Mohon tunggu...
Abanggeutanyo
Abanggeutanyo Mohon Tunggu... “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Nama : Faisal Machmud al-Rasyid ---------------------------------------------------------------- Mengamati dan Diamati

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Saat Erdogan Harus Memilih, Pro ke Assad atau Kurdi atau Tidak Semua

30 Maret 2017   10:40 Diperbarui: 1 April 2017   09:18 0 1 0 Mohon Tunggu...
Saat Erdogan Harus Memilih, Pro ke Assad atau Kurdi atau Tidak Semua
Sumber gambar : ekurd.net dan breitbart.com. Edit abanggeutanyo

Apa yang dikhawatirkan Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan sebelum memutuskan "invasi" Suriah akhirnya menjadi kenyataan. Lambat tapi pasti Turki telah terjebak dalam konflik Suriah dan tidak mudah  keluar melepaskan diri dari konflik ganas itu dengan alasan-alasan sederhana. 

Eupharates Shiled operation telah dikemas sedemikian rupa bertujuan membebaskan kawasan utara Suriah ISIS. Di sisi lain BufferZone atau zona penyangga juga telah dikemas sedemikian rupa agar menjadi kawasan aman bagi pengungsi Suriah, namun fakta pada ke dua strategi  itu justru hampir sebaliknya.

Melalui momentum revolusi Suriah pada awalnya Erdogan berharap mendapatkan dua keuntungan sekaligus yakni menciptkan pemerintahan baru Suriah pro Turki dan juga untuk melumpuhkan perlawanan Kurdi yang telah menyita energi Turki tiga dekade terakhir. Meski telah dikemas sedemikian rupa tetap saja menimbulkan kesan ada ambisi terselubung Turki terhadap Suriah.

Setelah dikecewakan AS --dengan memperlihatkan sikap terang benderang membela, melatih, mempersenjatai dan memfasilitasi pendanaan bahkan ikut terjun perang bersama  pasukan moderat Suriah Kurdi SDF serta milisi YPG-- kini tiba giliran Rusia terang benderang berpihak pada SDF/YPG. Bahkan digaris paling depan pertahanan terluar kota Manbij dengan posisi pasukan Eupharates Shileds (ES) pasukan khusus  Rusia "bersedia" menjadi pagar betis menahan ofensif pasukan ES (pasukan Turki dan milisi FSA dukungan Turki).

AS dan SDF telah memperlihatkan keperkasaan tiada tara merangsek hampir seluruh basis-basis ISIS di utara Suriah. Bahakn kini AS dan SDF berada pada jarak 6 km ke gerbang kota Al-Raqqa, ibukota defakto ISIS di Suriah. Fakta ini membuat Turki sangat geram hingga terlontar sumpah serapah pada AS. 

Belum padam rasa kecewa pada AS kini Turki kembali kecewa pada Rusia bekerjasama dengan milisi YPG Kurdi Suriah. Sikap Rusia adalah pelampiasan setelah melihat wujud interes Turki sesungguhnya dari dalam konflik Suriah. Ofensif pasukan ES hingga membunuh sejumlah pasukan dan milisi Suriah bahkan  kendaraan tempur Rusia serta ekpansi lebih luas dari misi Eupharates Shield Operation membuat Rusia memilih sikap berseberangan dengan Turki.

Melihat sikap AS dan Rusia mulai kontradikitf  pada Turki sejumlah negara dalam Uni Eropa pun mulai ikut-ikutan atau berani berseberangan dengan Turki. Negara Prancis dan Jerman adalah dua negara paling agresif mengkritik kebijakan Turki. Akibatnya Turki tak mampu bersabar. Turki memberi lebel kepada Jerman sebagai negara pendukung teroris, membuat Merkel, kanselir Jerman terperanjat atas tudingan Erdogan.

Kini Turki menghadapi dua fakta yang telah lama dikhawatirkan yaitu jika ISIS kalah Turki akan dihadapkan pada perang melawan pasukan rezim Suriah atau jika ISIS kalah Turki akan dihadapkan pada perang melawan pasukan moderat Arab Kurdi (SDF).

Siapa lebih kuat antara SAA dan SDF tentu intelijen Turki telah memiliki data dan informasi jelas dan akurat. Namun demikian sekilas beberapa poin utama untuk melihat siapa lebih kuat antara ke duanya beberapa hal penting adalah :

SAA menang  pengalaman dan jumlah peralatan tempur tetapi mental sebagian pasukan regulernya lemah. Dukungan habis-habisan Rusia dan Iran membuat Turki dilematis pada perang tidak menghasilkan kemenangan itu. Memang SAA lebih lemah dibanding ISIS dan SDF. Jika tidak dibantu milisi spesial dan milisii Iran serta dukungan udara Rusia mungkin Suriah telah tinggal kenangan dalam 2 tahun pemberontakan saat 40 % wilayahnya dan puluhan ribu pasukanya membelot ke FSA,tewas dan lain-lain. 

Pasukan SAA memang lebih ringan, secara teoritis mudah diatasi Turki dalam kondisi letih berperang selama enam tahun terakhir menghadapi sejumlah "lawan" sekaligus (FSA, ISIS, Al-Qaeda, YPG, ES dan Israel). jika ini pilihan Turki  akan sangat kontradiktif dengan kebijakan awal dari tujuan pemberontakan Suriah dan didukung Turki. Pasukan pemberontak FSA akan stres jika melihat terjdi perubahan fundamental Turki dari tujuan awal menjatuhkan rezim Assad (bahkan mungkin negara baru di bekas Suriah) menjadi pendukung Assad.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN