Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Lakuna (Diva Press, 2021). Twitter/IG: @1bichara.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Bisakah Kita Membenci Produk Asing?

5 Maret 2021   11:25 Diperbarui: 5 Maret 2021   11:28 265 51 14 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bisakah Kita Membenci Produk Asing?
Presiden Joko Widodo (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)

Tidak bisa. Saya tidak bisa membenci produk asing. Itu jawaban saya. Mungkin subjektif, tetapi saya bisa mengajukan beragam argumen objektif. Tidak usah jauh-jauh. Artikel ini saya tulis menggunakan abjad Latin. Jelas sekali bahwa abjad Latin bukan produk dalam negeri. Apakah saya harus menulis artikel ini menggunakan abjad Pallawa atau Lontarak?

Itu baru dari satu sisi. Masih pada kisaran abjad. Bersepatu, contoh lain, juga bukan produk asli Indonesia. Apakah bisa seseorang memasuki Istana Negara dengan kaki nyeker? Belum tentu. Baru masuk gerbang saja sudah dipelototi petugas jaga. Jangankan masuk Istana Negara, masuk kantor lembaga atau organisasi saja bisa dituding tidak sopan kalau tidak bersepatu.

Bahkan untuk barang atau benda yang kita bisa produksi sendiri pun masih ada potensi impor. Ambil contoh beras. Kita tidak bisa ujuk-ujuk menolak beras dari luar. Pertimbangannya harus matang. Produksi beras dalam negeri harus mampu memenuhi kebutuhan beras seluruh warga. Jika tidak, bakal rusuh.

Ketika gabah surplus pun masih ada masalah. Harga beras anjlok, petani gigit jari. Belum lagi jika kita mau membincangkan kepedulian pemerintah atas nasib petani. Banyak persoalan petani yang tampaknya luput dari perhatian pemerintah. Pupuk susah dicari, misalnya. Susah mendapat modal usaha, misalnya. Tidak ada jaminan harga pasar, misalnya. Repotlah!

Kebutuhan sakelar listrik, misalnya, tidak bisa sepenuhnya dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Tidak heran jika sakelar di rumah saya diimpor dari Cina. Kebutuhan lift, elevator, dan eskalator, misalnya lagi, tidak bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Padahal konsumsinya amat tinggi. Bukan hanya di mal, tiga benda itu banyak dipakai di mana-mana.

Dengan demikian, seruan Presiden Jokowi menjadi angin yang berembus sia-sia. Tiada guna. Kita selaku rakyat pasti sukar memenuhi permintaan presiden. Apakah rakyat yang menggunakan produk asing dapat disebut pembangkang? Tidak mungkin, sebab banyak sisi kehidupan yang mesti berjalan hanya dengan menggunakan produk asing.

Penulis yang mesti menggunakan laptop pun harus bersentuhan dengan barang-barang impor. Word yang saya gunakan bukan buatan anak Indonesia. Mesin peramban yang kerap saya pakai menyisir dan menyasar data juga bukan buatan anak Indonesia. Apakah saya mesti membenci produk asing? Tidak bisa, sebab tidak semua yang berasal dari luar negeri layak saya benci.

Saya juga mesti membahagiakan diri sendiri dengan menonton Liga Spanyol, Liga Inggris, dan Liga Italia. Semuanya produk asing. Bukan berarti saya tidak mencintai Liga Indonesia, bukan. Saya penggemar PSM Makassar, tetapi saya juga suka menonton liga asing. Apakah saya salah?

Satu lagi. Saat ini kita masih berada dalam intaian virus korona. Vaksinasi digalakkan di mana-mana. Nah, vaksin yang kita gunakan pun masih kita impor dari luar. Bukan produk sendiri. Mau kita hentikan begitu saja? Tidak bisa, sebab uang negara sugah digelontorkan.

Kasihan juga jadinya apabila seruan Presiden Jokowi dijadikan bahan olok-olok oleh netizen. Alih-alih diindahkan, malah dipermainkan. Hal itu membuktikan lemahnya sistem komunikasi yang ditata dan dibangun oleh pemerintah. Blunder berkali-kali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN