Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Bangkai Kecoak

14 September 2020   22:24 Diperbarui: 14 September 2020   22:46 483
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: newatlaas.com

Tomat busuk. Cabe kering. Sayuran layu. Aku mengempaskan pantat ke kursi plastik. Kemarin rugi, sekarang rugi. Buntung lagi. Orang-orang melihat pasar bagai melihat kuburan. Angker. Menakutkan. Cukup satu pedagang positif korona, seluruh pedagang langsung dikarantina pembeli.

Tiga bulan lalu, pasar tidak pernah sepi. Ada saja yang menawar tomat. Tidak apa-apa. Yang penting laku. Bahkan Asar pun masih ada satu-dua orang yang berbelanja. Sekarang boro-boro. Sepi. Pukul sebelas siang sudah seperti pukul tiga sore. Jangankan hari biasa, Rabu pun sunyi.

"Susah benar nyari uang!"

Suara merdu merayap di telingaku. Tanpa mendongak pun aku sudah tahu siapa yang mengeluh. Eros. Suaminya sudah setahun jadi kuli di Timur Tengah. Ia sekarang yang menunggui kios. Mondar-mandir seperti setrikaan. Itu pekerjaannya setiap pasar dipukul sunyi.

Bukan karena kurang sopan sehingga aku tidak menanggapi gerutuannya, bukan. Aku tidak ingin hatiku bermasalah. Sebelumnya aku biasa-biasa saja. Aku tidak pernah merasakan desir aneh yang memaksa jantung dan pembuluh darahku bekerja lebih keras. Seminggu lalu tidak lagi.

"Tolong, kecoak!"

Teriakan itu memaksa pantatku meninggalkan kursi. Aku pernah melihat Eros pingsan gara-gara seekor kecoak terbang dan hinggap di tangannya. Tahu sendiri. Di pasar mana saja pasti ada kecoak. Bukan pasar kalau sepi dari kunjungan kecoak.

Ya. Kecoak seperti tikus dan kucing, lebih memadati pasar dibanding pembeli. Tetapi Eros tidak takut pada tikus atau kucing. Mataku jelingar ke mana-mana. Kursi yang biasa diduduki Eros sudah kusingkirkan. Kecoak merayap tidak ada, kecoak terbang pun tak ada.

Cekikikan Eros membuyarkan lamunanku. "Kukira tetangga kiosku mayat!"

Aku mendengus. Marah tidak, tertawa tidak. Dengan gontai aku kembali ke kiosku. Sekilas kulihat ia menghela napas. Aku tidak peduli. Mau bilang aku sombong, silakan. Mau tuding aku angkuh, ya, biarkan saja. Daripada jantung dan pembuluh darahku meledak.

Tepat ketika pantatku mencium kursi, aku melihat ia melengos. Membalik. Melenggang ke dalam kiosnya. Di dalam kepalaku, jarak sejauh lima meter yang memisahkan kami tak mampu menahan laju tubuhku yang sekilat terbang, lalu memeluk tubuh denoknya dari belakang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun