Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara Pepuja Hati: @amelwidyaa

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Patung Dewa Hermes dan Otak Sangek

17 April 2019   01:28 Diperbarui: 19 April 2019   01:20 1192 25 11
Patung Dewa Hermes dan Otak Sangek
Patung Dewa Hermes di Harmoni | Foto: detiktravel/Kurnia

Dewa Hermes. Badannya atletis, gerakannya sigap, dan tutur katanya runut. 

Ayahnya, Dewa Zeus, adalah penguasa Gunung Olimpus. Ibunya, Nimfa Maia, si peri jelita. Tugas utamanya adalah Juru Kabar atau Penyampai Berita. Dengan kata lain, Hermes merupakan jembatan komunikasi antara penguasa bumi di Gunung Olimpus dengan penduduk bumi.

Sebagai Juru Kabar yang sibuk bolak-balik dari Olimpus ke Bumi, Hermes dikarunia topi dan sepatu bersayap sebagai simbol kecekatan dan kecepatan. Sebuah tongkat berlilit sepasang ular selalu tercengkam erat di tangan kirinya. Ia juga punya tas kecil atau dompet yang selalu menyertai kelananya.

Hermes juga kerap disebut Yupiter dalam mitologi Yunani dan Merkurius dalam mitologi Romawi. Karena kecerdasannya, ia acap dianggap dewa pelindung sastrawan. Karena kegesitannya, ia didapuk sebagai pelindung atlet dan pengelana. Karena kepiawaiannya bernegosiasi, ia didaulat sebagai Pelindung Perniagaan atau Sang Keberuntungan.

Pengabadian Dewa Hermes dalam bentuk patung tidak hanya ada di Yunani dan Italia, tetapi juga di Indonesia. Ratusan tahun silam ia tiba di Indonesia, kala itu masih bernama Hindia Belanda, dalam bentuk patung perunggu yang telanjang.

Bagaimana kisah perjalanan patung Dewa Hermes hingga tiba di Indonesia?

Koleksi Saudagar Keturunan Jerman

Karl Wilhelm Stolz. Ia seorang saudagar kelahiran Jerman yang berdagang peranti logam, barang pecah belah, dan benda artistik. Ia malang melintang berniaga di Banjarmasin dan Sibolga. Hingga aroma laba tercium olehnya dari arah Kota Batavia (sekarang Jakarta), maka pindahlah ia ke Batavia.

Akhirnya Stolz memutus masa jomlonya. Pada 1897 ia menikahi Matilda Jenny, seorang Swiss, di Kota Buitenzorg (sekarang Bogor). Tiga tahun setelah menikah, 1890, Karl dilimpahi kewarganegaraan Belanda. Ia pun membuka toko bernama Jenny & Co di Jalan Veteran (dulu Rijswijksestraat).

Perniagaan Stolz berkembang sangat pesat. Tidak heran jika dalam waktu singkat ia sudah memiliki cabang di Surabaya dan Semarang. Namanya berkibar, niaganya bersinar. Pada 1920 ia berlayar ke Hamburg untuk urusan dagang. Di sanalah ia membeli patung Dewa Hermes.

Setiba di Batavia, Stolz mengurungkan niat untuk memajang patung Dewa Keberuntungan itu di tokonya. Malah ia pajang patung artistik itu di pekarangan rumahnya di bilangan Jatinegara (dulu Meester Cornelis). Jenny, istrinya, tidak menyukai patung tersebut. 

Menurut Jenny, patung Juru Kabar itu terlihat cabul. Tak sedap dipandang mata, tak elok diperam benak.

Selisih paham antara istri dan suami tidak terelakkan. Sang istri ngeyel agar patung itu dijual atau dibuang saja, sang suami ngotot terus menyimpan putra kesebelas Dewa Zeus itu. Namun, Stolz lebih peduli pada si patung. Hingga Jenny wafat pada 1930 di Den Haag, patung Hermes masih berdiri telanjang di pekarangan rumah.

Setelah pujaan hatinya mangkat, Stolz nelangsa tiada terkira. Bahkan ia kehilangan semangat berdagang. Toko dan rumahnya ia jual. Akan tetapi, ia tidak menjual patung Hermes. Patung itu ia serahkan kepada Pemerintah Hindia Belanda sebagai ucapan terima kasih karena diizinkan berdagang di Batavia.

Stolz meninggal di Semarang.

Jembatan Harmoni di Masa Batavia

Pemerintah Hindia Belanda tengah getol mempercantik Batavia ketika Stolz menyerahkan patung Dewa Ketangkasan. 

Pucuk dicinta, ulam yang tiba. Dewa Hermes diangkut dari pekarangan rumah Stolz ke Pusat Niaga Harmoni. Patung itu dipajang di mulut jembatan, di tepi sodetan Kali Ciliwung, menghadap ke jalan dan memunggungi kali.

Nasib sang patung aman di sana. Para saudagar di kawasan Harmoni tidak menganggap sang patung selaku pengumbar syahwat atau pemajang aurat. Malah mereka menganggap sang patung sebagai perlambang jembatan menuju keberuntungan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2