Mohon tunggu...
Aafajar
Aafajar Mohon Tunggu... Guru - Guru PAUD

Pembelajar Yang Tidak Pernah Pintar (email : aafajaroke@gmail. com)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Hijrah Meninggalkan "Omdo"

11 September 2018   07:15 Diperbarui: 11 September 2018   17:41 275
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumentasi pribadi

Belum lama ini, Negara kita yang berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa ini, dihebohkan oleh berita penangkapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Berita tersebut membuat semua terkejut, bukan karena jumlah uang yang dikorupsi nya, bukan karena sipelaku nya orang yang terkenal.Kehebohan itu dikarenakan jumlah anggota dewan yang tertangkap nyaris tak menyisakan anggota yang ada. Alias korupsi tersebut dilakukan secara masal. Iya, itulah kasus korupsi anggota DPRD Kota Malang. Mendagri menyebut, kasus tersebut adalah yang pertama terjadi di Indonesia.

Mereka bukan orang yang tidak berpendidikan. Mereka bukan juga orang yang tidak beragama. Mereka juga, bukan tidak tahu tentang korupsi dan bahaya nya untuk bangsa dan Negara. Dan jika di telusuri, ucapan - ucapan mereka saat kampanye berisikan kata - kata kontra terhadap korupsi dan pro pemberantasan korupsi.

Tapi, mengapa justru mereka terlibat korupsi ?. Dan, mengapa korupsi selau terjadi ?. Bukan kah pemerintah genjar memberantas dan mencegah korupsi ?.

Ada kisah yang bisa di jadikan pelajaran untuk kita semua. Terutama para pendidik, orang tua, pemerintah beserta pejabat - pejabat nya. Jika tidak ingin generasi penerus bangsa ini, anak - anak kita, berbuat kehebohan tercela seperti anggota dewan Kota Malang, atau kehebohan yang lain, simak baik - baik kisah berikut dan berlatihlah untuk mencontoh nya :

Dikisahkan pada suatu hari Imam Hasan al-Bashri, seorang Imam terkemuka, didatangi oleh delegasi budak-budak dari negeri Bashrah.

Delegasi itu berkata kepadanya, "Ya Taqiyuddin, majikan kami memperlakukan kami dengan buruk dan tidak berperi kemanusiaan. Kami berharap pada khutbah Jum'at yang akan datang Tuan bisa membicarakan tentang kasus kami, supaya para pemilik budak melepaskan budak-budaknya dan tidak memperlakukan kami dengan kejam."

Imam Hasan al-Bashri mendengarkan permohonan delegasi itu dengan baik tanpa berkomentar apa-apa. Namun, beberapa Jum'at berlalu sang imam tak pernah membicarakan perihal budak di khutbah Jum' atnya. Ada yang mengatakan selama satu tahun sang Imam belum berkhutbah sesuai permintaan para budak.

Barulah kemudian pada suatu Jum'at, beliau berkhutbah tentang keutamaan membebaskan budak dalam Islam dan besarnya dosa berbuat kejam, serta tidak berperikemanusiaan terhadap budak.

Setelah khutbah Jum'at itu, banyak kaum muslimin yang membebaskan budaknya karena Alloh Ta'ala. Dan delegasi budak pun datang ke rumah sang imam. Tetapi kedatangannya ini bukan untuk mengucapkan terima kasih.

Mereka berkata, "Wahai Imam Hasan, kami datang kepada Tuan bukan untuk berterima kasih, tetapi ingin komplen kepada Tuan!"

Imam Hasan al-Bashri terkejut mendengar perkataan yang cukup pedas dari delegasi itu. "Mengapa begitu?" Tanya Imam Hasan kepada mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun