Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Cinta yang Diacuhkan (GagasMedia, 2017); Barichalla (Mizan Fantasy, 2017) Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Hijau highlight headline

Akal-akalan Manusia yang Asal-asalan

15 Juni 2017   16:22 Diperbarui: 16 Juni 2017   13:02 45 6 0
Akal-akalan Manusia yang Asal-asalan
Ilustrasi: peta.org

Kita tahu, manusia tergolong makhluk hidup. Ini materi pelajaran biologi yang sudah kita cerap sejak kecil. Sebagai makhluk hidup, manusia setara dengan hewan dan tumbuhan. Pembedanya, manusia dikaruniai akal. Olah akal melahirkan pikiran, olah pikiran menumbuhkan budi.

Anugerah akal jualah alasan sehingga manusia didaulat menjadi khalifah di muka bumi. Suka tidak suka, manusia mesti mendayagunakan seluruh daya akalnya untuk menata dan merawat keseimbangan dan kelangsungan kehidupan seluruh penghuni bumi.

Tak dinyana, akal pula musabab manusia menjadi sewenang-wenang. Kecewa gara-gara sesuatu, binatang yang disalahkan. Anak bandel, anjing dibawa-bawa. Proyek batal, babi diseret-seret. Kesal karena lama menanti seseorang, kampret disebut-sebut.

Ternyata itu belum cukup. Teman pemalu digelari malu-malu kucing; kawan tidak tahu persoalan dinamai kura-kura dalam perahu; sahabat berkhianat disebut serigala berbulu domba. Masih pula ditambah. Lidah ular, otak udang, akal bulus, lelaki buaya, ayam kampus, singa podium, adu domba. Mau menabung saja bawa-bawa celeng.

Sepertinya akal orang yang gemar membawa-bawa binatang saat kecewa, kesal, atau marah perlu dijejali ulang pelajaran biologi. Biar mudah membedakan mana babi mana anjing, mana buaya mana singa, mana serigala mana domba. Atau, disesaki lagi perkara "derajat yang lebih ditinggikan dibanding binatang".

Kandangrindu, Juni 2017

---

Catatan: Tulisan ini dianggit tak seberapa lama setelah hujan reda. Dan, beberapa saat seusai mendengar makian seorang pejalan yang terciprati air dari genangan yang dilindas ban mobil mewah.