Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Mbah Surip, TVRI, dan Sentilan Admin Media Asal Rusia

2 April 2021   07:30 Diperbarui: 3 April 2021   18:43 2057
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mbah Surip dengan gaya rastafarian yang khas (Foto: Kompas/Priyo,mbodo)

Ia telah pergi, tetapi lagu-lagunya abadi. Riang. Jenaka. Mudah dicerna. Selain Tak Gendong, saya juga intim dengan lagu Bangun Tidur. Lagu yang menyindir dengan cara jenaka tabiat orang yang ingin sukses, tetapi malas berusaha. Sudah bangun, tidur lagi. Mantep, to!

***

Logo TVRI dulu (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)
Logo TVRI dulu (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)
Televisi Republik Indonesia. Singkatannya, TVRI. Stasiun televisi pertama di Indonesia. Pada awal kelahirannya, TVRI dirancang untuk memeriahkan Asian Games 1962 di Jakarta. Bung Karno ingin ada stasiun televisi nasional yang meliput pesta olahraga terakbar di Asia itu.

TVRI akhirnya melakukan siaran uji coba. 17 Agustus 1962. Menu pertama adalah liputan siaran langsung pidato Presiden Sukarno. Sepekan kemudian, 24 Agustus 1962, TVRI resmi mengudara. Liputan utamanya adalah Asian Games 1962.

Seusai penyelenggaraan Asian Games 1962, TVRI belum memiliki program acara. Akhirnya setiap hari, dari Senin hingga Jumat, selama 30 menit, TVRI menyiarkan film yang diproduksi oleh Pusat Film Negara (PFN). Begitu terus hingga 2 November 1962. 

Belakangan ini, setelah kemunculan pesaing di dunia pertelevisian, TVRI dikepung pesaing. Meski begitu, TVRI tetap eksis, bertahan, dan masih menyuguhkan banyak acara. Kemarin, TVRI mencuat di puncak tren perbincangan di Twitter.

Gara-gara kesalahan Admin Twitter TVRI Nasional menulis kata "ditembak" dengan "di tembak", akun TVRI disentil oleh Admin RBTH Indonesia. Akun tersebut merupakan akun media asal Rusia. Adminnya pun bertugas di sana, tetapi fasih berbahasa Indonesia. Bahkan, admin RBTH menguasai kaidah penulisan bahasa Indonesia.

Akun Twitter @TVRINasional ditembak oleh admin akun RBTH Indonesia. Sebagai salah seorang penyuka bahasa Indonesia, saya turut berkomentar atas peristiwa itu. Lucu sekaligus menggemaskan. 

Akan tetapi, bukan di situ puncak hebohnya. Admin TVRI mengakui kesalahan, bahkan meminta maaf kepada seluruh pemirsa di antero Nusantara. Melakukan kesalahan sangatlah biasa, tetapi mengakui kesalahan bukan sesuatu yang biasa. Apalagi dilengkapi dengan permintaan maaf.

Pernah suatu ketika seorang guru besar, staf ahli menteri pula, kedapatan menyebar video hoaks. Alih-alih meminta maaf, sang guru besar justru sibuk menata alasan. Dalihnya eksperimen, padahal keliru. Mengakui kesalahan sungguh tidak mudah, lebih tidak mudah lagi meminta maaf.

Jiwa besar. Itulah esensi pengakuan kesalahan dan permintaan maaf admin TVRI. Bukan soal lagi bagaimana si admin linglung membedakan "di" sebagai kata depan dengan "di-" sebagai awalan, melainkan kemauan dan kemampuan mengakui kesalahan. I love you full, Mimin!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun