Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara Pepuja Hati: @amelwidyaa

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Penyair dan Api Neraka

13 Desember 2018   03:32 Diperbarui: 13 Desember 2018   16:05 2483 35 18
Penyair dan Api Neraka
Dokumentasi Pribadi

Benarkah arti "penyair" adalah "orang yang membuat syair"? 

Sudah lama sekali pertanyaan itu mendera benak saya. Lantas, apa hubungannya dengan "api neraka"? Tenang, jangan panik atau marah-marah. Kendurkan dulu syaraf yang regang. Bukan kendorkan, ya.

Sudah tenang, kan? Oke. Terima kasih karena tidak merawat sumbu pendek sehingga gampang tersulut. 

Baiklah. Saya harus mengakui bahwa judul tulisan ini sedikit kontroversial, sebab secara sengaja saya sandingkan "penyair" dengan "api neraka". Barangkali ada di antara kalian yang bertanya-tanya, bahkan sedikit gusar. Tidak apa-apa. Sedikit doang, kok. 

Sempat tebersit di benak saya untuk mengajak kalian menengok nasib beberapa pujangga yang dituduh sesat atau menganjurkan kesesatan. Akan tetapi, tulisan ini amat ringkas untuk mengudar perkara sebesar itu. Lagi pula, tulisan remeh ini hanya ingin mempertanyakan kata tertentu.

Nah, sekarang mari kita bincangkan beberapa kata yang kerap salah pakai.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Pertama, antara konveksi dan konfeksi. Mungkin kita jarang memperhatikan pertukaran dua kata tersebut. Mungkin kita mengira dua kata itu sebenarnya cuma satu, lalu keliru melafalkannya, dan kesalahan pelafalan kemudian membuat kita juga salah dalam penulisan.

Tidak, ya, tidak sesederhana itu. Kata "konveksi" dan "konfeksi" bukan kata yang semakna. Kata pertama bermakna "peristiwa gerakan benda cair atau karena perbedaan suhu atau tekanan". Jadi, jangan sembarangan memakai kata "konveksi".

Mengapa tidak boleh sembarangan? Huruf /v/ dalam kata "konveksi" di plang perusahaan yang memproduksi pakaian secara massal sebenarnya keliru. Mestinya "konfeksi" jikalau perusahaan tersebut memproduksi baju atau pakaian secara massal.

Kedua, mawas dan wawas. Banyak yang mengira "mawas diri" berarti introspeksi. Sejak saya remaja, kesalahan itu sudah terjadi. Padahal, gabungan kata yang tepat adalah "wawas diri". Mengapa keliru? Karena kata "mawas" sebenarnya adalah salah satu jenis orang hutan.

Sekarang mari kita uji lebih sederhana. Pernahkah kalian mendengar atau membaca kata "mawasan"? Saya yakin kalian akan menggeleng. Memang benar. Kata yang kerap kita dengar atau baca adalah "wawasan". Nah, dari kata itu muncullah wawasan wiyata mandala.

Kata "wawas" diserap dari bahasa Jawa yang berarti amati, tinjau, atau teliti. Jika kita merenung dalam-dalam untuk meninjau kesalahan dan mengamati kekurangan diri, itulah "wawas diri". Mungkin masih  ada orang yang ngeyel memakai "mawas diri". Biarkan saja. Barangkali orang itu tidak mau disebut manusia karena menyangka dirinya orang hutan. 

Ketiga, sendawa dan serdawa. Kedua kata itu getol sekali saya cuitkan di Twitter. Kadang kita keliru mengira bunyi yang keluar dari kerongkongan karena masuk angin atau kenyang sesudah makan disebut "sendawa". Padahal, kata yang tepat adalah "serdawa".

Apakah makna kata sendawa? Sendawa termasuk bahan kimia. Maknanya jauh panggang dari api, kan? Jelas, sebab sendawa biasa digunakan sebagai bahan campuran pembuatan mesiu. 

Jadi, orang yang mengeluarkan bunyi dari kerongkongan setelah makan tidak bisa disebut "sendawa". Sekali lagi, kata yang tepat adalah serdawa.

Keempat, petinju dan peninju. Mengapa keduanya tidak disamakan saja? Bukankah huruf /t/ harus lesap tatkala dibubuhi awalan "pe-"? Bukankah penakut tidak disebut petakut? Jawaban untuk pertanyaan ini agak panjang. Ingat, "agak panjang" bukan berarti benar-benar panjang.

Proses pembentukan kata turunan itu ada aturan mainnya. 

Ambil contoh kata "ajar". Kata ini termasuk lengkap proses pembentukan kata turunannya. Mari kita tilik. Ada dua proses pembentukan kata turunan dari kata dasar ajar, yakni (1) belajar, pelajar, dan pelajaran; (2) mengajar, pengajar, dan pengajaran.

Sekarang kita ulas kata peninju dan petinju. Kedua kata itu berasal dari rahim yang sama, yakni tinju. Proses pembentukan kata turunannya adalah (1) bertinju, petinju, dan pertinjuan; (2) meninju, peninju, dan peninjuan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2