Mohon tunggu...
Abang Suher
Abang Suher Mohon Tunggu... Penulis - Tulis yang kamu kerjakan, kerjakan yang kamu tulis

Tinggal di Parepare, kota Pendidikan di Sulawesi Selatan, Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Ketika Alumni SMA/SMK Berlomba-lomba Masuk PTKIN

6 April 2021   13:42 Diperbarui: 6 April 2021   13:49 54 1 0 Mohon Tunggu...

Transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang dimulai pada awal tahun 2000-an menuai hasil. Pembangunan dan kemajuan PTKIN yang diraih hari ini kelihatan nyata sangat akseleratif. PTKIN (STAIN, IAIN, UIN) bukan lagi menjadi perguruan tinggi alternatif atau pilihan  nomor dua, tetapi menjadi perguruan tinggi pilihan pertama bagi masyarakat.

Sebelum bertransformasi, PTKIN (STAIN, IAIN, UIN) hanya diminati oleh sebagian kecil masyarakat. Itu pun dinominasi oleh alumni dari Madrasah Aliyah (MA) dan Pesantren. Jika pun ada alumni dari SMA atau SMK, kemungkinan saja mereka kesasar atau tidak ada pilihan terakhir, alias terpaksa karena gagal masuk ke perguruan tinggi umum. 

Data peserta UM-PTKIN tahun 2019 yang diperoleh penulis dari portal Kemenag RI menunjukkan bahwa jumlah pendaftar secara keseluruhan sebanyak 122.980 (seratus dua puluh dua ribu sembilan ratus delapan puluh) orang. Jumlah ini jika diklasifikasi berdasarkan program studi yang dipilih peserta, maka terbagi menjadi tiga, yakni pilihan IPA sebanyak 3.914 orang atau 3.18%, pilihan IPS sebanyak 105.318 orang atau 85,64%, dan pilihan Campuran sebanyak 13.748 orang atau 11.18%.

Berdasarkan asal propinsi peserta UM-PTKIN, ternyata yang mendominasi berasal dari Jawa Timur sebanyak 23.910 orang (19%), disusul Jawa Tengah sebanyak 14.898 orang (12%), dan Jawa Barat sebanyak 12.278 orang (10%). Setelah ketiga provinsi tersebut, disusul oleh Sulawesi Selatan sebanyak 10.252 orang (8%), Sumatera Utara sebanyak 7.385 orang (6%), dan Lampung sebanyak 6.608 orang (5%).

Yang menarik adalah data UM-PTKIN tentang asal lembaga pendidikan yang telah diikuti oleh peserta. Ternyata, lulusan Sekolah (SMA dan SMK) itu lebih banyak dibanding dengan lulusan Madrasah Aliyah yang mengikuti UM-PTKIN. Ditemukan sebanyak 55,02% atau 67.664 orang justeru berasal dari lulusan SMA dan SMK. Lulusan SMA sebanyak 52.297 orang (SMA Negeri = 40.435 orang, SMA Swasta = 11.862 orang) dan lulusan SMK sebanyak 15.367 orang (SMK Negeri = 9.139 orang, SMK Swasta = 6.228 orang).

Sementara lulusan Madrasah Aliyah yang mengikuti UM-PTKIN mencapai 41,79% atau 51.390 orang. Lulusan MA Negeri sebanyak 24.142 orang dan MA Swasta sebanyak 27.248 orang. Jika melihat data ini, maka lulusan MA Negeri yang mengikuti UM-PTKIN sebanyak 24.142 orang itu hanyalah separuh (tepatnya 59,70%) dari lulusan SMA Negeri yang mencapai 40.435 orang.

Selain lulusan dari SMA/SMK dan MA itu, peserta UM-PTKIN yang lulusan pondok pesantren, seperti SPM (Satuan Pendidikan Muadalah), PDF (Pendidikan Diniyah Formal), dan Program Wajar Dikdas, sebanyak 2,71% atau 3.331 orang saja. Sementara lulusan dari lembaga lain sebanyak 0.48% atau 595 orang.

Dari kacamata penulis, meningkatnya minat alumni SMA dan SMK melanjutkan kuliah di PTKIN (STAIN, IAIN, UIN) seiring sejalan dengan pengembangan keilmuan yang semakin inklusif melalui program integrasi ilmu agama dengn ilmu umum. Transfomasi bentuk PTKIN, secara subtantif merubah sistem dan pola pengembangan keilmuan di PTKIN. Sebelumnya, PTKIN secara eksklusif hanya mengembangkan ilmu-ilmu agama, khususnya agama Islam.

Sistem dan pola pengembangan keilmuan yang eksklusif tersebut ditinggalkan dengan melakukan upaya integrasi keilmuan. Ilmu-ilmu agama Islam dipadukan dan diintegrasikan dengan ilmu-ilmu umum yang bersifat ilmu sosial, ilmu alam, dan bahkan sains sebagai satu kesatuan.

Dengan demikian, ditemukanlah perubahan istilah dalam penamaan fakultas dan program studi yang menyandingkan ilmu agama dan ilmu umum di PTKIN. Seperti, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Komunikasi. Dalam program studi temukan Akuntasi Syariah, Jurnalistik Islam, Hukum Pidana Islam, Manjemen Pendidikan Islam, dll.

Tentu saja, penggunaan istilah tersebut tidak sebatas simbolik (nama) tetapi juga termanifestasi dalam kurikulum pendidikan. Baik nama-nama mata kuliah, silabi, bahan ajar, metode keilmuan, dan metode pengajaran secara keseluruhan mengitegrasikan ilmu agama dan ilmu umum pada rananya masing-masing.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN