Mohon tunggu...
Aafajar
Aafajar Mohon Tunggu... Guru - Guru PAUD

Pembelajar Yang Tidak Pernah Pintar (email : aafajaroke@gmail. com)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Jadi Guru TK Memang Tidak Mudah, Ulama Kondang Saja Menyerah

7 September 2018   10:10 Diperbarui: 7 September 2018   21:17 887
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumentasi Pribadi : Mendampingi Anak - anak berenang

"Ahhh..sekolah TK, cuma nyanyi - nyanyi doang, sama main aja". Begitulah ungkapan dari seseorang yang menganggap remeh pendidikan anak usia dini. Bagi nya, pendidikan Tamsn Kanak - Kanak (TK),  Raudhatul Athfal (RA) atau yang sejenis (PAUD non formal) hanya tempat anak - anak bersenang - senang semata tanpa makna dan tujuan. Baginya lembaga pendidikan anak usia dini tak bedanya dengan tempat bermain dan penitipan anak semata.

Jika terhadap lembaga pendidikan anak usia dini berpandangan seperti itu, " meremehkan". Maka sudah tentu ia akan menganggap remeh para pendidik anak usia dini, guru yang senantiasa ceria dihadapan peserta didiknya meski hatinya bimbang memikirkan urusan dapur, misalnya. 

Memang tidak sedikit anggapan yang memandang "remeh" guru TK. Tanpa melakukan analisa dengan mudah nya mengucapkan "Ahhh...guru TK yang diajarin cuma anak - anak kecil, cuma di ajak main doang, ngajarin baca tulis dehhh. Siang udah pulang".  

Karena anggapan - anggapan tersebut. Maka, tidak sedikit masyarakat yang enggan menyekolah kan anak nya pada lembaga pendidikan anak usia dini, baik formal maupun non formal. Mereka lebih memilih memasukan ke tempat  les membaca dan berhitung.Anggapan tersebut juga berdampak terhadap minat masyarakat untuk menjadi guru TK, sangat minim yang berminat, terutama para pria. (Baca : Guru Paud Laki - Laki)

Dan keadaan tersebut diperkuat dengan  minim nya perhatian pemerintah kepada  guru PAUD.

Sesungguhnya menjadi guru TK ibarat seorang petani. Lembaga pendidikan TK adalah ladang nya, peserta didik nya adalah bibit yang akan ditanam. Seorang petani berusaha bibit yang di tanam nya tumbuh baik dan menghasilkan buah yang berkualitas. 

Maka, prosedur perawatan dia lakukan sesuai karakter sang bibit. Karena dia tahu, salah prosedur, fatal akibatnya. Bibit akan tumbuh dengan tidak baik, bahkan bisa mati.

Jika tumbuhan saja harus dilakukan dengan prosedur yang baik. Maka, sudah tentu dengan anak usia dini, yang merupakan penerus manusia dewasa yang ada saat ini dengan berbagai jabatannya, penerus peradaban mahluk berakal yang terus berkembang. Harus lebih diperhatikan lagi prosedur pendidikan nya. Dan tidak mudah menjalankan prosedur tersebut.

Bernyanyi yang di sampaikan guru TK bukan sekadar bernyanyi. Aspek perkembangan bahasa anak, adab atau karakter, nilai agama dan moral, aspek kognitif, aspek sosial emosional, dapat distimulus oleh guru melalui nyanyian. Bahkan, aspek perkembangan fisik motorik anak dapat terstimulus jika guru menambahkan gerakan pada nyanyian yang disampaikan.

Bermain pun bukan sekadar permainan. Bermain adalah media yang diberikan guru untuk mencapai tujuan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik nya. Bermain bagi anak sama seperti berkerja bagi orang dewasa. Berbagai pelajaran mereka peroleh melalui bermain. Aspek perkembangan sosial emosional mereka terstimulus dengan baik.  (Baca : Bermain di Sentra Balok)

Menggambar pun bukan asal menggambar tanpa makna, meski hanya coretan. Perlu ketelitian dan keahlian untuk menilai hasil gambar anak usia dini. Menggambar adalah salah satu jembatan yang mengantarkan anak menuju dunia baca tulis. Bagi orang dewasa umumnya, coretan mereka adalah coret - coret "kusut". Tapi bagi guru TK coretan mereka adalah keunikan mereka yang dapat dijadikan bahan referensi untuk mengkonsep pembelajaran yang dapat menstimulus keunikannya tersebut. (Baca : Uniknya Anak Usia Dini Dengan 12 Tahapan Menggambar)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun