Ire Rosana Ullail
Ire Rosana Ullail Wiraswasta

Membaca untuk menulis. Kolektor buku. Blogger. Enterpreneur.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Lemahnya Isu Minat Baca dan Upaya Kota Pontianak Menjaring Pembaca

14 Maret 2018   14:54 Diperbarui: 15 Maret 2018   07:50 661 5 0
Lemahnya Isu Minat Baca dan Upaya Kota Pontianak Menjaring Pembaca
Dokumentasi Pribadi

Di tepi sungai Kapuas, tepatnya di Taman Alun Kapuas (Alun Kapuas Park), ada sebuah bangunan berupa rumah panggung dengan atap melengkung berwarna hijau dan hampir keseluruhan dindingnya tertutup kaca bening. Setelah saya masuk ke dalam, terkuaklah bahwa bangunan tersebut adalah sebuah Taman Baca.

Begitu masuk, buku tamu di sebelah kiri sudah menanti diisi. Di belakangnya, rak penitipan tas warna orange berdiri tegak. Tempatnya tidak terlalu luas tapi cukup nyaman. 

Rak-rak buku berada di tepian, pojok kanan, kiri dan tengah. Sementara bagian tengah menjadi arena untuk membaca. Tinggal pilih, mau model lesehan atau duduk di atas sofa yang empuk.

Menurut informasi penjaga, Taman baca ini buka jam 8 pagi sampai 9 malam tanpa libur. Pemerintah rupanya berupaya menjemput bola, menjaring pembaca di daerah ramai, di mana banyak orang berkumpul. Tujuannya  tentu agar minat baca masyarakat Pontianak terus meningkat.

Data dari Tribunnepontianak.co.id  menyebut jumlah pengunjung Taman Baca Alun Kapuas di tahun 2017 mencapai 12.675 pengunjung. Artinya rata-rata pengunjung perhari sekitar 30 orang. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat. 

Upaya mendekat dan menjaring pembaca seperti pendirian Taman Baca memang sangat perlu. Hal tersebut menindaklanjuti isu rendahnya minat baca. Kedekatan dan kemudahan akses tentunya akan mengurangi satu dari ribuan alasan untuk tidak membaca.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Taman baca ini mengoleksi kurang lebih 3000 buku. Penggagas awalnya tak lain walikota Pontianak sendiri, Sutarmidji. Taman baca ini berada di bawah pengelolaan perpustakaan kota dengan bantuan Bank Indonesia. Totalnya ada 4 titik yaitu di Taman Ultan - Polnep, Taman Alun- Alun  Kapuas, Taman Digulis dan Taman Akcaya.

Isu rendahnya minat baca di negeri ini sudah sering hilir mudik di telinga kita, tapi isu tersebut rupanya kalah populer dibanding isu pemilu maupun kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

Menurut duta baca Indonesia Najwa Shihab, minat baca di Indonesia hanya 0,01 persen pertahun dan berada di peringkat 60 dari 61 negara. Dari sana, berbagai upaya guna merangkul masyarakat sangat diperlukan. Bahkan kalau perlu setiap daerah wajib menjamin warganya tidak kekurangan bacaan.

Jika dilihat dari segi manfaat, rendahnya minat baca bisa dimungkinan karena masyarakat belum menyadari manfaat langsung dari membaca. Hal ini berbeda dengan isu kelangkaan dan mahalnya harga beras, bagi masyarakat jika beras tidak ada, mereka akan kelaparan, jika kelaparan kemungkinan mereka sakit, tidak bisa beraktivitas dengan baik dan paling parah, meninggal dunia. 

Sementara isu seperti kelangkaan buku, sedikitnya jumlah judul buku yang terbit tiap tahun dan mahalnya ongkos beli buku bagi kebanyakan orang tidak berimbas secara langsung. Mereka tetap bisa beraktivitas, mencari nafkah, berwisata, dsb dengan ada atau tidak adanya buku. Kepahaman seperti itulah yang membuat isu buku menjadi tidak begitu penting. Imbasnya minat baca masyarakat pun kurang.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Saya pernah membaca cerpen milik Eka Kurniawan yang berjudul Peter Pan. Ada kalimat yang sangat menggelitik sehubungan dengan perhatian terhadap buku :

Dalam pengakuannya, ia mencuri buku-buku dari perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di seluruh pelosok kota, dari toko-toko buku maupun dari toko loakan. Ia berkata bahwa mencuri buku merupakan tindakan terkutuk dan ia melakukannya dengan harapan bisa ditangkap sehingga ia akan tahu bahwa pemerintah memang mencintai buku dan benci para pencuri buku. Tapi dasar ia memang malang, ia tak juga ditangkap menskipun sudah ribuan buku ia curi.

Cerpen tersebut berusia 18 tahun tapi tantangan untuk meminta perhatian terhadap buku sampai dengan hari ini masih digaungkan banyak orang. Pemkot Pontianak hanya satu dari banyak pemerintah kota lain yang berupaya meningkatkan minat baca masyarakatnya. 

Namun, berat bila membebankan isu minat baca hanya kepada pemerintah, dan duta baca saja. Akan lebih baik bila semua pihak mulai menyadari dan saling mengingatkan alangkah menyenangkan dan pentingnya membaca buku.

Sebenarnya kita juga bisa lho jadi duta baca kecil-kecilan selingkup keluarga hingga lingkungan. Mulai dari mengenalkan buku bacaan dan menularkannya kepada keponakan, teman dekat, tetangga. Setahu saya, hal paling sederhana untuk mulai menyukai bacaan adalah memilih buku/ bacaan yang kita suka. Katakanlah kita suka otomotif, maka baca buku-buku tentang otomotif, atau kita suka memasak, mulai dari buku-buku yang bertema masakan.

Bicara soal menularkan, dulu sewaktu saya masih duduk di bangku SMP, pernah diejek teman-teman dekat dengan panggilan kutu buku karena seringnya bolak balik ke perpustakaan. Suatu kali saya mengajak mereka mengunjungi perpusda. Mereka menolak dengan banyak alasan. Ada yang bilang pusing kalau lihat buku, ada yang takut dikatai kutu buku, dan semacamnya.

Dengan sedikit pengertian, saya menjelaskan bahwa buku-buku yang ada di perpusda itu bermacam-macam, ada buku masakan, ada novel remaja, ada majalah bahkan komik pun ada, jadi tidak melulu soal bacaan berat. 

Mungkin dalam pandangan mereka perpustakaan selalu identik dengan buku pelajaran atau bacaan berat layaknya Perpus di sekolah kami. Dan benar, setelah mereka menginjakkan kaki di perpustakaan, mereka memutuskan untuk mendaftar karena ada buku yang menarik perhatian. Setelahnya, mereka sendiri yang bertanya kapan lagi ke perpustakaan?

Sampai saat ini pun saya perlahan-lahan menularkan hobi membaca kepada tetangga dan ibu-ibu muda sebaya saya. Selalu saja ada penolakan dengan banyak alasan. Kata mereka sudah bukan waktunya lagi membaca buku, karena harus mengurus anak, atau sudah pusing duluan dengan pekerjaan dan masalah rumah tangga yang menumpuk. 

Saya jelaskan kepada salah satu teman dekat bahwa buku bisa menjadi penghibur sekaligus teman. Novel misal, saat membacanya, rasanya seperti punya teman baru yang mengerti dan mendengar permasalahan kita. Setiap kata yang terangkai dalam novel adalah komunikasi dan kesepahaman antara si tokoh dan pembaca.

Sekarang, teman saya itu jadi lumayan suka membaca. Saat anak tidur siang atau malam ia akan mulai berimajinasi dengan buku-buku bacaan. Membaca novel membuatnya terhibur dan bersyukur. 

Konflik-konflik yang dihadirkan di dalam buku membuatnya menyadari bahwa bukan ia sendiri di dunia ini yang punya masalah. Cara si tokoh menghadapi masalah cukup memberi input bagaimana harus bersikap saat benar-benar menghadapi masalah di dunia nyata.

Manfaat yang didapat dari membaca buku sangat luas dan variatif. Tapi bila kita coba memulainya, manfaat itu akan semakin meluas. Bagi saya pribadi hadirnya buku-buku adalah salah satu bukti jaminan Tuhan untuk kebahagiaan manusia.

"There is no friend as loyal as a book." -- Ernest Hemingway