Mohon tunggu...
Aymara Ramdani
Aymara Ramdani Mohon Tunggu... Orang yang hanya tahu, bahwa orang hidup jangan mengingkari hati nurani

Sebebas Camar Kau Berteriak Setabah Nelayan Menembus Badai Seiklas Karang Menunggu Ombak Seperti Lautan Engkau Bersikap Sang Petualangan Iwan Fals

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bom Bunuh Diri, Puncak Salah Persepsi tentang Jihad

16 Mei 2018   11:41 Diperbarui: 16 Mei 2018   12:17 609 0 0 Mohon Tunggu...
Bom Bunuh Diri, Puncak Salah Persepsi tentang Jihad
Sumber foto; Pixabay.com

Suatu peristiwa yang sangat mengejutkan terjadi di Surabaya. 3 buah gereja di bom dengan dalih suatu persepsi tentang ajaran agama. Pelakunya adalah sebuah keluarga. Ayah-ibu dan 4 orang anaknya yang meledakkan dirinya. Padahal keluarga adalah harta yang paling berharga, kenapa bisa? Belum selesai gereja di bom, Mapolrestabes Surabaya juga di bom, dan juga sebuah rusun di Sidoarjo.

Muncul pertanyaan, mengapa sekarang ini di INdonesia negitu banyak terjadi serangan teror ini? Apakah Indonesia menjadi sasaran teroris dari jaringan internasional? Karena setelah Surabaya, Sidoarjo dan baru-baru ini Mapolda Riau juga di serang?. Semua kejadian itu terjadi menjelang Ramadhan tahun 2018 ini. Apakah sekarang ini Indonesia akan di jadikan sasaran utama para teroris, akibat dari kekalahan ISIS di belahan dunia sana (Suriah dan Iraq)

Bom bunuh diri, adalah sebuah peristiwa yang sangat besar.Bukan hanya melibatkan dirinya sendiri, namun juga orang lain yang terkena imbasnya. Apakah yang menyebabkan mereka mau melakukan bom bunuh diri ini? Apakah mereka tidak tahu tentang makna kehidupan ini? Ataukah penafsiran-penafsirannya yang gagal paham tentang aksi ini? Ataukah, aksi ini adalah penafsiran  mereka tentang sebuah makna jihad? Aku sangat yakin bahwa mereka-mereka itu baik pelaku maupun otak di belakang layarnya adalah mereka-mereka yang cerdas, berpendidikan, dan bahkan mumpuni dalam berdebat tentang tafsiran sebuah ayat al-al-quran.

Contohnya adalah ketika KH Sahlan Nasir dan Slamet effendi Yusuf, yang mencoba maemberikan pencerahan kepada Amrozi, Imam Samudera dan Ali Gufron alias Mukhlas, justru selalu di debat oleh mereka .  Mereka selalu menyebut, orang yang berkeyakinan tidak sesuai dengan pemikirannya adalah kafir. "Saya sudah mencoba meluruskan bahwa jihad bukan berarti melakukan kekerasan atau pembunuhan. Bekerja untuk mencari nafkah buat anak istri adalah Jihad.

Namun mereka tidak pernah menerima itu," terangnya. Namun tetap saja masukan tersebut tidak mengenai nuraninya. Dan perdebatan tersebut tidak pernah ketemu titik temunya. Sehingga walaupun kecerdasan dan keterdidikan yang mereka dapati tak selalu identik dengan perilakunya.karena puncak pendidikan adalah akhlak di kedepankan, yang bersumber dari hati yg penuh welas asih (rahmah) & keinginan berbuat baik pd org lain. Itulah harusnya pemahaman-pemahaman yang di jarkan kepada semua institusi pendidikan kita.

Ketika terjadi  kasus bom bunuh diri/teroris, pasti kita semua mengecam tindakan tersebut, mengutuk apa yang mereka lakukan dan menunjuk langsung kesalahan kepada pelakunya. Padahal jika kita mau sedikit saja introspeksi diri, tentang sebuah jaalannya kehidupan bernegara, sesungguhnya kita semua terlibat dalam ketidakpahaman global dalam memandang sebuah aksi teroris tersebut.

Para ulama atau penceramah juga terlibat, para politisi juga ikut andil, dan para cendikiawan yang diam berperan juga, serta yang tak kalah besar perannya adalah media, baik televisi maupun media online, yang kadang kala mengundang ustad atau penceramah dengan bahasa yang keras dan tema yang keras pul. Serta masyarakat awam yang tidak tahu apa-apa, dengan mudahnya tersulut emosi dengan melihat berita-berita yang berseliweran di tangan mereka. Jadi kita semua sejatinya terlibat dalam pergumulan aksi ini.

Institusi pendidikan kita yang hanya menilai dari nilai akademisnya saja. Sementara, jauh dari kecerdasan intelektual ada lagi kecerdasan-kecerdasan lain yang bahkan lebih dahsyat dalam dari IQ, EQ dan SQ. selama tiga kecerdasan itu yang selalu diangkat dan di kedepankan, nilai-nilai adab dan akhlak kita terpatri dengan baik. Karena puncak kemaslahat di dunia ini adalah Akhlak. Dan berakhlakhlak seperti akhlak allah demikian tersurat dalam hadis qudsi.

Ketika pemahaman tentang jihad yang sudah terpatri kepada mereka-mereka itu, kematian sudah tak begitu penting lagi bagi mereka. Justru dengan kematiannya mereka yang melakukan aksi tersebut dengan yakinnya akan mendapatkan surga. Ini yang masih saya tidak pahami, apakah surga itu bisa menerima orang-orang yang berkeyakinan seperti itu? Yang justru membunuh orang lain, melukai manusia lainnya dan membuat kekacauan ini? Yang saya tahu surga adalah hak preogratifnya Allah, surge akan kita dapati dengan Syafaatnya Nabi Saw.

Bahwa di Indonesia ini yang masyarakatnya heterogen seperti ini, dengan keberagaman budaya dan nilai-nilai bhineka yang sudah tertanam dari kecil, tidak bisa di paksakan menjadi negara Islam. Bahwa ideologi Pancasila adalah sudah final. Bagaimana Bung Karno mengupas satu-persatu setiap sila di depan gedung PBB pada tanggal 30 September 1960, dengan judul pidatonya To Build The World A New Vs To Build a New World. Pidato tersebut pidato yang disampaikan dengan penuh semangat dan berapi-api itu menelanjangi habis-habisan sistem atau konsep yang dibangun oleh barat selama berabad-abad serta dampaknya pada keberlangsungan dunia.

Kembali ke soal teroris, untuk mencegah berkembangnya ajaran-ajaran itu, tanamkanlah pendidikan sejak usia dini tentang menjunjung tinggi adab dan akhlak kepada sesama. Bahwa akhlak adalah yang utama dalam menjalani kehidupan ini dan belajar dari sejarah nabi, apakah anak-anak sekarang sudah diberitahu oleh orang tuanya atau gurunya tentang sejarah Nabi Saw kita yang benar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN