Muhammad Ruslan
Muhammad Ruslan

Pembelajar seumur hidup. Menekuni aktivitas: mengamati, mendengar, membaca dan sesekali menulis singkat. Email: pedagogikritis@gmail.com. Blog: pedagogikritis.bogspot.co.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kematian, Kisah tentang Kesedihan

30 Oktober 2018   21:16 Diperbarui: 30 Oktober 2018   22:05 276 4 0
Kematian, Kisah tentang Kesedihan
gambar: plukme.com

Bumi terasa gelap, ketika kita sedih, kita benar-benar sadar betapa rapuhnya kita manusia. Satu-satunya keajaiban yang tak mampu manusia pecahkan sejagat adalah kematian itu sendiri.  Kita tak pernah bisa tahu, kapan, dan bagaimana kita berakhir. Yang kita tahu hanyalah bahwa kita semua sebelum sejak dilahirkan telah menanggung beban takdir yang tak dapat ditolak yang bernama kematian.

Tapi begitulah hukumnya. Kematian selalu menorehkan sisa kesedihan bagi yang ditinggal. Seorang kawan FB menulis di dinding Facebooknya beberapa menit lalu. Ia berkata kalaulah saja Tuhan berkhendak akan kematianku, barangkali aku sudah siap. Yang tak bisa aku katakan siap, adalah memikirkan anak-anakku, betapa menderitanya mereka hidup didera rindu kehilangan ayahnya.

Kematian adalah jalan takdir tertunda bagi yang hidup. Ia  adalah puncak kehidupan, persis ketika kohesi partikel-partikel yang menyusun kehidupan tubuh terhenti dan terlepas, disitulah kehidupan ikut terhenti. Kematian adalah puncak dari keseluruhan rasa sakit . Bahkan ia juga bermakna sebagai puncak pembebasan dari rasa sakit yang ditimbulkan oleh kehidupan seperti kata Socrates. Namun sayangnya, kematian selalu menyisakan kesedihan tak tertara bagi yang ditinggal.

Meski kematian adalah puncak dari pembebasan atas rasa sakit. Tapi ada rasa sakit lain yang ditanggung di luar itu. Rasa sakit yang bersumber dari kerinduan ketika dua entitas yang selama ini hidup bersama, lalu harus berpisah. Ketika apa yang manusia sebut jiwa itu terpisah dengan inang tubuhnya lalu kembali ke asalinya dalam keabadian masing-masing. Yang materi akan kembali ke alamnya, sedang yang non-materi itu juga akan menuju alamnya yang sempurna. 

Karena itu benar ketika dikatakan bahwa kematian adalah sebuah kisah perpisahan totalitas. Bukan hanya antara mereka yang pergi dan yang ditinggal. Tapi lebih dari itu, kematian adalah kisah perpisahan romantis yang paling sakit antara jiwa dan tubuh.

Di dalam tradisi-tradisi kuno di belahan Asia Timur, kematian digambarkan layaknya dua pasang manusia yang mewakili jiwa dan tubuh. Tubuh adalah pangeran yang lahir di bumi, sedang jiwa digambarkan sebagai putri khayangan yang turun dari langit. Lalu bertemu; saat ketika jiwa dan tubuh saling jatuh cinta, jadilah kehidupan yang baru. Hingga akhirnya ketika  masa tiba tepat di bulan purnama pada hitungan masa takdir tertentu, sang putri khayangan harus kembali ke asalinya. Begitulah kesedihan menyelimuti kehidupan bumi yang disebabkan oleh perpisahan.

Apa saja yang telah menyatu lalu dipisahkan, maka selalu saja ada rasa sakit yang timbul disitu berwujud kesedihan. Dan manusia tak bisa merubah hukum itu untuk bisa lari dari kenyataan-kenyataan itu.

Meski kematian adalah akhir, namun ia bisa mengajarkan banyak kebijaksanaan bagi yang hidup. Pada titik tertentu kematian juga mengungkapkan kebenaran sesungguhya tentang hidup dan kehidupan itu sendiri.

Tentang keputusasaan, kesedihan, dan segala absurditas hidup yang menyertainya. Pertanyaan umum yang selalu menggangu kita---bahkan tidak sedikit pemikir-pemikir besar---juga ikut terganggu dengannya, yakni pertanyaan: apa artinya hidup ketika ada yang kita sebut kematian?

Tolstoy (1828-1910), seorang pemikir besar berkebangsaan Rusia, mencoba menggambarkan pergulatan batinnya dalam buku yang ia tulis berjudul A Confention di masa-masa tuanya, mencoba mengungkapkan kegelisahan-kegelisahan itu. Pergulatannya terhadap gambaran keberadaan kematian membuatnya berpikir bahwa kebenaran tentang kehidupan itu sendiri adalah kesia-siaan itu sendiri. Kematian telah membuat kehidupan tak berarti.

"Kebenaran adalah bahwa hidup itu tak berarti, kata Tolstoy. Telah kujalani hidup,berjalan dan berjalan, dari suatu ilmu ke ilmu lain kugeluti, sampai aku tiba di tebing curam dan melihat dengan jelas tak ada apapun didepanku kecuali kematian. Tak mungkin untuk berhenti, tak mungkin untuk kembali dan tak mungkin untuk menutup mata atau menghindar untuk tak melihat bahwa tak ada apapun di depan selain penderitaan dan kematian nyata---sebuah pembinasaan sesungguhnya.

Tolstoy, menggambarkan kehidupan-kematian itu dalam kisah pengembara dari timur. Konon kabarnya, ia mengisahkan ada seorang pengembara yang lari dikejar harimau ganas di suatu hutan belantara. Pengembara ini akhirnya lolos, namun sialnya ia lolos justru karena jatuh disebuah lubang perigi kering.  Ia merenggut ranting kecil pada celah lubang itu sembari bergelantung. Celakanya persis dibawah lubang perigi itu terdapat naga besar yang sedang membuka mulut menunggu kejatuhannya untuk ditelannya.

Begitulah kehidupan-kematian berlangsung. Sang pengembara tak punya pilihan selain menunggu masanya, ranting kecil yang ia renggut itu akan rapuh, hingga akhirnya mati di mulut naga. Atau bisa juga ia bersikeras naik ke daratan, namun ia tetap akan tahu bahwa hidupnya juga akan berakhir di mulut harimau yang menunggunya di daratan.

Tolstoy sendiri meninggal pada tahun 1910. Ia meninggal pada suatu malam ketika ia meninggalkan rumahnya, hingga jatuh sakit, hingga akhirnya meninggal di sebuah stasiun kereta api. Begitulah kisah-kisah dan rupa-rupa manusia menjemput takdir kematiannya masing-masing. Tak terkecuali pada saudara-saudari kita yang dirundung musibah. Semoga diberi jalan yang lapang di kehidupan selanjutnya..