Mohon tunggu...
A BayuSeptyanandha
A BayuSeptyanandha Mohon Tunggu... Lainnya - bekerja ding,tapi ya gitu

bipolar gue !!!!!!!

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Kita Selalu Ada untuk Para Penyintas Bullying

2 Juni 2022   15:20 Diperbarui: 4 Juni 2022   00:17 177 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

          

            24 Mei 2022 di Semarang dikejutkan dengan sebuah viralnya video kekerasan yang dilakukan oleh 3 siswi SMP N di Kota Semarang yang dilakukan terhadap seorang adik kelasnya sendiri. Kejadian kali ini tidak hanya sekedar bullying secara verbal semata, namun juga bullying secara fisik dan tidak hanya dilakukan oleh 1 siswi. Peristiwa ini dilakukan oleh senior RS, yaitu ST, DT dan NA berlokasi di Alun-alun Kota Semarang di siang hari. Di video yang berdurasi tidak lama tersebut memang tidak terlihat adanya tindakan pencegahan dari masyarakat setempat, mungkin dikarenakan lokasi persitiwa tersebut memang secara kebetulan dalam keadaan sepi saat peristiwa tersebut terjadi. Namun berkaca dari hal ini, untuk kemudian hari kita sebagai masyarakat bisa belajar dan berani untuk melakukan tindakan pencegahan bila melihat peristiwa bullying secara verbal atau fisik ditempat umum, tidak hanya melihat atau bahkan dibeberapa kasus lain masyarakat ikut merekam aksi mereka, karena tindak pencegahan termasuk menjadi salah satu masalah kita bersama, pertanyaannya menjadi kemana hasil dari pelajaran PPKN kita tentang tenggang rasa dan rasa saling menolong sesama itu? Kebanyakan baca buku sampai lupa bahwa dari bacaan moral, sebuah tindakan dari apa yang dibaca juga harus diaplikasikan, bukan hanya sekedar dibaca, dicatat lalu dikumpulkan di meja paling depan.

            Untuk kasus ini, motif yang dilakukan oleh ST, DT dan NA berdasar atas ketidaksukaan sikap NA kepada adik kelasnya tersebut. Setelah kasus ini viral di media sosial, pihak berwenang baru segera menindaklanjuti lalu melakukan penangkapan kepada 3 terduga pelaku dan juga korban untuk dimintai keterangan. Penangkapan pun dilakukan oleh AKBP Donny Lumbantoruan pada hari Rabu 25 Mei 2022, penangkapan sendiri dilakukan dirumah masing terduga pelaku.

           Bila ditelisik lebih jauh, coba bayangkan ketika hal-hal menyeramkan ini tidak viral? Pelaku akan terus melakukannya, korban akan terus tertekan mentalnya dan semakin depresi dan dampaknya bahayanya sangat tidak terbayangkan, sedangkan polisi? ya tetap mengayomi masyarakat. Karena polisi pun juga punya Divisi Cyber yang bisa memantau kejadian dimedia sosial dan mempunyai delik aduan

          Bullying saat ini masih dianggap sepele oleh sebagian banyak orang, entah bullying secara verbal atau secara fisik, hal ini bisa terjadi karena seseorang merasa berkuasa, merasa senior atau merasa punya sesuatu yang bisa mendominasi orang lain yang dianggap tidak setara dengan kita dalam beberapa hal.

         Hal-hal tersebut sudah lama terjadi di lingkungan sekolah sejak kita menjadi murid baru, sebut saja “perpeloncoan” , bukannya pengenalan terhadap sekolah sebagai ajang motifasi untuk calon siswa baru agar bangga untuk bersekolah di sekolah tersebut. Namun yang didapat hanyalah kata kasar, nada tinggi, ancaman, perbekalan yang tidak masuk akal yang tidak ada hubungannya dengan pengenalan sekolah. Alih-alih mendapat edukasi tentang tempat apa yang akan mereka habiskan selama beberapa tahun, namun yang didapat hanya menjadi “badut” untuk senior atas nama “ kedisiplinan “.

        Bullying yang terjadi selama bertahun-tahun ini baru ter-ekspose ketika media sosial di internet merebak secara masif, sialnya dengan gempuran isi konten media sosial ini banyak siswa atau anak muda yang tanpa sadar belum mampu menyaring mana yang benar dan tidak benar dampaknya ke sosial. Kemungkinan fenomena ini bisa dibentuk oleh dua hal yaitu dari lingkungan pertemanan dan ambisi untuk viral di media sosial.

            Ambisi viral inilah yang menjadi salah satu motif kenapa para siswi ini merekam dan menyebarkannya ke media sosial. Dan lingkungan pertemanan inilah yang membentuk mereka untuk berani melakukan hal-hal yang tanpa mereka sadari adalah hal yang tidak baik dan bisa berimbas ke kehidupan mereka selanjutnya.

           Merunut dari kasus tersebut, menurut Tsaniatus Solihah, Direktur Yayasan Anantaka yang akrab disapa Ika, “Pemerintah Kota Semarang sebagai perpanjangan tangan Negara sudah mengembangkan program Sekolah Ramah Anak, untuk melindungi anak dari segala macam bentuk kekerasan dan perlakuan salah lainnya di lingkungan satuan pendidikan. Semua SMP di Kota Semarang sudah mendeklarasikan Sekolah Ramah Anak sejak Tahun 2019. Tidak hanya sekedar deklarasi bahkan di Satuan Pendidikan SMP juga sudah dikembangkan program untuk pencegahan kekerasan dan Bullying yaitu dengan nama Agen Perubahan Pencegahan Bullying, program ini adalah partisipasi anak untuk mencegah kekerasan dan bullying sesama teman di lingkungan satuan pendidikan. Artinya pemerintah sudah mengambil langkah awal dengan melakukan pencegahan sebelum ada nya kasus Bullying yang terjadi saat ini, kemudian bagaimana di lingkungan luar sekolah?”

         Masih dengan penuturannya , “ Bullying masih dianggap sepele oleh orang dewasa baik oleh orang tua bahkan sebagian guru juga demikian, mereka selalu berfikir bahwa bullying adalah candaan yang digunakan untuk merekatkan hubungan pertemanan dan dianggap wajar, tetapi mereka tidak memperhatikan bahwa dampak bullying bisa mengakibatkan anak depresi, tidak percaya diri, bahkan beberapa kasus sampai menjadikan korban bunuh diri. Masyarakat perlu berperan serta, pengasuhan utama adalah di lingkungan keluarga, bagaimana keluaga mampu memberikan pengasuhan yang baik, memberikan pondasi yang cukup terhadap anak-anak terkait dengan karakter dan perilaku nya sehingga anak-anak mampu mengontrol prilaku nya dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan, dengan pondasi yang kuat anak-anak tidak akan mudah terpengaruh untuk melakukan perilaku negatif salah satu nya adalah bullying”

          Apa yang terjadi dari anak-anak seperti ini mungkin juga perlu ditarik benang merahnya secara psikologis, kita tidak bisa langsung menghakimi perilaku mereka saat itu hanya dari konten media sosial mereka saja, bisa jadi ketika ditarik kebelakang lebih jauh tentang perilaku mereka saat itu, kita bisa melihat seperti bagaimana mereka dirumah, bagaimana mereka bergaul, memilih teman atau bisa juga mereka dulunya korban bullying dan kekerasan yang lain. Karena setiap tindakan dan perilaku punya indikasi untuk bisa memicu trauma masa kecil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan