Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Pepuja Hati: @amelwidya

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Titiek "Halusinasi" Soeharto

21 Mei 2019   00:35 Diperbarui: 21 Mei 2019   00:49 0 40 9 Mohon Tunggu...
Titiek "Halusinasi" Soeharto
Ibu Titiek Soeharto dan mantannya. | Foto: IDN Times

Seseorang yang pernah berjaya di masa lalu cenderung ingin mengembalikan kejayaan itu. Titiek Soeharto juga begitu.

Belakangan ini, jagad media sosial riuh karena celoteh emak-emak yang pernah jaya pada era Orde Baru. Mantan istri Capres 02 itu memang lumayan rajin berkicau di Twitter. Tentu saja banyak cuitannya yang menangguk keruh dan menanggung kisruh.

Netizen pendukung Pak Prabowo jelas menyukai celutukan beliau, tidak peduli salah atau keliru. Kok, salah atau keliru? 

Ah, itu analisis receh saya. Jadi, tidak usah ditanggapi serius. Apalagi sangat serius. Meski begitu, saya tertarik menyisir alir pikir Ibu Titiek. Memang menarik karena beliau seolah sedang berdiri tegak di depan cermin, kemudian komentar-komentarnya seakan tertuding kepada dirinya sendiri.

Malah ada indikasi kurang ajar, kualat, atau durhaka, lantaran Ibu Titiek dengan sengaja menahbiskan bokapnya sebagai "pelaku kecurangan". Persis seperti adiknya, Tommy Soeharto, yang pernah mendaulat babenya sebagai "mahaguru korupsi".

Mengapa saya menyebut beliau kurang ajar kepada Presiden RI kedua? Kenapa pula saya menyatakan beliau kualat? Bagaimana bisa Ibu Titiek saya tuding sebagai anak durhaka? Oke, saya beberkan alasan saya dengan lugas dan tandas.

Menilai Pak Harto Curang

Pada Jumat (17/5) di Rumah Perjuangan Rakyat Jakarta, Ibu Titiek menyatakan bahwa Pemilu 2019 lebih curang dibanding Pemilu pada masa Pak Harto.

Titik tilikan makna pesan bukan pada pemilu tahun ini, melainkan pada tahun pembanding. Tanpa tedeng aling-aling, Ibu Titiek mengakui bahwa pemilu pada era Orde Baru itu curang.

Saya, sebagai generasi kelahiran 1970-an, ikut merasakan geletar kecurangan itu. Saya melihat sendiri betapa pemilu pada zaman keemasan Pak Harto sudah diketahui pemenangnya jauh sebelum pemilu berlangsung.

Pilpres tahun ini? Jelas tidak demikian. Bahkan tatkala lembaga survei melansir hasil hitung cepat, Pak Prabowo dan kubunya punya hitung-hitungan sendiri. Menjelang akhir hitung manual di KPU pun, kubu Pak Prabowo masih yakin menang. Jelas berbeda, kan?

Bayangkan seandainya Prabowo-Sandi jadi oposan pada zaman Pak Harto. Bayangkan Ibu Titiek menggerundel pada zaman Orba. Bayangkanlah!

Saya saja, berikut beberapa kerabat, yang dulu ogah memilih Golkar cukup lama menikmati betapa kuatnya tekanan penguasa dan konco-konconya. Saking kuatnya tekanan itu sampai-sampai tidak dapat saya singkirkan dari ingatan. Bahkan saya cantumkan ke dalam novel saya, Natisha.

Berbekal ingatan itulah saya berani menyatakan bahwa Ibu Titiek telah bersikap kurang ajar kepada almarhum ayahnya. Biarlah orang lain menuduh bokap curang, anak sendiri janganlah ikut-ikutan. Toh selama ini doi hidup dari harta yang ditimbun puluhan tahun atas jasa babenya.

Tidak terbayangkan bila saja Pak Harto bangkit dari kubur untuk menjitak putri keduanya itu. Uh! 

Halusinasi dan Syahwat Kuasa

Meski begitu, kita seharusnya membuka hati untuk memaklumi sikap Ibu Titiek. Cobalah pikirkan apa yang akan kita lakukan andaikan kita berada di pihak beliau. Apalagi menjadi beliau.

Sungguh mengenaskan andai kata Pak Prabowo gagal menjadi Presiden RI yang kedelapan. Nasib baik akan menjauhi Ibu Titiek. Istana Kertanegara memang ada, tetapi itu berbeda dengan Istana Negara.

Mari kita lihat sisi lain. Melalui Partai Berkarya, sebuah partai yang dibangun oleh kroni Pak Harto, beliau berhasrat meraih kursi di Senayan. Nama besar orangtua, modal harta luar biasa, dan sisa-sisa pengaruh ternyata tidak mumpuni.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2