Mohon tunggu...
Abanggeutanyo
Abanggeutanyo Mohon Tunggu... “Besar, ternyata ada yang lebih besar, sangat besar, terbesar, super besar, mega besar dan maha besar.”

Nama : FM Al-Rasyid ---------------------------------------------------------------- Mengamati dan Diamati

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Lesotho Tidak Loyo Hadapi Covid-19, Mengapa?

20 Mei 2020   09:04 Diperbarui: 13 Juni 2020   00:48 220 7 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lesotho Tidak Loyo Hadapi Covid-19, Mengapa?
Gambar : ldssouthafricadurban.com dan BBC com. Digabung oleh penulis

Orang menyebut negara ini adalah "Kerajaan Langit," ada juga yang menyebutnya "negeri di atas awan." Hal itu tidak berarti Lesotho negeri kayangan atau negeri dongeng. Predikat tersebut diberikan karena negeri seluas 30.355 km per segi ini 80% geografisnya berada di atas ketinggian 1800 mdpl. Sisanya (20%) juga tergolong tinggi yakni di atas 1000 mdpl.

Jika selama ini kita berguru (mengacu) pada negara maju dan makmur dalam banyak hal, kali ini mengapa musti ragu "mengintip" ke negara belum berkembang (misalnya Lesotho) apa yang mereka lakukan (kini) tampak perkasa dalam mengatasi Covid-19.

Lesotho berpenduduk 2.140.125 jiwa, jauh lebih banyak dari Timor Leste (1.315.315) tetapi TimorLEste dengan jumlah penderita covid-19 lebih banyak yaitu sebanyak 24 orang dan semuanya (24 orang) itu sembuh. 

Seluruh perbatasannya "dikepung" negara Afrika Selatan (penderita covid-19 terbanyak se Afrika) secara teoritis sangat rentan terpapar corona virus dari Afrika Selatan. Sampai saat tulisan ini dibuat jumlah penderita Covid-19 di negara Afrika Selatan mencapai 17.200 orang dan 312 orang telah meninggal dunia di negara berpenduduk 59.218.133 orang tersebut.

Lesotho kini dipimpin Raja Letsie III. Negeri seluas 2 kali dari Timor Leste tersebut sarat mutan konflik politik yang panjang. Beberapa jam lalu saat artikel ini dibuat, sang Perdana Menteri Thomas Thabane menyatakan mengundurkan diri akibat terlibat persoalan cinta segit tiga terbukti berkomplot membunuh istri demi kekasih gelap (istri baru) pada 2017 lalu.

Seperti negara lain, Lesotho juga melakukan pencegahan formal keluar masuk secara ketat dari Afrika Selatan yang menjadi pusat penderita Covid-19 tertinggi se benua Afrika. Lesotho juga pernah melakukan lockdown nasional, tapi hanya 6 hari saja dari 30 April sampai 5 Mai 2020. Kasus pendeerita covid-19 pertama muncul setelah lockdown nasional.

Pada 9 Mai 2020 otoritas melakukan pemeriksaan terhadap 81 orang yang baru tiba dari Arab Saudi dan Afrika Selatan. Pengiriman 81 sampel  pada 12 Mai 2020 lalu hasilnya 80 orang negatif dan hanya 1 orang dinyatkan positif Covid-19. Belakangan ada laporan menyatakan pasien tersebut meninggal dunia tetapi tidak dipublikasikan.

Proses pemeriksaan sampel Orang Dalam Pengawasan (ODP) belum dapat dilakukan di Lesotho, sampel dikirim ke Institute Penyakit Menular Nasional (NICD) terdekat di Afrika Selatan.

Sampai saat ini jumlah pengiriman sampel ke NICD sebanyak 597 spesimen hasilnya 295 negatif tetapi sebanyak 301 masih belum terbit hasil pengujiannya. Sumber :TheGuardian.

Meskipun Jack Ma, pendiri Alibaba telah mengirimkan sumbangan 20.000 alat test Corona tetapi Leshoto tidak memiliki pusat pemeriksaan pengujian sampel virus Corona yang standard. Pemeriksaan dikirim ke NICD terdekat di negara Afrika Selatan.

Sebuah rumah sakit yang ditunjuk untuk penanganan pasien Covid-19 hanya mampu menampung 148 pasien. Tampak sekali lemahnya sistem penanganan covid-19 di negara ini meskipun tidak diharapkan terjadinya ledakan kasus di sana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x