Actors and Non-Actors karya Augusto Boal. Ternyata ada juga buat anak SD. Bisa juga teater buat anak SD.

Salain itu, ada satu hal yang saya rasa sangat penting. Yaitu doktrin di dalam teater yang menyatakan bahwa aktor adalah tanah lempung [yang bernyawa]; tanah liat [yang bernyawa]. Kalau tidak salah, saya pertama kali membaca ini dari tulisan Suyatna Anirun. 

Doktrin ini adalah doktrin jadul yang menyatakan bahwa menjadi aktor harus bisa menjadi apa saja. Oleh karena itu, seorang aktor harus mau dan mampu mempelajari apa saja. Aktor harus memiliki kesadaran aktif untuk mempelajari apapun sesuai dengan peran yang akan dimainkan. Awalnya, memang ada semacam formula untuk mempertanyakan atau melatih apa yang ingin diketahui dan dikuasai. 

Tapi lama kelamaan formula tersebut sudah melekat pada aktor dan aktor akan mencari tahu segala macam hal tentang peran yang akan dibawakan; aktor akan mencoba, melatih dan memiliki kemampuan yang dimiliki oleh peran yang ia bawakan. Saya tidak tahu, apakah doktrin ini mirip-mirip dengan konsep Inquiry Based Learning yang dimiliki oleh kurikulum International Baccalaureate. Rasanya ada kemiripan.

augustoboal.weebly.com 
augustoboal.weebly.com 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun