Mohon tunggu...
Diany R
Diany R Mohon Tunggu... Guru - life goes on.

still learning to be a good writer.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Berjuang Melawan Kanker, Tekad Dagang Mbok Um Tetap Membara

28 Juni 2021   07:51 Diperbarui: 28 Juni 2021   08:02 96 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berjuang Melawan Kanker, Tekad Dagang Mbok Um Tetap Membara
Toko Mbok Um “Aulia” yang berada di dekat TPR Samas kiri jalan Dusun Ngepet, Srigading, Sanden, Bantul, DIY. (Diany R/Penulisan Feature-dopkri)

Penyakit kanker yang telah lama mendekam di tubuh Mbok Um tidak melunturkan semangatnya untuk tetap menjajakan barang dagangannya. Toko kecil yang sudah mengiringi hidupnya selama 52 tahun tidak pernah ditinggalkannya bahkan sehari saja.

Mbok Umiyati atau yang biasa dikenal orang-orang dengan sebutan Mbok Um adalah seorang wanita yang berusia 72 tahun. Toko Mbok Um termasuk satu-satunya toko yang berdiri sejak lama menjadi tempat belanjannya warga setempat, seperti bensin, rokok, makanan ringan dan minuman hingga jajanan pasar, hingga kebutuhan memasak. Jadi, toko ini sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat sekitar sebagaimana tercukupinya kebutuhan pangan dan barang dengan harga yang terjangkau juga sebagai pelopor pengusaha dagang.

Sejak toko didirikan pada tahun 1968, ia dulu hanya berjualan gorengan-gorengan, kemudian bertambah seperti rokok dan sprite seiring dengan objek wisata Pantai Samas yang ramai akan pengunjung. Ditambah lagi, dahulu terminal bus tepat berada di depan toko kecil Mbok Um yang berdiri sendiri tanpa ada teman berdagang lainnya. “Pantai Samas sangatlah populer, dulu saya berjualan kacang goreng bisa habis sepuluh kilogram per harinya,” kata Mbok Um, Rabu (23/6). Terlebih lagi, karena sekarang dibangun Jalan Lintas Selatan (JLS) dan bertambahnya objek wisata pantai seperti Goa Cemara, toko yang terletak di sisi Jalan Samas ini pun kian ramai pembeli tidak hanya warga sekitar seperti turis dan pemancing.

Seiring berjalannya waktu dan usia Mbok Um semakin menua, yang dahulu mulai berdagang mulai dari menginjak angka 20, ia tidak pernah sekali pun meninggalkan tokonya bahkan sehari, setiap hari dia berjualan hingga tokonya yang sekarang dinamai toko Aulia, sudah penuh diisi dengan berbagai kebutuhan rumah tangga dan macam-macam barang dagangan. Bahkan ketika ia mulai merasakan sakit yang perlahan tumbuh dan menumpuk, ia hanya percaya kepada obat-obatan pereda sakit yang tersedia di toko kelontong kecilnya. Karena paksaan dari saudaranya dan orang-orang yang prihatin melihat keadaan Mbok Um yang terus menerus sakit-sakitan, ia bersedia untuk diperiksakan ke rumah sakit.

Entah kapan sebenarnya ia mulai merasakan sakit yang terus ditahannya, tidak ada yang menduga bahwa ada penyakit kanker yang diam-diam telah menggerogoti tubuhnya selama beberapa tahun. Sudah jatuh tertimpa tangga, ketika ia mengetahui pahit kenyataan bahwa kanker bertumbuh di ususnya sudah menginjak stadium akhir. Untuk itu, ia terpaksa menutup tokonya untuk beberapa hari sekedar menenangkan diri dan mencari solusi. Masih pula ia tidak percaya dengan penyakit yang dideritanya hingga ia menolak untuk melakukan pengobatan untuk kanker dan hanya sekedar meminta obat pereda nyeri dan sempat ditolak mentah-mentah oleh dokter mengingat keadaannya yang sudah buruk.

Hari demi hari berat dilalui Mbok Um dengan tetap membuka tokonya, berjualan sendirian dengan semangat yang tak pernah luntur. Setelah paksaan demi paksaan dari keluarga dan rasa sakitnya yang kian menjadi-jadi. Keputusan finalnya tetap membuka toko meskipun ia sedang menjalani pengobatan kemoterapi. “Toko saya harus tetap buka,” ujarnya. Meskipun sejak mulai merasakan sakit ia telah mempunyai beberapa pekerja yang membantunya, tetapi pada saat itu kursi pekerja tokonya kosong dua sekaligus dan membuat keponakannya yang membantu berdagang.

Kemudian sesudah menjalani operasi dan sampai sekarang kemoterapi, keadaan Mbok Um dengan mukjizat yang diberikan Tuhan, kondisinya membaik. Walaupun bekas operasi masih sakit, nafsu makan masih sulit, dan ia hanya minum susu dan makan buah-buahan untuk membantunya bertahan, ia masih kuat untuk sekedar berjualan sebentar membantu pekerja ketika toko sedang ramai-ramainya. “Akhir-akhir ini sudah enak, mungkin karena proses kemoterapi tinggal satu kali lagi, alhamdulillah organ lainnya seperti jantung, paru-paru, ginjal bersih dan tidak terdapat gejala stroke.”

Meskipun pelupa karena faktor usia dan sakitnya, sekarang ia masih berdagang sesekali dengan dibantu kedua pekerja barunya. Walaupun dulu ia dikenal sebagai orang yang pemarah, selektif, dan tegas, tapi mungkin itu adalah faktor yang bisa menjadi penentu kesuksesannya dalam menjalankan usahanya hingga 52 tahun lamanya. Namun dibalik itu, terdapat sifatnya yang jarang diketahui oleh orang awam, yaitu penyayang dan suka membantu orang lain, “Manusia itu ada lupanya, dan sebisa saya membantu orang lain, walaupun kondisi saya pun kurang memungkinkan.”

Menurutnya, karena tidak banyak orang yang membuka usaha dagang disini, dan ia termasuk ke salah satu pengusaha dagang yang pertama berdiri di dekat pintu masuk Pantai Samas bisa menjadi contoh dan pelopor bagi masyarakat lain yang ingin membuka usaha dagang seperti dirinya. Untuk itu, sebagaimana manusia yang mendapat cobaan dari Tuhan itu karena sebetulnya ia disayangi. Dan semua masalah yang terjadi bisa dicari solusinya, selama manusia itu masih hidup dan makan dengan baik, seperti pesan yang disampaikan oleh Mbok Um kepada Saya dan pembaca, “Jangan juga abaikan orang-orang disekitarmu yang sayang kepadamu, karena entah apa yang akan terjadi, mereka adalah orang-orang yang akan membantumu,” ujar Mbok Um menutup cerita. Jadi, selama kamu masih mampu, kenapa tidak berusaha?

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x