Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019).

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Diari Itu Candu, Begitu Fatwa Engkong Felix

22 Januari 2021   17:00 Diperbarui: 22 Januari 2021   17:35 351 54 30 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Diari Itu Candu, Begitu Fatwa Engkong Felix
Lelaki yang terus menulis (Ilustrasi: dorrancepublishing.com)

TAHUKAH Anda peristiwa apa yang paling membahagiakan? Kata Engkong Felix, menemukan titik noda atau kesalahan orang yang benar. Tentu saja Anda punya jawaban sendiri, sama seperti saya, maka jawaban Engkong Felix sebaiknya sama-sama kita jauhkan dari benak. Itu sesat.

Mengapa saya berkata demikian? Coba teman-teman tilik artikel Engkong Felix. Dalam artikel yang berjudul Kesalahan Berbahasa Daeng Khrisna Pabichara, Engkong Felix merayakan kebahagiaan dengan penuh sentosa. Seakan-akan tiada lagi kegembiraan melebihi noda berbahasa dari sosok bernama Khrisna Pabichara.

Menemukan kesalahan orang benar itu membuatku sungguh senang, sangat senang, sampai terdungu-dungu. Anjuran sosiolog yang senang mencangkul di ladang kata itu janganlah kita tiru. Sekali kita tiru, bisa-bisa kita kerasukan setan kepo dan terus terangsang untuk mencari-cari kesalahan orang. Itu sesat dan menyesatkan. Tampaknya, iblis pun takjub.

Perbandingan yang dijadikan fondasi kelit Engkong Felix pun sungguh tidak setara. Siapalah itu si nabi munsyi, itu sebutan khas Engkong Felix, bernama Khrisna Pabichara, sehingga dibandingkan dengan sosok terdepan di dalam satu negara. Dalam hemat saya, Khrisna hanyalah remah rengginang yang kadang tersasar salah tempat di kaleng kue lain.

Tidak bisa begitu, Poltak. Eh, maaf, Engkong Felix. 

Apa soal Khrisna disebandingkan dan disetandingkan dengan presiden? Jauh rokok dari korek, Engkong. Seorang Presiden punya kuasa untuk memperbaiki segala-gala yang rusak di dalam negara yang ia pimpin. Seorang Khrisna tidak punya kuasa apa-apa, daya apa-apa, peranti hukum apa-apa, bahkan sekadar untuk memperbaiki tata bahasa orang lain.

Itu menurut amatan dangkal saya. Namun, kita maklumi saja. Kita tonton secara saksama saja tikai ide antara Engkong Felix dan Daeng Khrisna.

***

PADA bagian lain, setelah meloncat-loncat kegirangan seperti pemandu sorak ganjen di tepi lapangan basket, Engkong Felix menajamkan kegembiraannya lewat fatwa tentang tanda koma yang dilupakan oleh Daeng Khrisna. Tentu saja itu temuan menarik apabila kita mengingat ketelitian Daeng Khrisna tatkala mengudar pernak-pernik kesalahan berbahasa.

Benar begitu? Belum tentu. Kita semua mafhum bahwa Khrisna adalah murid bengal dari sang suhu bernama Engkong Felix. Jadi, Khrisna sepertinya tengah memberikan ruang bagi sang suhu untuk kembali menurunkan ilmu baru, jurus baru, dan trik baru agar makin si murid kian matang dalam menata argumentasi akademis. Bisa jadi, ya.

Kadang-kadang murid yang sudah lama turun gunung kembali ke pesanggrahan menemui gurunya. Biar dapat bekal baru, biar bisa terjun lagi ke rimba persilatan. Saya pikir itu yang diinginkan oleh Khrisna dari gurunya. Pendek kata, biar gurunya melek lagi. 

Faktanya, peluit di bibir sang suhu langsung berbunyi. Bunyinya nyaring sekali. Sang suhu begitu gesit menyemprit sang murid. Wasit yang ngos-ngosan di lapangan bola saja kalah gesit. Itulah rasa-rasanya yang diinginkan oleh Khrisna. Semacam ajakan kepada sang suhu agar tidak enak-enakan di kursimalas, agar tidak berlama-lama di balik selimut, agar segera berfatwa lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x