Mohon tunggu...
Muhamad Habib Koesnady
Muhamad Habib Koesnady Mohon Tunggu... Pengajar Seni

Mempelajari Seni

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Tidak Ada Teater di Sekolah

5 Mei 2020   04:06 Diperbarui: 5 Mei 2020   04:15 218 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tidak Ada Teater di Sekolah
sumber gambar 

Tahun 2016, waktu lulus kuliah teater, saya memutuskan untuk menjadi guru teater (intrakurikuler) di sekolah. Saya kira itu keputusan strategis karena di kurikulum pendidikan menengah pada pelajaran Seni Budaya terdapat materi teater, tetapi saya tidak temukan kampus besar pendidik(an) macam UPI atau UNJ yang memiliki Prodi Pendidikan Teater. Entah di kampus lain. 

Maka, otomatis sekolah-sekolah pasti senang ada seorang lulusan teater yang mau menjadi guru teater, mengisi kekosongan guru teater yang mestinya tersedia menurut kurikulum seni budaya.

Lalu, ketika saya mulai mencari sekolah yang membutuhkan pengajar teater---saya mengira pasti banyak dan saya jadi rebutan, tapi ternyata saya salah besar banget. Hasilnya justru nol! Nihil! Tidak ada sekolah yang membutuhkan guru teater. Bahkan seorang staf sekolah bertanya, "Oh.. teater ya mas? yang belajar jadi kayak orang gila itu ya? Bagus tuh. Hahaha".

Karena bosan sudah berbulan-bulan jadi pengangguran, akhirnya saya membuka opsi untuk masuk ke dalam industri kreatif dengan melamar ke Stasiun TV, Rumah Produksi, Event Organizer dan sejenisnya. Ketika sudah ada beberapa respon dari industri tersebut, ada kabar dari seorang alumni teater bahwa Sekolah Madania (di Parung, Bogor) membutuhkan Guru Teater. 

Secara spesifik disebutkan yang dibutuhkan adalah lulusan prodi teater dan akan mengajar mata pelajaran teater---bukan Seni Budaya---dari tingkat dasar sampai menengah. Ajaib! Ternyata ada sekolah umum yang punya pelajaran teater secara spesifik. Optimisme untuk masuk ke dunia pendidikan muncul lagi. Tanpa pikir panjang saya langsung meminang Sekolah Madania!

Pendidikan Teater Tidak Ada di Sekolah Umum

Pendidikan teater di Indonesia tingkat perguruan tinggi terdapat di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Institut Seni Indonesia (ISI), Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan sejenisnya. Saya adalah salah satu produknya. Pendidikan tinggi tersebut dapat ditempuh seseorang yang sudah berusia di atas 17 tahun dan telah lulus dari tingkat SMA.

Jika ada anak yang berniat mendalami teater dengan berkuliah di perguruan tinggi seni, maka anak tersebut harus lulus SMA terlebih dahulu. Tetapi, kenapa harus seperti itu ya? 

Apakah sekolah di tingkat SMA memberikan pengantar pelajaran teater bagi anak yang mau kuliah teater, sehingga jika belum lulus SMA, anak tersebut tidak akan mampu mengikuti pelajaran teater di perguruan tinggi? Padahal di Ibu Kota Jakarta saja tidak ada sekolah yang memiliki pelajaran teater secara spesifik. Kalaupun ada, saya yakin jari tangan saya akan lebih dari cukup jika digunakan untuk menghitung jumlahnya.

Saya jadi membayangkan jika tidak ada pelajaran matematika di SMA. Prinsip-prinsip matematika hanya ditemukan dari irisan pelajaran lain atau dari bias-bias kehidupan sehari-hari. Lalu ada anak yang punya minat besar terhadap matematika dan ingin mendalami matematika secara serius di perguruan tinggi. 

Di sanalah ia pertama kali belajar matematika secara komprehensif. Karena belum pernah sama sekali belajar matematika, maka si anak akan bertanya: Bu/Pak, kenapa satu ditambah satu hasilnya lebih besar daripada satu dikali satu; padahal dua ditambah dua hasilnya sama dengan dua dikali dua? Saat itu ia akan berharap menemukan puisi dari pelajaran matematika.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
VIDEO PILIHAN