Ire Rosana Ullail
Ire Rosana Ullail Wiraswasta

Membaca untuk menulis. Kolektor buku. Blogger. Enterpreneur. Read & rate pls!

Selanjutnya

Tutup

Cerita Ramlan Pilihan

Target Puasa Saya Sebenarnya Sederhana

16 Mei 2018   18:14 Diperbarui: 16 Mei 2018   18:36 625 2 0

Sekitar 20 tahun lalu, saya masih duduk di bangku kelas 4 SD dan target puasa saya kala itu sederhana, bisa puasa, tarawih sebulan penuh dan khatam Qur'an minimal satu kali selama ramadan. Tak dipungkiri, orang tua mengiming-imingi hadiah menggiurkan andaikan saya berhasil menjalankannya.

Naik di tingkat SMA target sederhana saya tadi rupanya tidak mudah dijalankan. Beberapa teman ada yang berpura-pura puasa, jadi selama di rumah mereka berpuasa sementara di luar rumah mereka makan suka-suka. Menolak ajakan membatalkan puasa tidak semudah mengemukakan soal prinsip kita.

Bagi anak SMA, solidaritas antar teman (meski itu buruk) kala itu sulit untuk diabaikan, jadilah sesekali saya membatalkan puasa. Alasan solidaritas dan takut dibully sesama teman rupanya menjadi godaan yang cukup kuat kala itu. Jadilah target utama saya saat itu yaitu bisa menghindari ajakan teman untuk membatalkan puasa serta meminimalisir alasan untuk tidak berpuasa.

Ketika bekerja, saya justru merindukan kembali target-target ramadan saya ketika masih kecil. Nyatanya target yang dulu begitu sederhana menjadi tidak mudah. Saya kerap lembur sehingga jarang ikut salat tarawih berjamaah.

Suasana pekerjaan juga sering menguras emosi sehingga target menahan emosi memerlukan banyak sekali upaya lebih dari biasanya. Alih-alih ikut tadarus di masjid dan mengkhatamkan Qur'an, sepulang kerja tubuh sudah rubuh dan ingin segera merebahkan badan.

Kini saat menjadi seorang ibu rumah tangga, saya tetap menetapkan target-target lama dan menambah yang baru. Namun, saya menyadari, bahwa target tidak bergeser jauh dari sebelum-sebelumnya, yang membedakan hanyalah kondisi kesulitan yang muncul samban tahunnya. Karenanya selain menetapkan target, saya juga menganalisis hambatan yang akan menghadang serta menetapkan antisipasinya.

Berikut target saya di bulan puasa kali ini ;

Salat tarawih berjamaah di masjid penuh selama bulan ramadan.

Semenjak tidak bekerja, saya tidak punya alasan meninggalkan tarawih karena lembur, salah satu rintangan yang kemungkinan menghadang adalah rasa capek dan malas. Pekerjaan sebagai Ibu rumah tangga tentu tidak berhenti selama ramadan. Kami tetap bersih-bersih rumah, menyiapkan buka dan sahur, mencuci piring, menggosok pakaian, dsb.

Dalam kondisi tersebut, tetap konsisten berangkat tarawih tidaklah mudah, untuk itulah perlu niat yang lebih kuat. Jika perlu persiapkan catatan komitmen dan menempelnya di dinding besar-besar agar kita tidak lupa.

Mengkhatamkan Qur'an minimal 1 kali dan membacanya penuh selama ramadan.

Setiap ramadan tentu membaca Qur'an, namun untuk tetap konsisten membaca setiap hari sampai khatam tidaklah mudah. Semangat ramadan masih 100% di satu minggu pertama, tapi bagaimana dengan minggu ke-3 dan ke-4 di mana godaan shopping lebaran semakin gencar mengincar perhatian dan waktu kita?

Karenanya, untuk mencapai target khatam Qur'an dan membaca penuh Qur'an kita bisa membuat catatan yang dipasang di tembok untuk mengingatkan. Kita juga bisa melibatkan keluarga seperti orang tua, suami/istri dan orang terdekat untuk membantu mengingatkan dengan caraa bertanya, 'apakah kita sudah membaca Al-Qur'an hari ini?'

Salat Subuh Berjamaah di Masjid selama satu ramadan penuh.

Datanglah ke masjid untuk salat subuh ketika awal ramadan, pastinya penuh hingga sering kita tak kebagian tempat. Berbeda halnya dengan minggu berikutnya, di mana jama'ah semakin menipis, makin mendekati lebaran makin lebih terkikis. Begitulah fakta. Untuk berniat itu memang mudah, tapi fokus dan konsisten itu susah. Saya pun demikian, makin ke sana rasa malas makin menjadi-jadi. Semoga tahun ini saya bisa konsisten sampai akhir.

Tidak menggunjing / membicarakan tetangga.

Semua umat islam tahu bahwa menggunjing atau membicarakan orang akan mengurangi pahala puasa. Sebenarnya ini buka sekadar kalimat, tapi peringatan terutama kaum hawa yang dikatakan bermulut ganda. Saat berkumpul dengan sesamanya, kaum hawa sulit menahan diri untuk tidak membicarakan orang lain.

Membicarakan orang lain ada yang disengaja tapi ada juga yang tidak disadari, seolah mengalir begitu saja. Untuk meminimalisir hal tersebut, kita bisa mengurangi intesitas berkumpul yang dianggap kurang penting. Bukan berarti kita tidak bersosialisasi, namun lebih memilih ke hal-hal urgen dan penting lebih dahulu.

Tidak terpancing emosi saat membaca status-status di media sosial.

Tidak dipungkiri media sosial menjadi tempat berkumpulnya keragaman, baik ragam agama, jenis pertemanan, pandangan politik pun pendapat terhadap suatu hal. Jangankan dengan orang banyak, dalam satu anggota keluarga sendiri saja kita sering berselisih paham.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2