Mohon tunggu...
Isa Azahari
Isa Azahari Mohon Tunggu... Konsultant SDM

Pemerhati Pembangunan Ibukota Negara Baru. Ngakunya milenial dan Ingin berkontribusi lebih.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Sarjana adalah Ilmuwan yang Belum Jadi

5 April 2020   14:15 Diperbarui: 5 April 2020   14:06 70 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sarjana adalah Ilmuwan yang Belum Jadi
Foto: Thinkstockphotos

Hakikat dari menempuh pendidikan di Universitas adalah untuk menjadi Ilmuwan, atau dengan kata lain untuk meraih gelar Doktor. Untuk mendapatkan gelar Doktor itu, seseorang harus melewati beberapa jenjang. Gelar Doktor adalah gelar yang diberikan kepada skolar (warga  universitas) yang telah lulus ujian tesis di depan para Senat Guru Besar di Universitas tempat dia belajar. Dimana Tesis adalah suatu temuan baru atau pemikiran yang baru (novelty) atau memperbaharui teori sebelumnya. 

Pada masa sebelum tahun 1990 mahasiswa Indonesia yang baru selesai lulus ujian skripsi langsung mendapat predikat Doktorandus disingkat Drs (bidang ilmu teknik dan pertanian gelarnya: Insinyur, Ir). Predikat ini mereka tempuh setelah masa kuliah rata-rata lima setengah tahun. Arti sesungguhnya dari kata Doktorandus (dari bahasa Belanda) adalah : "Calon Doktor" atau "Ia yang akan dijadikan ilmuwan/doktor". 

Makna dibalik predikat Doktorandus adalah; seseorang yang sudah selesai menempuh pendidikan dasar bidang keilmuan tertentu (faculty) dan siap melanjutkan ke jenjang berikutnya untuk meraih gelar sebagai Ilmuwan/Doktor.

Model pendidikan dengan gelar doktorandus setelah lulus ujian skripsi mengikuti model pendidikan Belanda. Seorang yang baru lulus ujian skripsi diberi gelar doktorandus dan berhak mengikuti program doktoral.

Permasalahan timbul ketika para sarjana (Drs) Indonesia itu hendak melanjutkan pendidikannya ke luar negri. Di Amerika Serikat peserta program Doktoral adalah mereka yang telah lulus Magister (Master). Ijasah sarjana Drs dari Indonesia tidak diakui setara dengan Master. 

Maka setelah 1990 gelar Doktorandus tidak lagi diberikan pada lulusan baru universitas. Dan model pendidikan Universitas di Indonesia menganut model Amerika. Yaitu: Jenjang S-1 (strata satu) tingkat Sarjana; Jenjang S-2 tingkat Pasca Sarjana dan Jenjang S-3 tingkat Doktoral.

Jadi bila seseorang lulus sebagai Sarjana dari sebuah universitas maka dia baru melewati jenjang pertama dari tiga jenjang yang harus ditempuhnya. Pada jenjang ini (disebut lulus S-1) seorang peserta didik sudah dibekali materi keilmuan secara teoritis. Lulusan S-1 ini dianggap sudah punya pengetahuan dasar terhadap ilmu yang digelutinya, namun dia belum boleh mengaplikasikannya atau mempraktekkannya keluar. Dia harus mengasah keterampilannyaa dulu. Untuk itu dia harus melanjutkan ke jenjng berikutnya yaitu Strata-2.

Strata-2 atau Pasca Sarjana adalah jenjang dimana sarjana mengasah keilmuannya agar bisa diaplikasikan ke dunia luar. Pada tahap ini lulusan sarjana itu dibuat terampil dan mahir (mastering) menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Pada jenjang ini biasa disebut sebagai pendidikan profesi. 

Seorang sarjana ekonomi belum boleh secara mandiri melakukan pekerjaan akuntansi untuk perusahaan, sebelum ia menempuh pendidikan Akuntan di jenjang S-2. Atau seorang sarjana hukum belum boleh bekerja sebagai Notaris sebelum dia mengambil pendidikan Notariat. Demikian juga seorang psikolog, adalah seseorang yang telah mengambil pendidikan Profesi Psikologi di jenjang S-2. Setelah itu barulah dia boleh menangani konseling atau menjadi konsultan.

Seorang Master (lulusan S-2) bila dalam prakteknya sehari-hari merasa mempunyai pemikiran baru atau menemukan hal-hal yang sifatnya baru (novelty) dia boleh mengajukan tesisnya di depan senat guru besar untuk diuji. Bila dia berhasil mempertahankan pemikirannya maka dia akan diangkat sebagai anggota senat dan dianugerahi gelar Doktor.

Untuk mendapatkan gelar Doktor tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang. Tergantung kesiapan dan fundamental keilmuan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang akan dipromosikan sebagai calon Doktor (disebut promovendus) harus benar-benar siap mempertanggung jawabkan pemikirannya atau temuannya di depan tim penguji. Agar usahanya tidak sia-sia maka seorang promovendur akan dibimbing oleh Promotor yang dibantu oleh dua atau lebih ko-promotor.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN