Mohon tunggu...
Em Amir Nihat
Em Amir Nihat Mohon Tunggu... Jamaah Maiyah. Asal Kebumen. Penulis bebas.

Kunjungi saya di www.nihatera.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Di Nisan itu Tertulis "Maafin Papa"

9 November 2019   05:44 Diperbarui: 9 November 2019   05:48 0 2 0 Mohon Tunggu...

Keluarga Pak Darsin dan Bu Imah terlihat bahagia sekali, mereka dikaruniai seorang bayi laki-laki. Darim namanya. Diambil dari nama Darsin dan Imah. Sebelum lahir Darim, Bu Imah setahun yang lalu mengandung anak perempuan hanya saja meninggal ketika proses lahiran, konon katanya akibat Pak Darsin dan Bu Imah menerobos larangan untuk bercinta saat Bu Imah sedang menstruasi. Kalau tidak lahir cacat atau mati, begitulah cerita yang berkembang. Bahkan saat kelahiran anak perempuan kondisi bayi sungguh mengenaskan, tangan kanannya nyaris tidak ada jari-jarinya, Kata Masyarakat itu pamali akibat dahulu saat Ibu Imah mengandung, Pak Darsin membunuh ayam jago tetangga dengan cara tidak wajar, kaki ayam dipotong-potong. Hanya masalah sepele, ayam berak dengan manja di teras rumah.

Dari kejadian itu Pak Darsin dan Bu Imah belajar, kini mereka menjaga dengan penuh cinta dan sayang pada bayi Darim. Mereka tidak mau melanggar aturan adat dan juga aturan agama.

"Bu, besok Darim harus jadi manager kayak bapak" Ucap Pak Darsin

"Kalau ibu sih terserah anaknya aja, biarkan dia melakukan hal yang ia sukai dan cintai. Syaratnya Cuma satu Pak, ia harus jadi orang baik." Jawab Bu Imah

"Baiklah, Bu. Aku setuju saja. Daripada nanti ia hidup dengan bayang-banyang bukan dirinya." Pak Darsin setuju dengan saran istrinya

Mereka menyayangi Darim, merawat dan membesarkannya.

Di tahun ketujuh setelah kelahiran, kondisi keluarga mereka mulai menunjukan masalah. Pak Darsin dipecat dari pekerjaan akibat terbukti mesum di kantor dengan asisten pribadinya, bernama Lira. Bu Imah yang mendengar kejadian itu, kalap dan marah. Ia meminta cerai.

Darim anak kecil yang belum tahu apa-apa tentu saja shok, Darim yang malang kini setiap hari hanya mendengar teriakan demi teriakan, cacimaki demi cacimaki, sumpah serapah bahkan di depan mata kepalanya, Darim melihat sang ayah menampar ibunya. Rumahnya kini bagaikan neraka. Bom waktu seakan meledak dan menghancurkan rumah tangga itu.

Darim yang periang kini jadi pemurung, gelagatnya yang dulu baik dan sopan kini berubah seratus delapan puluh derajat, ia jadi anak nakal. Suka mencuri uang jajan teman, sering berkelahi, suka memalak, bahkan ia pernah mengerjai gurunya dengan menaruh kotoran ayam di bangku guru. Asyik katanya.

Pak Darsin yang mendengar hal itu geram dan marah. Darim dijewer kupingnya dari sekolahan sampai rumah, Bu Guru yang melihat hal itu tidak tega dan menyuruh Pak Darsin jangan terlalu kasar dengan anak sebab memang adakalanya anak nakal. Wajar katanya. Anak hanya ingin mencoba banyak hal dan ingin tahu banyak hal. Terlanjur malu, Pak Darsin tidak menuruti kata Bu Guru.

Putusan hakim menyatakan bahwa hak anak jatuh kepada Pak Darsin. Darim diasuh ayahnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x