Mohon tunggu...
Aditya Salim
Aditya Salim Mohon Tunggu... Law enthusiast

Write to educate

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Napak Tilas

23 April 2019   01:11 Diperbarui: 23 April 2019   04:12 0 0 1 Mohon Tunggu...
Napak Tilas
us-5cbe2b70a8bc156df15ab58a.png

Rasa ingin menulis seperti tidak bisa saya bendung sejak kemarin.

US Capitol, Library of the Congress, Arlington Cemetery dan Holocaust Museum di Washington D.C. membuat saya tidak berhenti berdecak kagum. Kunjungan kemarin juga membuat saya dan istri paham bagaimana Amerika Serikat bisa menjadi bangsa yang sedemikian besar dan berpengaruh di tingkat global. Dalam perjalanan pulang ke New York, pikiran saya tidak bisa berhenti melanglang buana membayangkan dan mengkonsep tentang Indonesia saat ini dan di masa depan.

"E Pluribus Unum". Out of many, one.

"Bhinneka Tunggal Ika". Beraneka ragam itu satu.

indonesia-5cbe2ba095760e3428553822.jpg
indonesia-5cbe2ba095760e3428553822.jpg
Bukan pengetahuan baru bagi kami, dan banyak orang bahwa "E Pluribus Unum" merupakan slogan yang terdapat pada lambang negara Amerika. Hanya saja baru kemarinlah pikiran saya disentil saat menyaksikan video sejarah pembangunan US Capitol.  

"Lho, kok sama?" ujar saya dalam hati.

"E Pluribus Unum" dan "Bhinneka Tunggal Ika" ternyata memiliki konsep yang, menurut saya, identik. Dua konsep utama dari kedua slogan ini adalah diversity (keberagaman) dan unity (persatuan).

Video berlanjut, memaparkan bahwa berdasarkan konstitusi Amerika Serikat kekuasaan negara dibagi menjadi 3 (tiga) cabang, yang mereka sebut dengan "Judiciary, Presidency, and Legislation". US Congress sebagai lembaga yang memegang kekuasaan pembentukan hukum terdiri dari 100 orang Senate yang mewakili seluruh State di Amerika Serikat, dan 453 orang yang duduk pada House of Representative. Konstitusi Indonesia pun demikian, membagi kekuasaan negara menjadi Eksekutif, Legislatif dan Kekuasaan Kehakiman. MPR sebagai perwujudan kekuasaan rakyat terdiri dari DPD, yang mewakili seluruh provinsi, dan DPR.

"Persis", lagi saya berujar dalam hati.

Bukan. Tulisan saya ini bukan tulisan anak norak yang sedang euforia sehingga menyamakan Indonesia dan Amerika Serikat. Mungkin kejadian di atas juga sebenarnya terlalu kecil untuk menjadi alasan saya bisa bergundah. Namun saya melihat, dua negara ini berangkat dari sebuah filosofi yang sama, unity in diversity. Dan bukankah seharusnya arahnya menjadi sama?

Lagi-lagi bukan. Dengan mengatakan arahnya menjadi sama bukan berarti saya bilang Indonesia harus menjadi seperti Amerika Serikat. Yang sama adalah bahwa kedua negara ini merupakan "melting pot". Sama-sama wadah (mangkok/pot) bagi berbagai ragam manusia, sehingga tantangannya pun sama, yaitu mengakomodir berbagai kepentingan. Sehingga sama pulalah arah pembangunannya, yaitu menggunakan keberagaman sebagai kekuatan. Dan akhirnya seharusnya sama tinggilah kualitas manusianya. Tapi kenapa rasa-rasanya Indonesia ini belum sekuat itu gaungnya dibanding Amerika Serikat?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3