Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Pepuja Hati: @amelwidya

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Fadli Zon, Peluru Tajam, dan Provokasi

23 Mei 2019   22:10 Diperbarui: 24 Mei 2019   01:30 0 35 20 Mohon Tunggu...
Fadli Zon, Peluru Tajam, dan Provokasi
Fadli Zon dan Neno Warisman. | Foto: kumparan

"Apa yang saudara lakukan sesuai dengan konstitusi. Karena itu tidak boleh dilakukan kekerasan, tidak boleh ada provokasi!" 

Begitu seruan politikus Partai Gerindra, Fadli Zon, di hadapan massa yang sedang mengerubungi gedung Bawaslu. Berbalut jaket loreng dan kemeja biru, dikutip Kumparan, Fadli Zon mengimbau para demonstran dengan penuh rasa percaya diri. 

Imbauan Fadli tersebut sangat berarti di tengah suasana setelah pilpres yang amat mencekam. Inti seruannya ada dua. Pertama, tidak boleh ada kekerasan. Kedua, tidak boleh ada provokasi. Dengan demikian, pengunjuk rasa boleh menyampaikan aspirasi selama tidak ada kekerasan dan provokasi.

Beberapa hari sebelumnya, seorang pemuda berkoar ingin memenggal kepala Pak Jokowi. Lokasinya sama, di depan Bawaslu. Tuntutannya serupa, menolak hasil pilpres yang "mereka tengarai" curang. Jelas koar-koar itu mengandung unsur kekerasan dan provokasi.

Barangkali Fadli tidak ingin hal serupa kembali terjadi. Demonstrasi damai satu-satunya pilihan. Demonstrasi damai bisa buyar jika ada pihak yang memprovokasi massa. Kekerasan bisa terjadi kalau massa tersulut. Mungkin Fadli tidak ingin ada korban yang jatuh, baik dari pihak demonstran maupun polisi.

Sayang sekali, imbauan itu tidak moncer. Seruan tersebut masuk di kuping kanan langsung keluar di kuping kiri. Kekerasan tetap ada, provokasi tetap terjadi. Bahkan, ujung-ujungnya rusuh sampai ada korban yang jatuh.

Maklumat Fadli bagai ayam tanpa taji. Tidak diindahkan, tidak diacuhkan. Fasilitas umum rusak di beberapa titik. Bahkan tersiar kabar perusuh menjarah dagangan wong cilik. Kerugian korban yang jualannya digasak perusuh mencapai puluhan juta.

Mengapa seruan Fadli tidak ditanggapi oleh massa? Itu pertanyaan receh. Tidak mudah mengelola massa yang api benci di hatinya sudah disulut selama berbulan-bulan. Tidak gampang mengatur massa yang bara sirik di hatinya sudah disulut selama berbulan-bulan. Dan, salah seorang penyulutnya justru Fadli sendiri.

Sederhananya begini. Dalam hal provokasi, Fadli termasuk biang. Jarinya jago, lidahnya lincah. Hasutannya kadang lebih tajam daripada peluru. Jika kita mau berpikir jernih, salah satu sebab kenapa massa mendatangi Bawaslu merupakan akibat dari provokasi Fadli dan gerombolannya.

Andai kata Pak Prabowo, termasuk orang-orang di sekitarnya, tidak terburu-buru mendeklarasikan kemenangan, mungkin saja unjuk rasa tidak bakal terjadi. 

Sekiranya kampanye "KPU curang" tidak digaungkan, besar kemungkinan tidak ada demonstrasi. Andai saja kubu Kertanegara tidak rajin membakar emosi pendukung, ricuh di kawasan Tanah Abang tidak akan terjadi.

Bolehlah Fadli dan rekannya bersikukuh bahwa memang ada kecurangan. Itu sah, kok. Namun, buktikan kecurangan itu. Ajukan tuntutan atau gugatan ke MK seperti seruan Pak Prabowo. Jangan suara sampai serak gara-gara meneriakkan curang, tetapi tidak bisa membuktikan kecurangan itu. 

Lebih lucu lagi, meminta supaya pasangan Jokowi-Amin didiskualifikasi. Pilpres itu ada aturannya. Fadli dan geng ada di balik penyusunan dan pengesahan aturan tersebut. Susun sendiri, langgar sendiri. Ini bentuk provokasi ajaib yang menggelikan. 

Selain itu, sentimen agama dijadikan bensin untuk menjawil simpatisan. Apa-apa takbir, sedikit-sedikit takbir. 

Materi kampanye hitam pun tidak jauh dari agama. Kalaupun bukan agama, pasti sentimen suku atau ras. Keburukan lawan dikeruk hingga tersisa kerak, kebaikan lawan ditimbun hingga tak terlihat sedikit pun. Seluruh seruan selalu diakhiri "Tuhan akan menolong kita" atau yang semacamnya. Bagaimana kalau Tuhan justru menolong pihak Pak Jokowi? 

Pikiran jernih rakyat akhirnya sekarat. Banyak yang termakan provokasi. Ajaibnya, demonstrasi yang digadang-gadang damai malah berakhir ricuh. Fadli dan kolega mangkir dan cuci tangan. Hari ini bilang A, besok-besok jadi Z. Lupa mereka bahwa drama picisan dengan skenario abal-abal mudah tersingkap pada zaman digital ini.

Meski Fadli mati-matian menyatakan kubu Kertanegara tidak ada kaitannya dengan perusuh, faktanya ada mobil ambulans berlogo Gerindra yang kedapatan mengangkut batu dan senjata tajam. Belum lagi sitaan uang berjumlah jutaan rupiah yang belum sempat dibagi-bagi.

Perusuh biasanya pesuruh alias suruhan. Pesuruh atau yang disuruh pasti menyertakan penyuruh atau yang menyuruh. Yang disuruh kemungkinan besar mau melakukan sesuatu karena ada iming-iming. Di sinilah korelasi antara suruhan dan bayaran.

Itu sekadar seluk-beluk kata "perusuh" yang kemungkinan besar merangkap "pesuruh". Artinya, para perusuh itu boleh jadi orang-orang suruhan. Rasa-rasanya mustahil 200-an perusuh yang kini berurusan dengan polisi ujuk-ujuk muncul dari perut bumi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2