Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019).

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Trik Swasunting Sederhana yang Penting Dikuasai Bloger

18 Juli 2019   12:37 Diperbarui: 19 Juli 2019   07:53 0 42 21 Mohon Tunggu...
Trik Swasunting Sederhana yang Penting Dikuasai Bloger
Swasunting penting dilakukan sebelum Anda menayangkan artikel| Ilustrasi: Pixabay

Jangan buru-buru pajang tulisan Anda di blog, jangan! Kita sering kali tergoda oleh hasrat tulisan kita segera dilahap pembaca. Salah-salah menjadi bumerang. Alih-alih dilahap, tulisan kita malah dilepeh.

Adalah hak Anda selaku penulis untuk memperlakukan tulisan Anda sekehendak hati. Saya paham itu. Saya juga paham, Anda pasti habis-habisan menyusun kalimat sehingga Anda ingin--menyenangkan hati dengan--segera menyapa pembaca lewat tulisan yang baru saja Anda tata.

Meski begitu, Anda perlu menyadari bahwa pembaca berhak membaca tulisan yang apik. Kalaupun tidak menggugah atau mengubah, setidaknya mereka membaca tulisan yang menyenangkan perasaan dan mengenyangkan pikiran.

Di sinilah pentingnya seorang bloger, termasuk Kompasianer, tidak tergesa-gesa mengeposkan (bukan memposting) tulisan. Sebaiknya tahan diri dulu. Cobalah baca ulang sembari melakukan swasunting (self-editing).

Meskipun Anda tidak pernah belajar ilmu penyuntingan secara formal, Anda tidak perlu berkecil hati. Editologi atau ilmu penyuntingan bisa dipelajari secara autodidak. Ini bukan seruan bombastis karena saya sudah membuktikannya.

Bambang Trim, dalam Memahami Copyediting: Pengantar dan Aplikasi Praktis Editing Naskah untuk Penerbitan Buku (2005, 3), menunjukkan bahwa pendidikan formal terkait dunia penerbitan baru dimulai pada akhir 80-an. Itu pun baru di dua kampus, yaitu Program Studi Editing D-3 di Universitas Padjajaran dan D-3 Penerbitan di Politeknik Negeri Jakarta.

Jadi singkirkan rasa sangsi di hati. Yakin saja bahwa swasunting bisa Anda pelajari. Tinggal memicu gairah dan memacu tekad. Di mana Anda dapat memperoleh bacaan mengenai teknik swasunting? Tidak perlu cemas. Bloger bisa belajar di monitor komputer atau di layar laptop. Bahkan di ponsel.

Mengompori peserta pelatihan untuk menekuri bahasa Indonesia dengan sepenuh cinta | Foto: Endra/Bekraf
Mengompori peserta pelatihan untuk menekuri bahasa Indonesia dengan sepenuh cinta | Foto: Endra/Bekraf
Buat apa narablog belajar swasunting? Bukankah tulisan seamburadul dan seberantakan apa pun bebas diposkan di blog? Jika semata-mata memajang tulisan, jelas bisa. Tidak ada larangan. Akan tetapi, saya percaya bahwa Anda tergolong umat yang selalu tergerak untuk memperbaiki diri dan selalu bergairah untuk bertumbuh dan bertambah.

Lagi pula, Anda bisa "menyelam sambil minum air". Dengan kata lain, terus menulis seraya tetap belajar. Kalau tidak, Anda tidak akan melirik dan membaca trik swasunting sederhana ini. Baiklah, mari kita mulai!

Konsistensi Kata dan Tanda Baca
Pemilihan kata yang tepat akan memudahkan Anda untuk mencurahkan gagasan dan memudahkan pembaca dalam mencerna gagasan Anda. Begitu amanat Datus C. Smith Jr. Dalam A Guide to Book Publishing (1992: 77), Smith menekankan supaya editor (dalam artikel ini berarti penulis yang ingin melakukan swasunting) menjaga konsistensi dalam menggunakan kata dan tanda baca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x