Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara Pepuja Hati: @amelwidyaa

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Kiat Menulis Surat Dinas

2 April 2019   11:00 Diperbarui: 2 April 2019   12:25 0 13 6 Mohon Tunggu...
Kiat Menulis Surat Dinas
Dokumentasi Pribadi

Sebenarnya menulis surat resmi atau surat dinas bukanlah pekerjaan yang berat, apalagi bagi mereka yang sudah terbiasa. Meski begitu, kekeliruan penulisan masih kerap terjadi.

Tulisan sepele ini bermula dari cuitan Ivan Lanin, wikipediawan, tentang kalimat pembuka dan penutup surat dinas pada 22 Maret 2019 di Twitter. Meski begitu, hasrat mengudar perkara salah kaprah yang kerap muncul dalam surat dinas sebenarnya sudah terpantik sejak dua bulan lalu.

Kala itu, 30 Januari 2019, Kemenpora mengimbau pengelola bioskop agar memutar lagu Indonesia Raya sebelum film ditayangkan. Dengan demikian, penonton di bioskop mesti berdiri dan bernyanyi sebelum menikmati tayangan film. Selang dua hari kemudian, beliau mencabut surat imbauan itu.

Saya tercenung setelah menyigi imbauan tersebut dengan saksama, walaupun akhirnya saya menyadari bahwa tidak semua juru tulis, kerani, kelerek, atau sekretaris paham seluk-beluk surat dinas.

Coba kita tilik kutipan berikut.

Dalam rangka meningkatkan rasa nasionalisme dan mewujudkan generasi muda yang bangga serta cinta pada tanah air, dengan ini kami menghimbau kepada para pengelola bioskop di seluruh Indonesia untuk dapat memutarkan sekaligus menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum berlangsungnya setiap pemutaran film.

Berdasarkan nukilan di atas, beberapa catatan segera menyentak benak saya. Pertama, kata rasa sebelum nasionalisme sebenarnya tidak perlu ada. Mengapa? Sebab nasionalisme itu paham atau kesadaran sehingga tidak perlu didahului oleh kata rasa. Kedua, penggunaan menghimbau. Kata dasar yang tepat adalah imbau. Bentukannya mengimbau, diimbau, atau pengimbau. 

Ketiga, penggunaan kepada sebelum para pengelola. Kata mengimbau sepadan dengan memanggil atau menyeru. Dalam hal ini, sudah jelas bahwa imbauan dari pihak yang mengimbau ditujukan kepada pihak yang diimbau. Jadi, tidak perlu ada kata kepada.

Hal serupa kerap terjadi pada ragam lisan seperti menuju ke rumah. Mestinya cukup menuju rumah atau ke rumah. Kebiasaan pada ragam takresmi atau cakapan akhirnya terbawa-bawa ke ragam resmi.

Keempat, penggunaan dua maklumat secara bersamaan. Inti imbauan dalam paragraf di atas adalah memutarkan dan menyanyikan. Pada mulanya, target utama imbauan adalah pemilik bioskop memutar lagu dan generasi muda ikut menyanyikan. Fakta berbeda dalam isi surat karena para pengelola bioskop diimbau supaya memutarkan sekaligus menyanyikan. Makna kalimatnya jelas: pihak yang diimbau menyanyi adalah para pengelola bioskop. Aneh, kan? 

Selanjutnya, saya coba mengulik-ulik alinea di atas menjadi seperti paragraf di bawah ini.

Dalam rangka meningkatkan nasionalisme dan mewujudkan generasi muda yang cinta tanah air, dengan ini kami mengimbau para pengelola bioskop di seluruh Indonesia agar memutarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum menayangkan film, supaya penonton di bioskop--terutama generasi muda--turut menyanyikannya.

Selain itu, kalimat yang digunakan mestinya sejajar dan sederajat. Perhatikan runtun kata meningkatkan-mewujudkan-mengimbau-memutarkan-menayangkan- dan menyanyikan. Kata pemutaran saya sunting menjadi menayangkan supaya tercipta kesejajaran dan kesederajatan kata.

Rangkaian alinea di atas sebenarnya hanya pembuka tulisan ini. Tidak dapat dimungkiri, masih banyak surat resmi yang, sengaja atau tidak, mengabaikan penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Saya berharap, moga-moga pembaca tidak menggolongkan pembuka tulisan ini sebagai tindakan mengumbar kesalahan sebuah lembaga. Niat saya sebatas menyuguhkan contoh dan saya berharap mudah-mudahan niat tersebut berterima di hati pembaca.

Apakah Surat Dinas Itu?

Tak kenal maka tak sayang. Tentu kita semua sudah akrab dengan kalimat tersebut. Namun, adakah semua penganggit surat dinas sudah mengenal, memahami, dan menyelami arti dan faedah surat dinas? Sebaiknya kita berbaik sangka saja. Kita anggap saja mereka sudah khatam terkait tetek bengek surat dinas atau surat resmi lainnya.

Meski begitu, saya ingin menyajikan makna surat dinas menurut Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 80 Tahun 2012 tentang Pedoman Tata Naskah Dinas Instansi Pemerintah. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa surat dinas adalah naskah dinas pelaksanaan tugas pejabat dalam menyampaikan informasi kedinasan kepada pihak lain.

Hal serupa tertuang pada Pasal 89 Peraturan Arsip Nasional Republik Indonesia No. 7 Tahun 2018 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan Arsip Nasional Republik Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3